play_arrow

keyboard_arrow_right

Listeners:

Top listeners:

skip_previous skip_next
00:00 00:00
chevron_left
  • cover play_arrow

    Bens Radio 106.2 FM Jakarta

Kabar Anget

ICAD 16 Hadirkan “Being: Becoming”, Pertemukan Seni dan Desain dari 12 Negara

today26/10/2026

Background
share close

Bensradio.com – JAKARTA – Pameran Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) kembali menyapa publik melalui penyelenggaraan edisi ke-16 yang berlangsung pada 8 Oktober hingga 8 November 2026 di grandkemang Hotel, Jakarta Selatan. Mengusung tema Being: Becoming, ICAD 16 menghadirkan karya seni dan desain yang mempertemukan beragam perspektif, pengalaman, serta gagasan kreatif dari Indonesia dan berbagai negara.

Tahun ini, ICAD tidak hanya menjadi ruang untuk menikmati karya visual, tetapi juga mengajak pengunjung melihat lebih jauh bagaimana manusia memahami dirinya, menghadapi perubahan, dan membangun hubungan dengan lingkungan di sekitarnya.

Melalui karya lebih dari 40 seniman, desainer, dan praktisi kreatif, pameran ini mengangkat berbagai isu yang dekat dengan kehidupan masa kini. Mulai dari kekuasaan, ingatan budaya, perkembangan teknologi, hingga pengalaman personal, semuanya menjadi bagian dari percakapan yang dibangun melalui seni dan desain.

Tema Being: Becoming menjadi landasan untuk mengeksplorasi hubungan antara kondisi saat ini dan berbagai kemungkinan yang dapat terbuka di masa mendatang. Gagasan tersebut mengajak publik memahami bahwa proses menjadi bukan sekadar perubahan, melainkan perjalanan untuk menafsirkan ulang pengalaman dan menemukan ruang bagi kebebasan individu.

Being: Becoming, Membaca Ulang Proses Menjadi

Dalam ICAD 16, konsep being merujuk pada keadaan atau posisi seseorang pada saat ini. Sementara itu, becoming menggambarkan proses berkembang, berubah, dan membuka kemungkinan baru yang melampaui keadaan tersebut.

Keduanya menjadi gagasan utama yang menghubungkan berbagai karya dalam pameran. Melalui pendekatan yang beragam, para seniman dan desainer menawarkan cara pandang untuk memahami bagaimana identitas, lingkungan sosial, sejarah, dan perkembangan zaman ikut membentuk kehidupan manusia.

Kurator ICAD 16, Putra Hidayatullah, memandang proses menjadi sebagai perjalanan yang melibatkan negosiasi dengan berbagai kekuatan yang membentuk diri seseorang. Di dalamnya terdapat upaya untuk membayangkan kemungkinan lain sekaligus mempertahankan hal-hal yang dianggap penting.

“Proses menjadi, dengan demikian, adalah tentang bernegosiasi dengan kekuatan yang membentuk kita, membayangkan kemungkinan lain, serta mengambil—atau mengambil kembali, meski hanya sekejap—kebebasan yang dibutuhkan untuk sekadar ‘ada’, sambil membawa fragmen yang kita tolak untuk hilang,” ujar Putra Hidayatullah.

Gagasan tersebut memberikan ruang bagi pengunjung untuk menafsirkan karya berdasarkan pengalaman masing-masing. Seni tidak ditempatkan semata-mata sebagai objek untuk dilihat, tetapi juga sebagai medium yang dapat memunculkan pertanyaan, menghadirkan ingatan, dan membuka percakapan mengenai kehidupan.

Menghadirkan Perspektif Kreatif dari 12 Negara

Salah satu hal yang menonjol dalam ICAD 16 adalah keberagaman latar belakang para seniman dan praktisi kreatif yang terlibat. Pameran ini menghadirkan partisipasi dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Thailand, Brunei Darussalam, Jepang, Korea Selatan, Palestina, Turki, Prancis, Belanda, Uganda, dan Amerika Serikat.

