Bens Radio

106.2 FM Jakarta

Current track

Title

Artist


Benarkah penyintas thalassemia butuh transfusi darah seumur hidup?

Written by on 30/05/2021

Jangan lupa sering memeriksa kadar zat besi supaya tidak terlambat, menghindari terkena nyeri ulu hati karena ada batu empedu

Jakarta (ANTARA) – Orang dengan thalassemia berat atau mayor perlu mendapatkan transfusi darah seumur hidup mereka, ungkap dokter konsultan hematologi-onkologi anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Sri Mulatsih.

“Supaya tidak teracuni tubuhnya. Transfusi rutin agar tumbuh kembang penyintas baik,” kata dia dalam sebuah webinar kesehatan, dikutip Minggu.

Thalassemia merupakan kondisi akibat tidak bagusnya kualitas darah merah karena salah satu protein yang menyebabkan darah merah lentur kurang diproduksi sehingga usianya tak sepanjang pada orang normal (yakni 125 hari) dan selalu rusak.

Dampaknya, sumsum tulang lalu bekerja secara keras untuk membuat darah merah, sehingga pasien selalu mengalami anemia berulang dan membutuhkan transfusi darah.

Baca juga: Negara Asia Tenggara berbagi pengalaman atasi thalassemia

Penyakit yang diturunkan orang tua, baik ayah atau ibu ini memiliki gejala umum berupa pucat apabila sudah masuk kategori berat namun cenderung tak terdeteksi pada mereka dengan gejala ringan atau minor.

Hingga saat ini, belum ada obat untuk thalassemia sehingga penyintas yang bergejala berat (mayor) sehingga harus mendapatkan tranfusi darah rutin dengan minimal hemoglobin (Hb) 9.

Transfusi darah bertujuan agar darah bisa mengalir ke seluruh tubuh dan fungsi organ menjadi lebih baik. Sumsum tulang juga tidak perlu bekerja terlalu berat untuk mengkompensasi karena anemia yang berat.

Baca juga: Penderita Thalassemia di Jabar Capai 1.613 Orang

Selain transfusi, penyandang thalassemia mayor juga perlu diberi kelasi besi karena berisiko kelebihan zat besi akibat zat ini tidak berfungsi di tubuh (akibat tidak larut di dalam air, tidak bisa diikat dan dibuang) sehingga meracuni tubuh.

“Oleh karena itu selain transfusi rutin, harus diberikan kelasi besi rutin yang kini sudah tersedia dalam bentuk oral. Dulu (pemberian kelasi besi) masih disuntik. Sekali suntik, dipompa 8 jam. Bayangin dan itu harus setiap hari. Alhamdulillah sekarang kita sudah ada kelasi yang diminum setiap hari,” ujar Sri.

Transfusi dan pemberian kelasi besi juga terkadang dibutuhkan penyandang thalassemia karena darah merahnya mudah pecah sehingga berisiko kelebihan zat besi.

Mereka dengan thalassemia yang mendapatkan transfusi darah dan kelasi besi rutin sesuai jadwal diperkirakan angka usia harapan hidupnya melebihi 50 tahun.

“Jangan lupa sering memeriksa kadar zat besi supaya tidak terlambat, menghindari terkena nyeri ulu hati karena ada batu empedu. Yang menjadi empedu, zat besi-nya itu,” demikian pesan Sri.

Baca juga: Cegah thalassemia lewat deteksi dini di keluarga “ring satu”

Baca juga: Surat skrining thalassemia jadi syarat nikah di Siprus dan Iran

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/2183002/benarkah-penyintas-thalassemia-butuh-transfusi-darah-seumur-hidup


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *