today22/09/2026


Film Menang Untuk Kalah mengangkat kisah keluarga yang menghadapi tekanan finansial setelah mengambil sejumlah keputusan besar.
Bensradio.com – JAKARTA, September 2026 — Persoalan keuangan dalam keluarga kerap bermula dari keputusan yang terlihat sederhana. Membeli rumah impian, mengganti kendaraan, hingga memenuhi kebutuhan anggota keluarga bisa berubah menjadi masalah besar ketika keputusan tersebut tidak diimbangi dengan kemampuan finansial.
Gambaran tentang dilema tersebut diangkat Rumah Produksi Para Kreator melalui film drama terbaru berjudul Menang Untuk Kalah. Film ini dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 19 November 2026.
Bukan sekadar bercerita tentang utang dan cicilan, Menang Untuk Kalah mencoba membawa penonton masuk ke dalam kehidupan sebuah keluarga yang harus menghadapi konsekuensi dari keputusan finansial yang mereka ambil.
Cerita film ini berangkat dari persoalan yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat. Keinginan untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga terkadang justru dapat menjadi bumerang apabila keputusan yang diambil tidak diperhitungkan secara matang.
Skenario Menang Untuk Kalah ditulis oleh Jujur Prananto, penulis skenario yang telah memiliki pengalaman panjang di industri perfilman Indonesia.
Namanya dikenal melalui sejumlah karya besar, di antaranya Petualangan Sherina dan Ada Apa Dengan Cinta?. Dalam film ini, Jujur Prananto mengemas cerita dengan pendekatan yang natural sehingga konflik yang dialami para karakter terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Drama keluarga menjadi kekuatan utama film. Penonton tidak hanya diajak melihat persoalan dari sisi finansial, tetapi juga bagaimana tekanan ekonomi dapat memengaruhi hubungan antaranggota keluarga.
Tangisan, tawa, kekecewaan hingga kebahagiaan menjadi bagian dari perjalanan cerita yang dibangun secara emosional.
Untuk mengarahkan film ini, Para Kreator mempercayakan posisi sutradara kepada Hasto Broto.
Hasto menghadirkan pendekatan emosional yang kuat, tetapi tetap berusaha menjaga agar setiap konflik terasa wajar dan tidak berlebihan. Pendekatan tersebut juga diterapkan dalam mengarahkan para pemain agar dapat menampilkan karakter secara lebih natural.
Film ini dibintangi sejumlah aktor dan aktris Indonesia, antara lain:
Selain itu, Menang Untuk Kalah turut menghadirkan sejumlah pemeran berpengalaman, seperti Tike Priatnakusumah sebagai Ibu Direktur, Beddu sebagai Samsul, dan Tigor sebagai Debt Collector.
Kehadiran para pemain tersebut menjadi bagian penting dalam membangun dinamika keluarga sekaligus konflik yang berkembang sepanjang cerita.
Proses produksi Menang Untuk Kalah berlangsung cukup panjang. Sejak tahap pengembangan cerita, penulisan naskah hingga proses final editing, pengerjaan film ini memakan waktu kurang lebih 10 bulan.
Sementara proses pengambilan gambar berlangsung selama 22 hari dengan lokasi syuting di kawasan Bandung Raya.
Di balik layar, film ini turut diperkuat sejumlah tenaga profesional dari industri film dan musik Indonesia.
Salman Alfarisy dipercaya sebagai Executive Producer, bersama Co Executive Producer Imam Soehirnan, Alwin Falah P, Nur Alamsyah Nirza, Nanda Aulia, Anwar Fauzi, dan Noor Diansyah.
Posisi Producer diisi oleh Salman Alfarisy dan Hasto Broto, sementara Cikal R. Ramadhan, Rudy Nugraha, dan Rezki Deitullah menjadi Co Producer.
Hasto Broto juga bertindak sebagai Director, dengan Salman Alfarisy sebagai pencetus ide cerita. Sementara skenario ditulis oleh Jujur Prananto dan sinematografi ditangani oleh Asep Kalila sebagai Director of Photography.
Tidak hanya mengandalkan kekuatan cerita, Menang Untuk Kalah juga memberikan perhatian besar terhadap unsur musik.
Film ini menghadirkan 16 lagu yang dibuat khusus sebagai original soundtrack. Lagu-lagu tersebut dirancang untuk menyatu dengan adegan sekaligus menggambarkan emosi yang dialami para karakter.
Sejumlah lagu yang menjadi bagian dari film ini antara lain:
Deretan lagu tersebut dihadirkan untuk memperkuat suasana sekaligus menjadi bagian dari perjalanan emosional para karakter dalam film.
Cerita Menang Untuk Kalah berpusat pada sosok Bima, seorang kepala keluarga yang hidup bersama istrinya, Dewi, serta dua anak remaja mereka, Reina dan Rako.
Pada awalnya, kehidupan keluarga Bima terlihat harmonis. Setelah memiliki cukup dana untuk membayar uang muka, mereka akhirnya mewujudkan impian membeli rumah melalui sistem kredit.
Kepindahan ke rumah baru kemudian diikuti berbagai kebutuhan lainnya. Mereka membeli perabotan dengan nilai yang cukup besar. Tidak lama berselang, mobil keluarga juga diganti dengan kendaraan yang lebih mahal, meskipun mobil lama sebenarnya masih layak digunakan.
Belum selesai sampai di situ, Rako juga mendapatkan motor baru melalui kredit.
Berbagai keputusan tersebut akhirnya membuat kondisi keuangan keluarga semakin tertekan. Terlebih, penghasilan Bima berasal dari pekerjaannya sebagai pekerja lepas pada sebuah proyek.
Cicilan yang harus dibayar setiap bulan pun semakin membebani kondisi finansial keluarga.
Dalam upaya mengurangi pengeluaran, Bima akhirnya mengambil keputusan untuk mengorbankan salah satu kewajiban bulanan yang sebenarnya masih dibutuhkan oleh keluarganya.
Keputusan tersebut menjadi awal dari persoalan yang lebih besar.
Situasi semakin sulit ketika keluarga Bima mengalami sebuah kejadian tidak terduga yang membutuhkan biaya besar untuk menyelesaikannya.
Dalam kondisi tersebut, salah satu pilihan yang tersedia sebenarnya adalah mengalihkan kredit mobil dan motor yang dimiliki keluarga.
Namun Bima memilih jalan lain.
Tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan istrinya, ia mengambil keputusan ekstrem yang dianggap mampu menjadi solusi cepat. Masalah memang terlihat dapat teratasi untuk sementara, tetapi keputusan tersebut justru menimbulkan dampak yang lebih panjang.
Persoalan kemudian datang silih berganti.
Setiap keputusan yang diambil Bima seolah membuka masalah baru. Ia pun semakin kewalahan menghadapi tekanan yang datang, sementara keluarganya ikut terkena dampak dari keputusan-keputusan tersebut.
Film ini kemudian membawa penonton pada pertanyaan yang cukup sederhana, tetapi tidak mudah dijawab: seberapa jauh seseorang boleh mengambil risiko demi memberikan kebahagiaan kepada keluarganya?
Melalui konflik tersebut, Menang Untuk Kalah tidak hanya menghadirkan drama keluarga, tetapi juga memperlihatkan konsekuensi dari keputusan finansial yang diambil tanpa perhitungan dan komunikasi yang matang.
Akankah Bima menemukan jalan keluar? Mampukah keluarganya melewati berbagai persoalan yang datang bertubi-tubi?
Jawabannya dapat disaksikan melalui film Menang Untuk Kalah yang dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 19 November 2026.
Written by: Dimas Galoh Maulana
Post comments (0)