today19/10/2026


Peserta Sindikasi Media Network mengikuti workshop ecoprint dengan mempraktikkan teknik pencetakan motif daun pada kain menggunakan palu kayu.
Bensradio.com – YOGYAKARTA – Kreativitas dalam mengolah bahan alam menjadi karya bernilai estetis terus berkembang. Salah satunya melalui teknik ecoprint, metode pewarnaan sekaligus pencetakan motif pada kain dengan memanfaatkan bentuk dan pigmen alami dari tumbuhan.
Hal tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang diperoleh Sindikasi Media Network (SMN) saat mengikuti workshop ecoprint di Wyndham Garden Yogyakarta. Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai ecoprint, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembuatannya menggunakan teknik ecoprint pounding.
Workshop ini memberikan pengalaman menarik karena peserta dapat melihat secara langsung bagaimana daun dan bunga yang sederhana dapat menghasilkan motif unik ketika diaplikasikan pada permukaan kain.
Kegiatan tersebut sekaligus memperkenalkan salah satu bentuk aktivitas kreatif yang memadukan unsur seni, pemanfaatan bahan alam, serta potensi pengembangan industri kreatif dan pariwisata.
Ecoprint merupakan teknik menghasilkan motif pada kain dengan memanfaatkan karakter alami tumbuhan. Daun dan bunga menjadi salah satu bahan yang banyak digunakan karena memiliki bentuk, tekstur, serta kandungan pigmen yang dapat meninggalkan jejak pada kain.
Dalam workshop di Wyndham Garden Yogyakarta, peserta diperkenalkan dengan metode ecoprint pounding. Sesuai namanya, teknik ini dilakukan dengan cara memukul bagian tumbuhan yang telah ditempatkan di atas kain menggunakan palu kayu.
Pukulan tersebut membantu memindahkan pigmen dan bentuk tumbuhan ke serat kain. Hasilnya dapat berupa motif yang mengikuti bentuk daun, tulang daun, maupun karakter alami dari tanaman yang digunakan.
Menariknya, tidak ada dua hasil ecoprint yang benar-benar sama. Perbedaan jenis daun, tingkat kesegaran tanaman, karakter kain hingga tekanan ketika memukul dapat menghasilkan motif dengan tampilan yang berbeda.
Karakter tersebut menjadi salah satu daya tarik ecoprint. Kain tidak hanya mendapatkan warna, tetapi juga memiliki pola yang terasa lebih organik dan personal.

Dalam sesi praktik, peserta menyiapkan sejumlah alat dan bahan yang dibutuhkan untuk membuat ecoprint. Beberapa di antaranya adalah kain berbahan katun atau kanvas, daun dan bunga, palu kayu, plastik pelapis, air, serta tawas.
Pemilihan tumbuhan menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut. Daun yang memiliki kandungan air atau pigmen cukup baik dinilai dapat membantu menghasilkan motif yang lebih terlihat pada kain.
Setelah kain disiapkan, peserta mulai memilih dan menyusun daun di atas permukaan kain. Posisi daun diatur sedemikian rupa agar bentuk serta tulang daunnya dapat memberikan pola ketika proses pemukulan dilakukan.
Tahap berikutnya, daun ditutup menggunakan plastik. Lapisan tersebut berfungsi sebagai pelindung sekaligus membantu proses pemukulan agar lebih terkendali.
Dengan menggunakan palu kayu, peserta kemudian memukul bagian daun secara perlahan dan merata. Proses ini membutuhkan ketelitian karena tekanan yang terlalu kuat maupun terlalu lemah dapat memengaruhi hasil motif.
Dari proses tersebut, warna dan bentuk daun perlahan berpindah ke permukaan kain.
Setelah proses pounding selesai, kain kemudian didiamkan sekitar 15 menit sebelum masuk ke tahap berikutnya. Kain selanjutnya dibilas menggunakan air tawas sesuai materi workshop untuk membantu proses penanganan warna sekaligus membersihkan sisa-sisa bahan tumbuhan.
Tahap terakhir adalah mengeringkan kain. Setelah kering, motif yang terbentuk dari daun dan bunga akan terlihat lebih jelas.
Salah satu hal yang membuat ecoprint menarik adalah hasil akhirnya yang tidak sepenuhnya dapat dibuat seragam.
Daun dengan bentuk berbeda tentu akan memberikan pola berbeda. Bahkan daun dari jenis yang sama pun dapat menghasilkan karakter motif yang tidak selalu identik.
Karena itu, ecoprint memiliki nilai artistik tersendiri. Hasil akhirnya sangat dipengaruhi oleh bahan alam yang digunakan serta teknik pengolahannya.
Selain bentuk daun, kualitas kain juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Jenis serat, kondisi bahan, proses persiapan kain, teknik pemukulan, hingga proses pengolahan warna dapat memengaruhi tampilan akhir.
Artinya, membuat ecoprint bukan sekadar menempelkan daun di atas kain kemudian memukulnya. Dibutuhkan pemahaman mengenai karakter bahan dan proses agar motif yang dihasilkan dapat tampil dengan baik serta memiliki ketahanan warna yang sesuai.

