today10/08/2026


Timnas Indonesia gagal melaju ke semifinal ASEAN Championship 2026 setelah bermain imbang 1-1 melawan Singapura pada laga terakhir Grup A
Indonesia mengoleksi tujuh poin dari seluruh pertandingan di Grup A. Sementara itu, Singapura mengamankan posisi runner-up dengan delapan poin dan Vietnam tampil sebagai pemuncak klasemen setelah mengumpulkan 10 poin.
Hasil tersebut memperpanjang catatan kurang baik Timnas Indonesia di turnamen kawasan Asia Tenggara. Untuk kedua kalinya secara beruntun, Indonesia harus tersingkir sebelum mencapai semifinal. Sebelumnya, skuad Garuda juga gagal melewati fase grup pada Piala AFF 2024.
Kegagalan kali ini pun kembali memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi permainan Timnas Indonesia. Pengamat sepak bola nasional, Rizal Pahlevi, menilai persoalan yang dihadapi Indonesia tidak hanya berkaitan dengan hasil akhir di turnamen.
Menurut Rizal, salah satu pekerjaan rumah terbesar berada pada performa Timnas Indonesia ketika menjalani pertandingan tandang.
Timnas Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk mengamankan kemenangan atas Singapura. Ragnar Oratmangoen membawa Indonesia unggul pada awal babak kedua.
Keunggulan tersebut seharusnya dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengendalikan pertandingan. Namun, Singapura mampu memberikan respons dan mencetak gol penyama kedudukan melalui Ilhan Fandi.
Skor 1-1 bertahan hingga pertandingan berakhir. Hasil tersebut membuat Indonesia kehilangan kesempatan untuk mengamankan tiket semifinal.
Rizal Pahlevi menilai situasi itu kembali memperlihatkan persoalan yang selama ini muncul ketika Timnas Indonesia bermain di markas lawan.
“Selain itu ketika momen mendapatkan tekanan untuk mencari gol kemenangan setelah disamakan kedudukan, saya rasa ini menjadi pertandingan sulit karena kita memiliki rekor away yang tak terlalu bagus dalam beberapa tahun terakhir,” ujar Rizal kepada Kompas.com.
Rizal menilai persoalan laga tandang bukan hanya muncul ketika Indonesia menghadapi Singapura. Menurutnya, sejumlah pertandingan sebelumnya juga memperlihatkan bahwa Timnas Indonesia masih mengalami kesulitan ketika bermain sebagai tim tamu.
Salah satu contohnya terlihat ketika Indonesia menghadapi Timor Leste. Meskipun berhasil meraih kemenangan, pertandingan tersebut tidak berlangsung mudah bagi skuad Garuda.
“Lalu laga-laga away putaran ke-4 kualifikasi Piala Dunia 2026 ketika tidak mendapat dukungan homebase Timnas Indonesia juga mengalami kesulitan dengan dua kekalahan,” kata Rizal.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa performa Indonesia di luar kandang masih membutuhkan perhatian serius. Timnas Indonesia tidak dapat terus bergantung pada keuntungan bermain di hadapan pendukung sendiri.
Dalam kompetisi internasional, kemampuan meraih poin di kandang lawan menjadi salah satu aspek penting. Tim yang mampu menjaga konsistensi dalam situasi tandang memiliki peluang lebih besar untuk bersaing dalam turnamen dengan format kompetisi yang ketat.
Kegagalan di ASEAN Championship 2026 menjadi bahan evaluasi bagi Timnas Indonesia. Pelatih John Herdman juga menghadapi tantangan untuk memperbaiki sejumlah aspek permainan sebelum menghadapi agenda internasional berikutnya.
Rizal menilai evaluasi tidak cukup hanya melihat perkembangan internal Timnas Indonesia. Skuad Garuda juga perlu memperhatikan peningkatan yang dilakukan negara-negara pesaing di kawasan Asia Tenggara.
“Saya rasa banyak sekali evaluasi dari turnamen ini khususnya bagi skuad Timnas Indonesia dan John Herdman. Saya rasa untuk bisa menggambarkan turnamen ini tentu kekecewaan,” ujar Rizal.
Ia juga menyoroti kesalahan yang terjadi dalam pertandingan melawan Singapura. Menurutnya, gol yang bersarang ke gawang Indonesia tidak terlepas dari kesalahan yang dilakukan pemain sendiri.
“Lawan mencetak gol berdasarkan error yang dibuat Timnas Indonesia sendiri jadi kita tidak bisa menyalahkan siapapun kecuali diri sendiri,” pungkasnya.
Kegagalan mencapai semifinal ASEAN Championship 2026 menjadi sinyal bahwa Timnas Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Selain meningkatkan kualitas permainan, skuad Garuda perlu memperbaiki konsistensi ketika bertanding di luar kandang. Kemampuan mengatasi tekanan dari suporter lawan, menjaga keunggulan, serta merespons situasi setelah kebobolan menjadi aspek yang perlu mendapat perhatian.
Hasil di turnamen ini juga menunjukkan bahwa persaingan sepak bola Asia Tenggara semakin kompetitif. Indonesia harus mampu meningkatkan performa secara konsisten jika ingin bersaing dalam turnamen regional maupun kompetisi internasional berikutnya.
Dengan berakhirnya perjalanan di fase grup, evaluasi menjadi langkah penting bagi John Herdman dan seluruh pemain Timnas Indonesia. Perbaikan hasil tandang dapat menjadi salah satu fokus utama agar kegagalan serupa tidak kembali terjadi pada turnamen berikutnya.
Written by: Muhammad Daffa

Post comments (0)