today08/11/2026


Petani melakukan aktivitas budi daya dan pemanenan cabai di lahan pertanian untuk mendukung ketersediaan pasokan pangan.
Bensradio.com – TANGERANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang, Banten, mendorong petani lokal untuk meningkatkan produksi cabai guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Langkah ini menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam menjaga ketersediaan pasokan sekaligus menekan laju inflasi, menyusul kenaikan harga cabai yang terjadi di sejumlah wilayah akibat pengaruh musim kemarau.
Kenaikan harga cabai menjadi perhatian pemerintah daerah karena komoditas tersebut merupakan salah satu kebutuhan pangan yang banyak digunakan masyarakat sehari-hari. Perubahan harga di tingkat pasar pun dapat memberikan pengaruh terhadap pengeluaran rumah tangga dan perkembangan inflasi daerah.
Asisten Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Tangerang, Ruta Ireng Wicaksono, mengatakan bahwa kenaikan harga cabai tidak hanya terjadi di Kota Tangerang, tetapi juga berlangsung secara serentak di sejumlah daerah lainnya.
Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan langkah antisipasi agar ketersediaan komoditas tetap terjaga dan kenaikan harga tidak semakin membebani masyarakat.
Salah satu langkah yang dilakukan Pemkot Tangerang adalah mendorong masyarakat untuk mengembangkan kegiatan urban farming atau pertanian perkotaan. Melalui program tersebut, warga diajak memanfaatkan lahan yang tersedia di sekitar tempat tinggal untuk menanam berbagai kebutuhan pangan, termasuk cabai.
Pemkot Tangerang juga menyediakan kemudahan bagi masyarakat yang ingin mulai menanam cabai secara mandiri. Bibit cabai dapat diperoleh secara gratis melalui Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Tangerang.
Ruta menjelaskan, berdasarkan data inflasi Oktober, Kota Tangerang mencatat angka inflasi sebesar 2,13 persen. Sementara itu, cabai merah mengalami inflasi sebesar 20,42 persen dan cabai rawit sebesar 4,48 persen. Kedua komoditas tersebut menjadi salah satu penyumbang yang mendominasi perkembangan inflasi sejak periode sebelumnya.
“Data inflasi bulan Oktober sebesar 2,13 persen, harga cabai merah mengalami inflasi sebesar 20,42 dan cabai rawit sebesar 4,48 yang mendominasi sejak periode bulan sebelumnya,” kata Ruta.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kota Tangerang masih menjadi daerah dengan angka inflasi terendah di Provinsi Banten. Inflasi secara tahunan atau year on year (yoy) tercatat sebesar 2,13 persen, sedangkan inflasi bulanan atau month to month (mtm) berada di angka 0,16 persen.
Adapun Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Tangerang tercatat sebesar 110,52. Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat perkembangan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.
Meski angka inflasi Kota Tangerang masih relatif terkendali dibandingkan daerah lain di Provinsi Banten, pemerintah daerah tetap mewaspadai pergerakan harga sejumlah komoditas pangan, terutama menjelang akhir tahun.
Ruta mengatakan, pemantauan harga dan ketersediaan pasokan akan terus dilakukan untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga yang dapat memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat.
“Namun, Pemkot Tangerang terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan harga sekaligus ketersediaan pasokan untuk menjaga stabilitas menuju akhir tahun nanti,” ujarnya.

Optimalisasi Kelompok Wanita Tani
Selain mengajak masyarakat menanam cabai secara mandiri, Pemkot Tangerang juga mengoptimalkan keberadaan kelompok wanita tani (KWT) sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan di lingkungan perkotaan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Tangerang, Muhdorun, mengatakan saat ini terdapat 76 kelompok wanita tani yang berpotensi mendukung peningkatan produktivitas pangan sekaligus mendorong kemandirian masyarakat.
Keberadaan kelompok tersebut dinilai penting karena kegiatan pertanian tidak harus selalu dilakukan di lahan yang luas. Dengan pengelolaan yang tepat, pekarangan rumah maupun lahan bersama masih dapat dimanfaatkan untuk menanam berbagai komoditas pangan dan hortikultura.
Melalui KWT, perempuan juga mendapatkan kesempatan untuk berperan lebih aktif dalam kegiatan pertanian. Aktivitasnya mencakup pemanfaatan lahan, proses budi daya tanaman, hingga pengembangan potensi pangan yang dapat memberikan manfaat langsung bagi lingkungan sekitar.
“Melalui kelompok ini, perempuan memperoleh ruang untuk terlibat aktif dalam kegiatan pertanian, mulai dari pemanfaatan lahan, budi daya tanaman, hingga pengembangan potensi pangan di lingkungan tempat tinggal,” kata Muhdorun.
Ia menjelaskan, keterbatasan ruang di kawasan perkotaan bukan menjadi penghalang bagi masyarakat untuk menjalankan kegiatan pertanian. Pemanfaatan pekarangan rumah dan lahan yang tersedia dapat menjadi alternatif untuk menghasilkan kebutuhan pangan secara mandiri.
Selain membantu menyediakan bahan pangan bagi keluarga, kegiatan KWT juga memiliki manfaat dari sisi ekonomi. Hasil budi daya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehingga masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pembelian komoditas di pasar.
Apabila dikelola secara produktif, hasil pertanian tersebut juga berpeluang dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi keluarga.
“Selain mendukung ketersediaan pangan, kegiatan KWT turut mendorong partisipasi perempuan dalam pembangunan ekonomi keluarga. Hasil budi daya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang memberikan nilai tambah,” jelasnya.
Pertanian Perkotaan Jadi Upaya Memperkuat Ketahanan Pangan
Dorongan terhadap pertanian perkotaan menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk memperkuat ketahanan pangan di tengah perubahan harga komoditas. Dengan semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam kegiatan budi daya, kebutuhan pangan tertentu diharapkan dapat dipenuhi sebagian dari hasil produksi lingkungan sendiri.
Bagi Kota Tangerang, pengembangan urban farming dan optimalisasi kelompok wanita tani tidak hanya berkaitan dengan aktivitas bercocok tanam. Program tersebut juga diarahkan untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kemandirian pangan.
Produksi cabai dari petani lokal dan kegiatan pertanian masyarakat diharapkan dapat ikut mendukung ketersediaan pasokan di tingkat daerah. Dengan begitu, ketergantungan terhadap pasokan dari luar wilayah dapat dikurangi secara bertahap.
Meski demikian, pemantauan harga dan distribusi komoditas tetap menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas pangan. Ketersediaan hasil pertanian lokal perlu didukung dengan pengelolaan pasokan yang baik agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.
Melalui berbagai langkah tersebut, Pemkot Tangerang berharap keterlibatan petani lokal, kelompok wanita tani, dan masyarakat perkotaan dapat semakin kuat. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan pangan serta mengantisipasi tekanan inflasi akibat kenaikan harga komoditas cabai.
Written by: Dimas Galoh Maulana

Post comments (0)