Pertemuan lintas negara tersebut memperlihatkan bagaimana seni dan desain dapat menjadi bahasa bersama untuk membicarakan pengalaman yang berbeda. Setiap seniman membawa konteks sosial, budaya, dan sejarah yang kemudian diterjemahkan ke dalam pendekatan artistik masing-masing.

Keberagaman itu juga memungkinkan pengunjung melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang tidak selalu sama dengan pengalaman mereka sendiri. Dalam konteks ini, ICAD 16 menjadi ruang pertemuan antara gagasan lokal dan percakapan global yang terus berkembang.

Tidak hanya menampilkan karya dari berbagai latar budaya, pameran ini turut membuka kesempatan bagi publik untuk memahami bagaimana pengalaman personal dapat terhubung dengan persoalan yang lebih luas. Identitas, memori kolektif, perubahan sosial, serta hubungan manusia dengan teknologi menjadi beberapa isu yang hadir dalam ruang pamer.

Baca Juga Abang None :  Gebyar Kreasi VIII Ajak Anak Asah Kreativitas Lewat Lomba Mewarnai di Bekasi

Menghormati Perjalanan Artistik Made Wianta

Pada bagian Special Appearance, ICAD 16 memberikan penghormatan kepada Made Wianta, seniman kontemporer Indonesia yang dikenal melalui eksplorasi gaya dan bahasa visual yang beragam.

Kehadiran nama Made Wianta menjadi bagian penting dalam upaya menghadirkan percakapan mengenai perjalanan seni kontemporer Indonesia. Eksplorasi artistiknya memperlihatkan bagaimana praktik seni dapat berkembang melalui pencarian bentuk, pendekatan visual, dan kemungkinan ekspresi yang terus terbuka.

Penghormatan ini sekaligus menghadirkan kesempatan bagi pengunjung untuk melihat hubungan antara perjalanan seorang seniman dengan perkembangan lanskap seni yang lebih luas. Dalam sebuah pameran yang berbicara tentang proses menjadi, jejak kreatif seniman menjadi salah satu cara untuk memahami bagaimana gagasan dan bahasa visual dapat terus mengalami perkembangan.

Instalasi seni dan desain dengan manekin di ruang pamer ICAD 16
Beragam instalasi dan karya visual menghadirkan pengalaman berbeda bagi pengunjung ICAD 16.

Putu Sutawijaya hingga Ahmet Öğüt Hadir di In Focus

ICAD 16 turut menghadirkan sejumlah seniman melalui kategori In Focus, yang memberikan perhatian pada praktik dan perspektif artistik tertentu.

Salah satu nama yang hadir adalah Putu Sutawijaya, pelukis asal Yogyakarta yang dikenal melalui karya-karya figuratifnya. Praktik artistik Putu menjadi bagian dari keberagaman pendekatan visual yang ditampilkan dalam pameran tahun ini.

Selain itu, terdapat Ahmet Öğüt, seniman lintas media yang berbasis di Belanda. Karyanya mengangkat isu solidaritas terhadap Palestina, memperlihatkan bagaimana praktik seni dapat bersinggungan dengan persoalan kemanusiaan dan realitas sosial.

Kehadiran kedua seniman tersebut memperlihatkan cakupan tema ICAD 16 yang tidak terbatas pada eksplorasi bentuk atau estetika. Seni juga dapat menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan, merespons situasi sosial, dan menghadirkan perspektif yang mendorong pengunjung melihat persoalan secara lebih luas.

Mengangkat Ingatan Budaya dan Identitas melalui Kategori Featured

Kategori Featured menghadirkan karya dengan pendekatan yang beragam, termasuk eksplorasi mengenai ingatan kolektif dan identitas.