Teknik ecoprint memiliki peluang aplikasi yang cukup luas. Hasilnya dapat digunakan untuk membuat berbagai produk, mulai dari kain dekoratif, tas, aksesori, pakaian hingga cendera mata.
Keunikan motif menjadi salah satu nilai tambah karena produk yang dibuat memiliki karakter berbeda dibandingkan produk dengan motif hasil cetak massal.
Pemanfaatan bahan alam juga membuat proses ecoprint memiliki keterkaitan dengan gagasan pengembangan produk kreatif yang lebih dekat dengan lingkungan. Meski demikian, aspek pengolahan bahan dan proses produksi tetap perlu diperhatikan agar kegiatan tersebut dapat dilakukan secara bertanggung jawab.
Bagi pelaku industri kreatif, ecoprint juga dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengembangkan produk kerajinan yang memiliki unsur cerita. Motif yang berasal dari tumbuhan dapat menjadi bagian dari identitas sebuah produk.
Kegiatan workshop yang berlangsung di Wyndham Garden Yogyakarta juga memperlihatkan bagaimana aktivitas kreatif dapat dikemas sebagai pengalaman bagi masyarakat maupun wisatawan.
Selama ini, sektor pariwisata tidak hanya berkaitan dengan kunjungan ke destinasi. Aktivitas yang memberikan pengalaman langsung kepada pengunjung juga semakin penting karena wisatawan dapat membawa pulang cerita dan keterampilan baru dari sebuah perjalanan.
Workshop ecoprint dapat menjadi salah satu bentuk aktivitas tersebut. Peserta tidak hanya melihat hasil kerajinan, tetapi ikut menjalani proses dari awal hingga menghasilkan motif pada kain.
Bagi sektor perhotelan, kegiatan semacam ini juga berpotensi menjadi bagian dari pengalaman bagi tamu. Sementara bagi komunitas kreatif, kolaborasi dengan hotel dapat membuka ruang baru untuk memperkenalkan teknik dan produk kerajinan kepada audiens yang lebih luas.
Keterlibatan media seperti Sindikasi Media Network dalam kegiatan tersebut turut membuka perspektif mengenai pentingnya mengenal lebih dekat berbagai aktivitas kreatif yang berkembang di tengah masyarakat.
Partisipasi Sindikasi Media Network dalam workshop ecoprint di Wyndham Garden Yogyakarta menjadi pengalaman untuk memahami secara langsung proses kreatif berbasis bahan alam.
Ecoprint menunjukkan bahwa daun dan bunga yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dapat diolah menjadi bagian dari karya tekstil dengan nilai estetis.
Di sisi lain, kegiatan semacam ini juga memperlihatkan adanya ruang kolaborasi antara sektor perhotelan, industri kreatif, komunitas, dan media.
Kolaborasi tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas literasi masyarakat mengenai produk kreatif lokal sekaligus memperkenalkan aktivitas berbasis pengalaman dalam industri pariwisata.
Pada akhirnya, ecoprint bukan hanya tentang menghasilkan motif cantik di atas kain. Teknik ini juga mempertemukan kreativitas manusia dengan karakter alami tumbuhan. Setiap proses menghasilkan kejutan tersendiri, karena bentuk dan warna yang muncul tidak selalu bisa diprediksi secara persis.
Workshop di Wyndham Garden Yogyakarta pun menjadi contoh bagaimana kegiatan kreatif dapat dikemas menjadi pengalaman yang edukatif, interaktif, sekaligus memiliki keterkaitan dengan perkembangan industri kreatif dan pariwisata.
Written by: Dimas Galoh Maulana

Post comments (0)