Bens Radio

106.2 FM Jakarta

Current track

Title

Artist


Cerita Zam Cosmetic dan Kals Corpora membangun brand fesyen mandiri

Written by on 30/08/2021

Haykal Kamil

kami harus menjadi brand yang mandiri

Jakarta (ANTARA) – Co-Founder Zam Cosmetic, Tania Ray Mina yang juga saudara kandung Zaskia Adya Mecca, berpendapat bahwa nama besar figur publik tidak cukup untuk mendukung dan menjamin keberlangsungan bisnis fesyen dan kosmetik.

Alih-alih mengandalkan nama ‘Zaskia Adya Mecca’, Tania ingin bisnis keluarga di sektor fesyen dan kosmetik dapat terus bertahan melalui berbagai strategi, mulai dari melakukan upaya pemeliharaan, mewujudkan misi, hingga memiliki pencapaian.

Ia mengatakan memang pada awalnya nama ‘Zaskia’ muncul atas dasar permintaan department store besar di Indonesia pada saat kontrak eksklusif, namun seiring berjalannya waktu label bisnis harus berdiri lebih independen.

“Pada saat Zam Cosmetic launching, kami tidak mengasosiasikan nama singkatan Zaskia. Justru kami ingin membangun brand yang lebih independen dan tidak harus melekat dengan brand ambassador-nya,” kata Tania saat diskusi virtual Muharram Marketing Festival 2021 pada Senin.

Ia menjelaskan nama “Zam” sebetulnya berasal dari bahasa Turki yang bermakna “berkumpul”.

“Kami ingin memberi tahu kepada konsumen. Kami semua kan keluarga, adik-kakak, dan kami melakukan bisnis keluarga generasi pertama. Dengan berkumpul kami bisa mendukung satu sama lain sehingga membentuk suatu bisnis,” tutur saudara kandung Zaskia Adya Mecca itu.

Baca juga: Perayaan 17 Agustus ala keluarga Hanung & Zaskia

Baca juga: Medina Zein tanggapi Irwansyah-Zaskia Sungkar soal penggelapan dana

Hal senada juga dikatakan CEO PT Kals Corpora Indonesia Haykal Kamil yang ingin agar produknya tidak selalu terasosiasi dengan figur publik.

“Kami berpikir, kami harus menjadi brand yang mandiri tanpa terkait dengan satu sosok. Brand harus bisa menjadi ‘sebuah brand’ yang akhirnya orang beli karena kualitas,” ujarnya.

“Mungkin orang-orang bilang beruntung karena kami pakai nama figur publik. Tapi menurut saya itu justru hal yang sulit. Pada akhirnya produk yang akan berbicara, kalau produk bagus, orang pasti akan mau belanja produk kita. Begitu pula sebaliknya,” tambah Haykal.

Ia mengungkapkan pada awal pandemi tahun 2020, penjualan offline sangat terdampak sehingga perusahaan memutuskan untuk menjalankan beberapa strategi agar menjaga keberlangsungan bisnis. Dengan kata lain, nama “Zaskia” saja tidak bisa dijadikan satu-satunya senjata untuk menghadapi tantangan.

Dua cara di antaranya, Kals Corpora mengeluarkan koleksi spesial, meliputi koleksi bertajuk Jelita Indonesia, Islamic Journey in Europe, serta Romansa Khatulistiwa, dan melakukan terobosan kolaborasi.

“Untuk koleksi, kami mencoba bagaimana berkomunikasi kepada konsumen dengan cara bukan hanya mengedepankan desain bagus tapi juga bicara soal local pride,” kata Haykal.

Misalnya, Kals Corpora membuat kain motif bertema Maluku dan mengangkat cerita atau sisi unik dari Maluku. Selain itu, pada koleksi lain, perusahaan mengangkat cerita yang terinspirasi dari perkembangan Islam di Denmark.

“Selain mengeluarkan koleksi, kami membuat strategi kolaborasi. Kami sadar, agar terus relevan, kita tidak kuat dengan satu nama publik figur. Mungkin dia terkenal sekarang, tapi siapa yang tahu lima tahun ke depan. Jadi kami berpikir untuk berkolaborasi dengan berbagai influencer,” ungkapnya.

Sebagai contoh, merek fesyen BIA berkolaborasi dengan Cut Meyriska, Ratna Galih, dan Isel Fricella. Merek ZM juga berkolaborasi dengan Marsha Nakita dan Tantri Namirah hingga kerja sama dengan produk yang tampaknya tidak linier seperti Glade, Maybeline, dan Geprek Bensu.

“Kami berpikir harus kolaborasi tidak hanya linier dengan jenis bisnis kami. Sebisa mungkin kami melakukan terobosan-terobosan yang di luar kebiasaan dan yang tidak terpikirkan oleh orang lain,” katanya.

Dengan menjalankan strategi tersebut, Kals Corpora mencatat penjualan daring naik 5 kali lipat jika dibanding tahun sebelumnya. Selain itu, dari segi jumlah tenaga kerja pun meningkat, semula tim inti hanya sekitar 30 orang dan kini menjadi 120 orang. Indirect jobs, meliputi karyawan di pabrik, penjahit, tukang potong, tukang pola, hingga supir, juga meningkat 5 kali lipat.

Baca juga: Alasan Zaskia Mecca tak pernah ikut pagelaran busana

Baca juga: Andien lewat busana dukung lingkungan dan dorong UMKM wanita

Baca juga: Peggy Hartanto dan telusur di balik “DNA” rancangan busana

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/2360090/cerita-zam-cosmetic-dan-kals-corpora-membangun-brand-fesyen-mandiri


Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments