today16/07/2026


Pengunjung menyaksikan langsung proses membatik menggunakan canting sebagai bagian dari program Eduwisata Batik.
Bensradio.com – Sindikasi Media Network (SMN) mengunjungi Rumah Batik Komar Bandung di kawasan Cigadung sebagai bagian dari rangkaian eksplorasi budaya dan ekonomi kreatif. Kegiatan ini bertujuan memperluas wawasan mengenai perkembangan industri batik nasional sekaligus memperkuat publikasi mengenai warisan budaya Indonesia melalui media.
Rombongan disambut langsung oleh pendiri Rumah Batik Komar, Dr. H. Komarudin Kudiya, yang memperkenalkan perjalanan lembaga tersebut sejak berdiri pada 1998 sebagai pusat produksi, pendidikan, penelitian, dokumentasi, inovasi, sekaligus pelestarian batik Indonesia.
Menurut Komarudin, batik bukan sekadar kain bermotif, melainkan karya budaya yang lahir melalui proses panjang, teknik khusus, serta memiliki nilai filosofi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Orang sering melihat batik hanya dari tampilannya. Padahal batik memiliki proses, ekspresi, dan nilai budaya yang tidak dimiliki kain bermotif batik hasil cetak,” ujar Komarudin.

Dalam sesi workshop, peserta diperkenalkan pada berbagai tahapan pembuatan batik tulis dan batik cap, mulai dari proses pencantingan menggunakan malam panas hingga pewarnaan kain.
Komarudin menjelaskan bahwa batik autentik memiliki karakter yang tidak dapat disamakan dengan kain bermotif batik hasil printing karena proses pembuatannya menggunakan teknik perintangan warna dengan lilin panas.
Selain memberikan edukasi mengenai filosofi batik, Rumah Batik Komar Bandung juga terus mengembangkan inovasi teknologi untuk mendukung proses produksi tanpa menghilangkan nilai tradisional yang menjadi ciri khas batik Indonesia.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan kepada peserta adalah Batik Pendulum, alat yang memanfaatkan gerakan ayunan untuk menghasilkan pola-pola unik melalui aliran malam panas.
Rumah Batik Komar juga mengembangkan berbagai perangkat pendukung seperti meja kerja ergonomis, alat pencantingan modern, hingga teknologi yang membantu meningkatkan efisiensi proses produksi.
Meski memanfaatkan teknologi, Komarudin menegaskan bahwa seluruh inovasi tersebut tetap mempertahankan prinsip utama membatik sehingga nilai seni dan keaslian batik tetap terjaga.
Selama kunjungan berlangsung, peserta Sindikasi Media Network berkesempatan melihat koleksi lebih dari 10.000 desain batik, sekitar 4.000 canting cap tembaga, serta berbagai buku hasil penelitian batik yang telah diterbitkan Komarudin.
Rumah Batik Komar juga telah mengantongi empat paten industri yang berkaitan dengan pengembangan alat bantu membatik sebagai bentuk inovasi dalam mendukung keberlanjutan industri batik nasional.
Melalui program Eduwisata Batik, Rumah Batik Komar membuka kesempatan bagi pelajar, mahasiswa, akademisi, pelaku UMKM, hingga masyarakat umum untuk mempelajari sejarah, filosofi, teknik membatik, serta pengembangan usaha berbasis batik.
Program tersebut telah dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua, sebagai bagian dari upaya memperluas regenerasi pembatik sekaligus menjaga keberlangsungan warisan budaya Indonesia.
Kunjungan Sindikasi Media Network diharapkan menjadi awal kolaborasi dalam memperkuat publikasi mengenai batik Indonesia melalui pemberitaan yang edukatif dan informatif.
Melalui sinergi antara media dan pelaku industri kreatif, masyarakat diharapkan semakin memahami perbedaan batik autentik dengan tekstil bermotif batik, sekaligus semakin menghargai proses, filosofi, dan nilai budaya yang terkandung dalam setiap karya batik Indonesia.
Written by: RAIHAN SYARIF
Post comments (0)