today28/08/2026


Ilustrasi minuman berpemanis yang dikonsumsi sehari-hari. Studi terbaru menemukan konsumsi minuman berpemanis setiap hari berkaitan dengan peningkatan risiko kanker lambung
Bensradio.com, JAKARTA – Kebiasaan mengonsumsi minuman manis setiap hari kembali menjadi sorotan. Studi terbaru menemukan adanya hubungan antara konsumsi minuman dengan pemanis tambahan dan meningkatnya risiko kanker lambung.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Gastro Hep Advances tersebut menemukan bahwa orang yang mengonsumsi sedikitnya satu porsi minuman berpemanis tambahan setiap hari memiliki risiko kanker lambung 2,45 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang mengonsumsinya kurang dari satu porsi per bulan.
Temuan itu terlihat pada laki-laki maupun perempuan. Namun, peningkatan risikonya lebih besar pada perempuan. Dalam analisis penelitian, perempuan yang mengonsumsi lebih dari satu porsi minuman berpemanis tambahan setiap hari memiliki risiko sekitar tiga kali lipat, sedangkan pada laki-laki risikonya sekitar dua kali lipat.
Minuman yang masuk dalam kategori tersebut antara lain minuman berkarbonasi, punch, limun, dan minuman olahraga. Dalam penelitian ini, satu porsi minuman ditetapkan sekitar 8 ons atau 237 mililiter.
Kanker lambung memiliki sejumlah faktor risiko yang sudah diketahui. Salah satunya adalah infeksi bakteri Helicobacter pylori atau H. pylori. Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, usia, serta jenis kelamin laki-laki juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi risiko penyakit tersebut.
Peneliti kemudian mencoba melihat apakah hubungan antara minuman berpemanis dan kanker lambung berkaitan dengan infeksi H. pylori. Hasil analisis pada kelompok peserta yang memiliki data mengenai infeksi tersebut tidak menunjukkan hubungan antara konsumsi minuman berpemanis dan infeksi H. pylori.
Penelitian juga membandingkan minuman dengan pemanis tambahan dan minuman yang menggunakan pemanis buatan. Hasilnya, konsumsi minuman berpemanis buatan, termasuk minuman berkarbonasi rendah kalori, tidak ditemukan berkaitan dengan peningkatan risiko kanker lambung.
Temuan ini membuat peneliti menaruh perhatian pada kandungan gula dan metabolisme tubuh, bukan semata-mata pada keberadaan minuman dalam bentuk cair.
Para peneliti kemudian melihat kaitan antara asupan fruktosa dan kanker lambung. Fruktosa merupakan salah satu jenis gula yang banyak terdapat dalam makanan dan minuman berpemanis.
Hasil analisis menunjukkan bahwa asupan fruktosa yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan kejadian kanker lambung. Hubungan tersebut juga terlihat lebih jelas pada kelompok perempuan.
Meski demikian, temuan tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa fruktosa secara langsung menyebabkan kanker lambung. Penelitian hanya menemukan adanya hubungan berdasarkan data yang diamati selama periode penelitian.
Penelitian tersebut memanfaatkan data dari dua studi kesehatan jangka panjang di Amerika Serikat, yakni Nurses’ Health Study dan Health Professionals Follow-up Study.
Sebanyak 112.284 peserta masuk dalam analisis. Para peneliti mengikuti data kesehatan mereka selama bertahun-tahun. Dalam periode pemantauan tersebut, tercatat 278 kasus kanker lambung. Total masa pengamatan mencapai lebih dari 3,2 juta person-years.
Peserta memberikan informasi mengenai pola makan dan konsumsi minuman melalui kuesioner. Data pola konsumsi makanan dikumpulkan secara berkala, sementara informasi mengenai gaya hidup, riwayat kesehatan, dan kondisi medis juga diperbarui secara rutin.
Peneliti kemudian mengelompokkan peserta berdasarkan frekuensi konsumsi minuman berpemanis. Kelompok tersebut mulai dari kurang dari satu porsi per bulan hingga lebih dari satu porsi per hari.
Saat peserta melaporkan diagnosis kanker lambung, peneliti berupaya melakukan konfirmasi melalui catatan medis atau registri kanker.
Dalam analisisnya, peneliti juga memperhitungkan berbagai faktor lain yang dapat berhubungan dengan risiko kanker lambung. Salah satunya adalah konsumsi daging merah dan daging olahan.
Meski hasil penelitian menunjukkan hubungan yang cukup kuat, masyarakat tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa minuman manis terbukti menyebabkan kanker lambung.
Penelitian ini menggunakan desain observasional. Artinya, peneliti mengamati hubungan antara kebiasaan konsumsi minuman dan kejadian kanker tanpa melakukan eksperimen yang dapat membuktikan hubungan sebab-akibat.
Ada pula sejumlah keterbatasan yang perlu diperhatikan. Sebagian besar peserta merupakan tenaga kesehatan dan mayoritas berkulit putih. Mereka juga berada dalam rentang usia 30 hingga 75 tahun ketika pertama kali masuk dalam penelitian.
Kondisi tersebut membuat hasil penelitian belum tentu dapat diterapkan secara langsung kepada seluruh kelompok masyarakat, terutama kelompok ras dan etnis lain serta orang dewasa yang lebih muda. Jumlah kasus kanker lambung yang ditemukan juga relatif kecil dibandingkan total peserta.
Peneliti menilai studi lanjutan masih diperlukan untuk memastikan hubungan tersebut pada kelompok masyarakat yang lebih beragam. Penelitian berikutnya juga diperlukan untuk memahami mekanisme biologis yang mungkin menjelaskan hubungan antara minuman berpemanis dan kanker lambung.
Hasil penelitian ini tidak berarti seseorang yang sesekali minum minuman manis akan terkena kanker lambung. Studi tersebut hanya menunjukkan bahwa konsumsi minuman berpemanis secara rutin berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi dalam kelompok yang diteliti.
Namun, mengurangi konsumsi minuman tinggi gula tetap menjadi langkah yang masuk akal untuk menjaga pola makan secara keseluruhan. Air putih atau minuman tanpa tambahan gula dapat menjadi pilihan untuk konsumsi sehari-hari.
Yang paling penting, hasil penelitian perlu dibaca secara proporsional. Temuan ini menjadi sinyal untuk penelitian lebih lanjut, bukan alasan untuk menarik kesimpulan bahwa minuman manis merupakan penyebab langsung kanker lambung.
Written by: Muhammad Daffa

Post comments (0)