today07/05/2026

Bensradio.com – Perkawinan adat Betawi menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang masih lestari hingga saat ini. Tradisi pernikahan khas masyarakat Betawi tidak hanya menampilkan kemeriahan acara, tetapi juga menyimpan filosofi mendalam tentang kehidupan rumah tangga, penghormatan keluarga, serta nilai religius.
Setiap prosesi dalam pernikahan adat Betawi memiliki simbol dan makna tersendiri. Mulai dari tahap perkenalan, lamaran, ritual sebelum akad, hingga tradisi setelah menikah, semuanya mencerminkan identitas budaya Betawi yang kuat dengan pengaruh Islam yang kental.
Tahap pertama dalam perkawinan adat Betawi disebut ngedelengin. Pada fase ini, calon pasangan mulai saling mengenal, baik secara langsung maupun melalui perantara keluarga.
Dalam budaya Betawi tempo dulu, proses perkenalan sering dibantu oleh Mak Comblang yang bertugas mencari kecocokan antara kedua calon mempelai. Tradisi unik lainnya adalah menggantung ikan bandeng di depan rumah calon mempelai wanita sebagai tanda ketertarikan dari pihak pria.
Jika kedua keluarga merasa cocok, maka dilanjutkan dengan prosesi ngelamar atau lamaran resmi. Keluarga pria datang membawa berbagai simbol adat seperti:
Dalam tahap ini juga dibahas berbagai hal penting, termasuk mahar atau cingkrem, biaya resepsi, serta kebutuhan acara pernikahan.
Setelah lamaran diterima, pihak pria memberikan tanda ikatan berupa cincin belah rotan dalam tradisi bawa tande putus. Prosesi ini menandakan bahwa calon pengantin wanita telah resmi dipinang dan tidak dapat diganggu gugat oleh pihak lain.
Menjelang akad nikah, terdapat sejumlah ritual yang bertujuan mempersiapkan calon pengantin secara fisik dan mental.
Calon pengantin wanita menjalani masa pingitan dan dirawat secara khusus agar tampil prima saat hari pernikahan.
Siraman dilakukan sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.
Tangas merupakan mandi uap tradisional menggunakan rempah-rempah untuk membersihkan tubuh dan memberikan kesegaran alami.
Prosesi ngerik dilakukan dengan menghilangkan bulu-bulu halus menggunakan uang logam sebagai simbol kecantikan dan kebersihan diri.
Pada malam pacar, kuku pengantin dihias menggunakan pacar atau henna sebagai lambang keindahan dan kebahagiaan.
Puncak perkawinan adat Betawi adalah akad nikah. Rombongan mempelai pria biasanya datang menggunakan delman hias dan disambut meriah dengan petasan.
Sebelum memasuki rumah mempelai wanita, rombongan pria harus melewati tradisi palang pintu yang sangat terkenal dalam budaya Betawi. Tradisi ini meliputi:
Palang pintu menjadi simbol kesiapan mempelai pria dalam melindungi dan membimbing keluarganya, baik secara fisik maupun spiritual.
Busana pengantin wanita Betawi memiliki ciri khas yang mewah dan sarat makna, di antaranya:
Sementara pengantin pria mengenakan:
Busana adat Betawi melambangkan kesucian, keharmonisan, dan harapan rumah tangga yang damai serta sejahtera.
Dalam tradisi ini, pengantin pria memberikan uang tegor secara simbolis kepada pengantin wanita sebagai bentuk kasih sayang dan penghormatan.
Tiga hari setelah pernikahan, keluarga pria mengirim bahan makanan ke rumah keluarga wanita sebagai simbol kebahagiaan dan penerimaan dalam keluarga besar.
Perkawinan adat Betawi bukan hanya seremoni budaya, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan, religiusitas, penghormatan terhadap keluarga, dan tanggung jawab dalam membangun rumah tangga.
Hingga kini, tradisi pernikahan Betawi masih terus dilestarikan sebagai bagian penting dari identitas budaya Indonesia.
Written by: RAIHAN SYARIF

Post comments (0)