today10/08/2026


Gusi berdarah saat menyikat gigi dapat menjadi salah satu tanda adanya masalah pada kesehatan gusi yang perlu diperiksa.
Bensradio.com, JAKARTA – Gusi berdarah saat menyikat gigi atau menggunakan benang gigi kerap dianggap sebagai gangguan kesehatan mulut biasa. Padahal, kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya masalah pada gusi yang perlu mendapat perhatian.
Penyakit gusi tidak hanya berkaitan dengan kondisi gigi dan mulut. Sejumlah penelitian juga menemukan adanya hubungan antara penyakit gusi dengan penyakit kronis, seperti penyakit jantung, stroke, dan diabetes.
Meski hubungan sebab-akibatnya masih terus diteliti, peradangan akibat penyakit gusi diketahui dapat berkaitan dengan proses peradangan di dalam tubuh. Kondisi ini membuat kesehatan mulut menjadi bagian penting dari kesehatan secara keseluruhan.
Pendiri sekaligus Kepala Dokter Gigi Dr Jaydev Dental, Dr Jaydev, menjelaskan bahwa gusi tidak dapat dipandang sebagai bagian tubuh yang berdiri sendiri.
“Gusi Anda bukanlah bagian terpisah dari bagian tubuh Anda yang lain. Saat gusi terinfeksi secara kronis, infeksi tersebut memiliki jalan langsung ke aliran darah Anda,” ujar Dr Jaydev.
Mulut menjadi salah satu jalur masuk berbagai mikroorganisme ke dalam tubuh. Pada penyakit gusi yang sudah berkembang, jaringan di sekitar gigi dapat mengalami peradangan dan kerusakan.
Kondisi tersebut dapat membuat bakteri serta produk yang dihasilkannya masuk ke aliran darah. Proses ini dapat terjadi, antara lain, ketika seseorang mengunyah makanan atau menyikat gigi.
Menurut Dr Jaydev, kondisi tersebut tidak berarti penyakit gusi secara langsung menyebabkan serangan jantung. Namun, peradangan kronis yang berkaitan dengan penyakit gusi diduga memiliki hubungan dengan kesehatan pembuluh darah.
Ketika tubuh mendeteksi adanya infeksi, sistem kekebalan akan menghasilkan berbagai zat yang berperan dalam respons peradangan. Beberapa di antaranya adalah protein C-reaktif atau CRP dan interleukin-6 atau IL-6.
Peradangan yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memengaruhi kesehatan pembuluh darah. Kondisi tersebut juga dikaitkan dengan proses pembentukan dan ketidakstabilan plak pada pembuluh darah yang berperan dalam penyakit kardiovaskular.
Sejumlah penelitian bahkan menemukan keberadaan bakteri yang berasal dari rongga mulut pada plak arteri. Namun, temuan tersebut belum dapat dijadikan bukti bahwa bakteri dari mulut secara langsung menyebabkan penyakit jantung.
Hubungan antara kesehatan gusi dan diabetes juga menjadi perhatian para peneliti. Peradangan akibat infeksi gusi dapat berkaitan dengan meningkatnya resistensi insulin sehingga tubuh menjadi lebih sulit mengendalikan kadar gula darah.
Sebaliknya, kadar gula darah yang tinggi juga dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam melawan infeksi dan memperlambat proses penyembuhan. Kondisi ini dapat membuat penyakit gusi semakin sulit dikendalikan.
“Ini menjadi lingkaran setan. Peradangan memperburuk resistensi insulin dan membuat gula darah lebih sulit dikendalikan. Gula darah tinggi pada gilirannya mengganggu kekebalan dan penyembuhan, sehingga penyakit gusi menjadi lebih agresif,” jelas Dr Jaydev.
Karena itu, penderita diabetes perlu memperhatikan kesehatan gigi dan gusi sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi tubuh secara keseluruhan.
Salah satu masalah penyakit gusi adalah gejalanya sering muncul tanpa rasa sakit yang berarti. Akibatnya, seseorang dapat mengalami gangguan gusi dalam waktu lama tanpa menyadarinya.
“Gusi yang sehat tidak berdarah. Jika tangan Anda terdapat darah tiap kali membersihkannya, Anda akan segera menemui dokter, tetapi gusi berdarah sering kali diabaikan selama bertahun-tahun,” kata Dr Jaydev.
Selain gusi berdarah, terdapat sejumlah tanda yang perlu diperhatikan, antara lain:
Jika gejala tersebut berlangsung berulang atau semakin parah, pemeriksaan oleh dokter gigi diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Risiko mengalami masalah gusi yang lebih serius dapat meningkat pada beberapa kelompok. Mereka antara lain orang dengan diabetes yang tidak terkontrol dengan baik, perokok, penderita penyakit kardiovaskular, ibu hamil, serta orang yang mengonsumsi obat tertentu yang dapat menyebabkan mulut kering.
Meski demikian, penyakit gusi dapat dialami siapa saja. Karena itu, menjaga kebersihan rongga mulut tetap penting meskipun tidak mengalami penyakit kronis.
Dr Jaydev menegaskan bahwa perawatan penyakit gusi tidak dapat menggantikan pengobatan penyakit jantung atau gangguan kardiovaskular. Namun, menjaga kesehatan gusi dapat menjadi bagian dari upaya mengendalikan peradangan di dalam tubuh.
Menjaga kesehatan gusi dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Sikat gigi secara rutin dengan teknik yang tepat dan bersihkan sela-sela gigi menggunakan benang gigi atau alat pembersih interdental.
Pemeriksaan gigi secara berkala juga penting untuk mendeteksi masalah sejak dini. Dokter gigi dapat memeriksa kondisi gusi sekaligus membersihkan karang gigi yang tidak dapat dihilangkan hanya dengan menyikat gigi.
Pembersihan profesional atau scaling dapat dilakukan sesuai kebutuhan berdasarkan kondisi gigi dan gusi. Selain itu, menghindari rokok dan produk tembakau dapat membantu menjaga kesehatan rongga mulut.
Pada akhirnya, gusi berdarah sebaiknya tidak dianggap sebagai masalah sepele. Gejala tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan gusi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Menjaga kesehatan mulut bukan hanya soal mempertahankan gigi tetap bersih. Perawatan gusi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Written by: Muhammad Daffa

Post comments (0)