today13/05/2026


Ondel-ondel merupakan budaya khas Betawi yang awalnya digunakan sebagai ritual penolak bala dan kini menjadi ikon budaya Jakarta.
Bensradio.com – Ondel-ondel merupakan salah satu warisan budaya khas Betawi yang sangat identik dengan Jakarta. Boneka raksasa berwajah unik ini tidak hanya dikenal sebagai hiburan rakyat, tetapi juga memiliki sejarah panjang yang sarat makna spiritual dan tradisi leluhur masyarakat Betawi.
Di balik tampilannya yang kini lebih ceria dan ramah, sejarah ondel-ondel ternyata bermula dari ritual adat untuk menangkal wabah penyakit dan mengusir roh jahat.
Berdasarkan catatan dalam buku Kesenian Nasional 6 Ondel-Ondel karya Kustopo, keberadaan ondel-ondel diyakini sudah ada sejak zaman nenek moyang masyarakat Betawi.
Pada masa lampau, ondel-ondel bukanlah pertunjukan hiburan seperti sekarang. Boneka besar berbentuk manusia tersebut digunakan dalam ritual adat yang dikenal sebagai tolak balak.
Tradisi tolak balak dipercaya mampu mengusir gangguan makhluk halus, roh jahat, hingga wabah penyakit yang menyerang perkampungan warga.
Konon, tradisi ini bermula dari sebuah kampung di wilayah Sundapura yang dilanda wabah misterius. Banyak warga mengalami demam tinggi, menggigil, hingga muncul bintik merah pada kulit.
Karena belum adanya ilmu kedokteran modern pada masa itu, masyarakat meminta bantuan seorang dukun untuk mencari penyebab wabah dan jalan penyembuhannya.
Dalam kondisi yang semakin genting, sang dukun melakukan semedi dan memohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa. Dari hasil meditasi tersebut, ia mendapatkan wangsit untuk membuat boneka besar menyerupai manusia.
Boneka itu dipercaya sebagai simbol pelindung kampung yang mampu mengusir roh jahat penyebab penyakit.
Warga kemudian membuat orang-orangan besar tanpa nama dan mengaraknya mengelilingi kampung sambil diiringi mantra, sesajen, serta bunyi-bunyian sederhana.
Menurut kepercayaan masyarakat saat itu, ritual tersebut berhasil meredakan wabah yang menyerang desa mereka. Sejak itulah, masyarakat mulai percaya bahwa ondel-ondel memiliki kekuatan spiritual sebagai penolak bala.
Tradisi mengarak ondel-ondel kemudian dilakukan secara turun-temurun dalam berbagai upacara adat masyarakat Betawi.
Seiring perkembangan zaman, fungsi ondel-ondel mulai mengalami perubahan. Ritual sakral perlahan berkembang menjadi pertunjukan budaya yang lebih terbuka untuk masyarakat luas.
Musik pengiring sederhana seperti kentongan mulai digunakan untuk menambah kemeriahan arak-arakan ondel-ondel.
Tradisi tersebut akhirnya berkembang menjadi bagian penting dalam kesenian rakyat Betawi yang ditampilkan dalam berbagai acara adat dan hiburan masyarakat.
Perubahan besar terjadi saat Ali Sadikin menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Pada masa kepemimpinannya, ondel-ondel mulai dipromosikan sebagai seni pertunjukan khas Betawi sekaligus identitas budaya Jakarta.
Berdasarkan informasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, ondel-ondel kini sering ditampilkan dalam festival budaya, perayaan daerah, hingga penyambutan tamu penting.
Musik pengiringnya juga semakin beragam, mulai dari tanjidor, rebana, gambang kromong, hingga alat musik tradisional Betawi lainnya.
Penampilan ondel-ondel pun mengalami perubahan besar. Jika dahulu identik dengan wajah menyeramkan dan aura mistis, kini wajah boneka dibuat lebih cerah dan bersahabat agar mudah diterima semua kalangan.
Transformasi tersebut menunjukkan bagaimana budaya tradisional mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai sejarahnya.
Di tengah modernisasi Jakarta yang terus berkembang, ondel-ondel tetap bertahan sebagai simbol budaya Betawi yang terus dilestarikan hingga sekarang.
Sejarah ondel-ondel menjadi bukti bahwa warisan budaya Indonesia memiliki nilai filosofis dan spiritual yang kuat.
Dari yang awalnya dipercaya sebagai penangkal wabah penyakit dan roh jahat, ondel-ondel kini berubah menjadi ikon budaya Betawi yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia bahkan wisatawan mancanegara.
Perjalanan panjang ondel-ondel juga memperlihatkan bagaimana tradisi leluhur dapat terus hidup dan berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan identitas aslinya.
Melestarikan ondel-ondel bukan hanya menjaga sebuah kesenian tradisional, tetapi juga menjaga sejarah, nilai budaya, dan jati diri masyarakat Betawi.
Written by: RAIHAN SYARIF

Post comments (0)