today02/07/2026

Bensradio.com – Indonesia memiliki banyak hidangan khas yang hanya muncul pada perayaan tertentu. Di tengah beragam menu Lebaran, masyarakat Betawi mempunyai sajian tradisional bernama Sayur Besan. Masakan ini bukan hanya dikenal karena cita rasanya yang gurih, tetapi juga karena nilai budaya yang melekat di dalamnya.
Bagi masyarakat Betawi, Sayur Besan menjadi simbol penghormatan, kebersamaan, dan eratnya hubungan kekeluargaan. Meski kini tidak lagi mudah ditemukan, hidangan ini masih dianggap sebagai salah satu warisan kuliner yang patut dilestarikan.
Keistimewaan Sayur Besan terletak pada bahan utamanya, yaitu terubuk. Terubuk merupakan bunga muda dari tanaman tebu yang memiliki tekstur lembut dan rasa yang khas setelah dimasak.
Bahan tersebut kemudian dimasak menggunakan santan bersama aneka rempah-rempah seperti bawang merah, bawang putih, kemiri, lengkuas, daun salam, serta cabai. Perpaduan bumbu menghasilkan kuah yang gurih, harum, dan cocok disantap bersama nasi hangat.
Dalam beberapa resep, masyarakat Betawi juga menambahkan kentang, kacang panjang, soun, petai, hingga ebi agar cita rasa Sayur Besan semakin kaya.
Nama Sayur Besan berasal dari tradisi masyarakat Betawi yang menjadikan hidangan ini sebagai menu utama ketika dua keluarga bertemu dalam acara pernikahan.
Kata “besan” merujuk pada hubungan antara orang tua mempelai pria dan wanita. Penyajian makanan ini menjadi simbol penghormatan kepada keluarga yang baru saja dipersatukan melalui ikatan pernikahan.
Seiring berjalannya waktu, Sayur Besan juga mulai disajikan pada Hari Raya Idulfitri karena momen tersebut identik dengan silaturahmi keluarga besar. Kehadirannya menjadi lambang kehangatan sekaligus mempererat hubungan antaranggota keluarga.
Tidak banyak kuliner tradisional yang memiliki filosofi sedalam Sayur Besan. Bahan utama berupa terubuk yang terdiri atas butiran-butiran kecil melambangkan persatuan dan kekompakan.
Makna tersebut mencerminkan harapan agar hubungan antaranggota keluarga selalu harmonis, saling mendukung, serta tetap terjalin erat meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda.
Nilai inilah yang membuat Sayur Besan tidak sekadar menjadi hidangan, tetapi juga bagian dari identitas budaya Betawi.
Sayur Besan memiliki kuah santan yang cukup kental dengan aroma rempah yang kuat. Rasanya didominasi gurih dengan sentuhan manis alami dari santan dan terubuk.
Hidangan ini biasanya disandingkan dengan lauk seperti ikan asin goreng, telur balado, emping, sambal, atau kerupuk sehingga menghasilkan perpaduan rasa yang semakin nikmat.
Karena menggunakan santan segar dan rempah-rempah pilihan, Sayur Besan memiliki aroma khas yang langsung menggugah selera ketika disajikan.
Meskipun memiliki nilai sejarah yang tinggi, Sayur Besan kini mulai jarang ditemui. Salah satu penyebabnya adalah bahan utama berupa terubuk yang tidak mudah diperoleh di pasar tradisional.
Selain itu, generasi muda lebih banyak mengenal hidangan modern atau menu Lebaran yang lebih umum seperti opor ayam, rendang, dan semur. Akibatnya, jumlah masyarakat yang masih memasak Sayur Besan terus berkurang.
Namun demikian, berbagai komunitas budaya Betawi dan pelaku kuliner terus berupaya memperkenalkan kembali hidangan ini melalui festival budaya, bazar kuliner, hingga media digital.
Melestarikan Sayur Besan berarti ikut menjaga kekayaan budaya Indonesia. Kuliner tradisional tidak hanya menghadirkan cita rasa khas, tetapi juga menjadi media untuk mengenalkan sejarah, adat istiadat, dan nilai-nilai kehidupan kepada generasi berikutnya.
Dengan semakin meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan tradisional, Sayur Besan memiliki peluang untuk kembali dikenal luas sebagai salah satu ikon kuliner Betawi yang patut dibanggakan
Sayur Besan merupakan bukti bahwa sebuah hidangan mampu menyimpan cerita panjang tentang budaya dan kebersamaan. Berbahan utama terubuk dengan kuah santan yang gurih, makanan khas Betawi ini menjadi simbol persatuan keluarga sekaligus pelengkap suasana hangat saat Lebaran.
Di tengah modernisasi, menjaga keberadaan Sayur Besan menjadi langkah penting agar warisan kuliner Betawi tetap hidup dan terus dikenal oleh masyarakat Indonesia.
Written by: RAIHAN SYARIF

Post comments (0)