today08/05/2026


Pertunjukan gambang kromong, kesenian musik tradisional khas Betawi yang memadukan budaya Tionghoa dan Nusantara.
Bensradio.com – Gambang kromong merupakan salah satu kesenian musik tradisional khas Betawi yang lahir dari perpaduan budaya Tionghoa dan Nusantara. Kesenian ini telah berkembang selama lebih dari 200 tahun dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Betawi, terutama dalam acara adat seperti pernikahan, khitanan, hingga nazar.
Musik gambang kromong juga tidak dapat dipisahkan dari pertunjukan lenong Betawi. Alunan musiknya biasanya menjadi pembuka sebelum lakon dimulai dan sering diiringi tarian ronggeng yang meriah.
Gambang kromong mulai populer pada tahun 1930-an di kalangan masyarakat Tionghoa peranakan yang dikenal sebagai Cina Benteng. Pada awal kemunculannya, kesenian ini hanya menggunakan alat musik gambang.
Perkembangan kemudian terjadi ketika instrumen kromong ditambahkan ke dalam pertunjukan. Dari perpaduan dua alat musik inilah lahir nama “gambang kromong”.
Tokoh penting yang berperan dalam perkembangan awal gambang kromong adalah Nie Hoe Kong, seorang pemimpin komunitas Tionghoa pada masa kolonial. Awalnya, lagu-lagu yang dimainkan berupa musik klasik Tionghoa yang kini dikenal sebagai lagu phobin.
Seiring waktu, gambang kromong berkembang menjadi hiburan rakyat sekaligus simbol akulturasi budaya Betawi dan Tionghoa.
Dalam kehidupan masyarakat Betawi, gambang kromong memiliki berbagai fungsi penting, antara lain:
Hingga kini, kesenian gambang kromong masih sering tampil dalam festival budaya dan acara tradisional di Jakarta maupun wilayah penyangga Betawi lainnya.
Dalam satu kelompok gambang kromong biasanya terdapat:
Jumlah panjak berkisar antara 8 hingga 25 orang tergantung kebutuhan pertunjukan. Mereka tidak hanya memainkan alat musik, tetapi juga dapat bernyanyi hingga tampil dalam pertunjukan lenong.
Sesuai namanya, gambang kromong menggunakan dua alat musik utama, yaitu gambang dan kromong. Namun, pertunjukan ini juga dilengkapi berbagai instrumen lain yang menciptakan warna musik khas.
Gambang merupakan alat musik berbentuk bilah kayu yang disusun di atas resonator menyerupai perahu. Cara memainkannya dengan dipukul dan menghasilkan nada pentatonis.
Kromong terdiri dari 10 gong kecil atau pecon yang disusun dalam rak kayu. Instrumen ini berfungsi sebagai pembawa melodi utama.
Ketiga alat musik ini merupakan instrumen gesek berdawai dua yang menghasilkan melodi khas bernuansa Tionghoa.
Bangsing adalah alat musik tiup dari bambu yang menghasilkan suara lembut dan melodius.
Instrumen ini berfungsi sebagai penanda irama dan struktur musik dalam pertunjukan.
Gendang digunakan untuk mengatur tempo dan ritme musik.
Kedua instrumen ini menjadi pelengkap yang menciptakan efek ritmis khas gambang kromong.
Pada awalnya, gambang kromong menggunakan tangga nada pentatonis khas musik Tionghoa yang terdiri dari lima nada.
Namun, seiring perkembangan zaman, pengaruh musik Barat mulai masuk sehingga muncul penggunaan tangga nada diatonis dengan tujuh nada.
Perubahan ini menimbulkan perdebatan di kalangan seniman:
Lagu instrumental khas Tionghoa yang biasanya menjadi pembuka pertunjukan.
Lagu tradisional dengan lirik Melayu-Betawi maupun Tionghoa.
Jenis lagu hiburan yang lebih modern dan sering digunakan untuk ngibing atau menari. Beberapa lagu populer antara lain:
Pada era 1960-an, musik gambang kromong mengalami transformasi besar. Tokoh legendaris Betawi, Benyamin Sueb, turut mempopulerkan gambang kromong modern dengan memasukkan alat musik Barat seperti gitar, drum, dan saksofon.
Kolaborasi tersebut melahirkan gaya musik baru yang lebih dinamis dan mudah diterima generasi muda tanpa meninggalkan identitas budaya Betawi.
Pemain gambang kromong biasanya mengenakan pakaian khas Betawi yang mencerminkan identitas budaya lokal.
Kostum ini menjadi bagian penting dalam pertunjukan karena memperkuat nuansa tradisional Betawi.
Gambang kromong bukan sekadar hiburan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang mendalam, seperti:
Karena itu, pelestarian gambang kromong menjadi penting agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai budaya Betawi.
Written by: RAIHAN SYARIF

Post comments (0)