Jamaluddin Phonna, seniman asal Aceh yang juga dikenal sebagai pembuat film dokumenter dan peneliti, mengangkat cara masyarakat setempat mengenang peristiwa tsunami. Ingatan terhadap bencana tidak hanya berkaitan dengan kejadian di masa lalu, tetapi juga dengan pengalaman masyarakat dalam memahami kehilangan, mempertahankan memori, dan melanjutkan kehidupan.

Melalui pendekatan tersebut, pengalaman kolektif menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas mengenai hubungan antara manusia, sejarah, dan tempat tinggalnya.

Sementara itu, perupa asal Palestina Larissa Sansour menggunakan pendekatan fiksi ilmiah untuk membicarakan sejarah dan identitas bangsanya. Melalui perpaduan imajinasi dan persoalan sejarah, pendekatan ini membuka kemungkinan untuk membaca pengalaman suatu bangsa dari sudut pandang yang tidak selalu mengikuti cara penceritaan konvensional.

Kedua nama tersebut memperkaya tema Being: Becoming melalui pembahasan mengenai bagaimana masa lalu tetap berhubungan dengan masa kini dan ikut memengaruhi cara manusia membayangkan masa depan.

Baca Juga Abang None :  Poster & Trailer Film Rangga & Cinta Resmi Dirilis - Miles Films

Open Call Membuka Ruang bagi Perspektif Baru

Selain menghadirkan seniman yang telah dikenal melalui praktik artistiknya, ICAD 16 juga memberikan ruang bagi perspektif baru melalui program Open Call.

Program ini mempertemukan seniman terpilih dari lebih dari 100 pendaftar. Kehadirannya membuka kesempatan bagi gagasan dan pendekatan kreatif yang beragam untuk masuk ke dalam percakapan seni dan desain kontemporer.

Salah satu peserta yang hadir adalah Clarissa Tiffany, perupa sekaligus kurator asal Indonesia. Ia menelusuri pengalaman, memori, dan sejarah perempuan Tionghoa-Indonesia, sebuah tema yang bersinggungan dengan persoalan identitas, representasi, serta ingatan budaya.

Perspektif lain dibawa oleh Yang Amat Mulia Pengiran Anak Hamlatul Arsy Mulia Bolkiah dari Brunei Darussalam. Sebagai kurator sekaligus peneliti independen, ia mengangkat beragam kepercayaan budaya Melayu dalam pameran tahun ini.

Kehadiran keduanya memperlihatkan bagaimana pengalaman yang tumbuh dari konteks budaya tertentu dapat menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas. Cerita mengenai sejarah, identitas, dan kepercayaan tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi masa lalu, tetapi juga dapat membantu masyarakat memahami perubahan yang berlangsung saat ini.

Melalui Open Call, ICAD 16 turut menegaskan pentingnya membuka ruang bagi beragam suara dalam ekosistem seni dan desain. Proses kurasi tidak hanya menghadirkan nama-nama yang sudah dikenal, tetapi juga memberi kesempatan kepada gagasan baru untuk memperoleh perhatian publik.

Pengunjung mengamati karya patung dalam pameran seni kontemporer ICAD 16
Karya patung menjadi salah satu elemen visual yang menarik perhatian pengunjung dalam suasana pameran seni.

ICAD sebagai Ruang Pertemuan Seni, Desain, dan Publik

Festival Director ICAD, Edwin Nazir, menyampaikan bahwa ICAD sejak awal dikembangkan sebagai ruang yang mempertemukan seni, desain, dan berbagai disiplin secara inklusif.

Menurutnya, penyelenggaraan ICAD 16 kembali membuka kesempatan bagi seniman dan praktisi kreatif dari Indonesia maupun berbagai negara untuk menghadirkan karya serta perspektif mereka kepada publik.

“Kami berharap ICAD dapat menjadi ruang yang dekat dan terbuka bagi publik untuk menikmati karya, bertemu dengan gagasan yang berbeda, dan melihat berbagai kemungkinan yang muncul dari pertemuan lintas disiplin,” ujar Edwin Nazir.

Pendekatan tersebut menempatkan publik sebagai bagian penting dari pengalaman pameran. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat karya, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan gagasan yang disampaikan melalui berbagai medium.

Kolaborasi dengan seniman, pelaku kreatif, asosiasi, dan pusat kebudayaan asing turut memperluas cakupan kegiatan ICAD 16. Selain pameran utama, penyelenggara menghadirkan program publik berupa diskusi atau talks dan lokakarya atau workshop sepanjang periode penyelenggaraan.

ICAD 16 juga menghadirkan program kawasan Kemang 12730 yang memperluas kegiatan ke dalam konteks lingkungan kreatif di sekitarnya. Melalui rangkaian program tersebut, pengalaman seni diharapkan tidak berhenti pada ruang pamer, melainkan berkembang menjadi pertemuan dan pertukaran gagasan yang melibatkan lebih banyak kalangan.

ICAD Student Tour Libatkan 24 Sekolah

Upaya mendekatkan seni dan desain kepada generasi muda kembali diwujudkan melalui program ICAD Student Tour. Program ini melanjutkan kegiatan yang telah diselenggarakan pada tahun-tahun sebelumnya dan bekerja sama dengan 24 sekolah, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga universitas.

Melalui kunjungan tersebut, para peserta dapat melihat karya yang dipamerkan sekaligus bertemu langsung dengan kurator dan sejumlah seniman. Kesempatan ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda karena peserta dapat mengenal praktik seni dan desain melalui karya serta percakapan dengan para pelakunya.

Bagi pelajar dan mahasiswa, pertemuan langsung dengan seniman dapat membuka pemahaman mengenai proses kreatif, gagasan di balik karya, serta beragam cara untuk menerjemahkan pengalaman menjadi ekspresi visual.

Program ini juga memperlihatkan bahwa pameran seni kontemporer dapat menjadi ruang pembelajaran lintas disiplin. Seni dan desain tidak hanya berkaitan dengan keterampilan menciptakan sesuatu, tetapi juga dengan kemampuan mengamati, mengajukan pertanyaan, dan memahami pengalaman manusia dari perspektif yang berbeda.

Rombongan sekolah yang ingin berpartisipasi dalam ICAD Student Tour dapat menjadwalkan kunjungan dengan menghubungi pihak penyelenggara melalui email atau situs resmi ICAD.

Baca Juga Abang None :  SENI BUDAYA BETAWI GOES TO JAKARTA INDONESIA KOREAN SCHOOL MENJADI PENUTUP PROGRAM YAYASAN BENYAMIN SUAEB DI TAHUN 2023

ICAD 16 Berlangsung hingga 8 November 2026

Dengan menggabungkan pameran, diskusi, lokakarya, kolaborasi lintas negara, dan program edukasi, ICAD 16 menawarkan pengalaman yang melampaui kegiatan melihat karya seni semata.

Tema Being: Becoming menjadi penghubung bagi beragam praktik kreatif yang membicarakan identitas, sejarah, budaya, persoalan sosial, serta kemungkinan perubahan. Melalui pertemuan berbagai perspektif tersebut, pengunjung diajak memahami bahwa seni dan desain dapat menjadi ruang untuk membaca kembali keadaan saat ini sekaligus membayangkan masa depan yang berbeda.

ICAD 16 berlangsung pada 8 Oktober hingga 8 November 2026 di grandkemang Hotel, Jakarta Selatan. Informasi lebih lanjut mengenai pameran dan program publik dapat diperoleh melalui situs resmi www.arturaicad.com serta akun Instagram @icadartura.

Bagi masyarakat yang tertarik pada seni kontemporer, desain, dan perkembangan industri kreatif, ICAD 16 menjadi kesempatan untuk mengenal karya dari berbagai latar budaya sekaligus mengikuti percakapan mengenai bagaimana manusia terus berkembang di tengah perubahan zaman.

Written by: Dimas Galoh Maulana

Post comments (0)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tick the switch to enable the submit button.