today16/07/2026


Fauzi Bowo mengenang kontribusi Ali Sadikin dalam membangun kebudayaan Jakarta melalui Taman Ismail Marzuki dan kebebasan berkarya bagi seniman.
Bensradio.com – Rangkaian peringatan 100 Tahun Ali Sadikin resmi ditutup melalui sesi Memorial Lecture yang menghadirkan Mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo (Foke). Dalam kesempatan tersebut, Foke menegaskan bahwa Ali Sadikin merupakan sosok visioner yang berhasil meletakkan fondasi pembangunan kebudayaan Jakarta dengan menjadikan seni sebagai hak publik yang setara dengan pendidikan dan kesehatan.
Memorial Lecture yang berlangsung pada Kamis (16/7) menjadi penutup rangkaian kegiatan peringatan 100 tahun kelahiran mantan Gubernur DKI Jakarta periode 1966–1977 itu. Foke bahkan mengusulkan agar Memorial Lecture dijadikan agenda tahunan sebagai bagian dari perjalanan menuju peringatan 500 Tahun Kota Jakarta.
Menurutnya, Ali Sadikin bukan sekadar kepala daerah, melainkan seorang negarawan dengan visi pembangunan yang jauh melampaui zamannya.
Dalam pemaparannya, Foke mengungkapkan bahwa salah satu warisan terbesar Bang Ali adalah keberaniannya menetapkan kebudayaan sebagai public good atau barang publik sejak tahun 1968.
“Kebudayaan ini utamanya adalah sebuah barang publik. Dia tidak harus mendatangkan keuntungan, tapi wajib ada,” ujar Foke.
Prinsip tersebut kemudian menjadi landasan lahirnya Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai pusat kesenian dan kebudayaan Jakarta yang hingga kini masih menjadi ikon perkembangan seni di ibu kota.
Foke menceritakan bahwa pembangunan Taman Ismail Marzuki bermula dari pertanyaan sederhana yang dilontarkan Ali Sadikin kepada para seniman.
“Dulu itu di Senen seniman-seniman pada ngumpul, sekarang pada ngumpul di mana?” kata Foke menirukan ucapan Bang Ali.
Pertanyaan tersebut melahirkan gagasan menyediakan ruang kreatif bagi para seniman di kawasan bekas Kebun Binatang Cikini yang kemudian berkembang menjadi Taman Ismail Marzuki.
Namun, menurut Foke, visi Bang Ali tidak berhenti pada pembangunan gedung semata. Yang jauh lebih penting adalah menjamin kebebasan para seniman untuk berkarya tanpa intervensi pemerintah.
Ia mengutip salah satu pernyataan legendaris Ali Sadikin:
“Pemerintah tidak boleh ikut campur dan menentukan. Biar para seniman itu sendiri, bebas. Mereka merdeka dalam mencipta.”
Prinsip itu menjadikan TIM bukan hanya pusat pertunjukan seni, tetapi juga simbol komitmen pemerintah dalam menyediakan ruang kreativitas bagi masyarakat.
Foke mengenang Ali Sadikin sebagai pemimpin yang selalu berpikir jauh ke depan atau thinking out of the box.
Ia menyebut Bang Ali sebagai pelopor penggunaan komputer dalam pemerintahan DKI Jakarta pada 1969 sekaligus penyusun master plan pembangunan Jakarta secara komprehensif.
“Beliau adalah seorang pribadi yang sangat kokoh akan keyakinannya. Kalau dia sudah yakin, dia akan mempertahankan itu dan konsisten mempertahankannya sampai kapan pun,” kenang Foke.
Di tengah keterbatasan anggaran pada awal masa kepemimpinannya, Ali Sadikin tetap mampu menghadirkan berbagai pembangunan monumental yang menjadi fondasi Jakarta modern.
Menurut Foke, gagasan Ali Sadikin mengenai kebebasan berkarya, kemandirian seniman, serta pelestarian warisan budaya masih sangat relevan di era digital saat ini.
Ia berharap pemerintah terus menjaga komitmen dalam mendukung perkembangan seni dan budaya sebagai bagian penting dari pembangunan kota.
Selain itu, Foke mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang tetap menjaga identitas dan akar budayanya.
“Saya yakin sampai sekarang tidak ada simbol yang lebih kuat untuk menggambarkan visi kebudayaan Bang Ali selain Taman Ismail Marzuki,” tutupnya.
Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin menjadi momentum untuk kembali mengingat kontribusi besar sang gubernur dalam membangun Jakarta, khususnya melalui kebijakan yang menempatkan kebudayaan sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat. Warisan tersebut diharapkan terus menjadi inspirasi dalam menyongsong Jakarta menuju usia 500 tahun sebagai kota yang maju, inklusif, dan berakar pada nilai-nilai budaya.
Written by: RAIHAN SYARIF

Post comments (0)