WOW…..Kita Punya Festival Sastra Dunia Loh!!

Abang none, negara kita yang kaya dengan suku dan bahasa melahirkan ragam seni dan budaya juga tutur Sastra yang beragam, dan hal inipun dipandang oleh dunia luar (negara lain) sebagai bangsa yang unik dan Indonesia dipandang penting dalam percaturan sastra dunia. Hebat ya ?

Jakarta International Literary Festival (JILF) / Festival Sastra 2019 dibagi menjadi dua, yaitu Program Utama yang terdiri atas pidato kunci, simposium, bincang sastra dan penulis, malam pembacaan karya, lab ekosistem sastra, pameran sastra liar era kolonial, dan pasar hak cipta buku yang mempertemukan penerbit-penerbit internasional dan nasional. Program Pendukung terdiri atas diskusi prafestival dan ruang sastra dan komunitas yang akan diisi oleh pentas teater, musik, dan pemutaran sinema film.

JILF 2019 mengangkat “Pagar” sebagai tema sentral untuk mencerminkan batasan-batasan dunia yang semakin lebur. Pagar yang berfungsi sebagai pelindung sekaligus pemisah antara dunia luar dan ketenangan rumah adalah sesuatu yang harus dilintasi jika kita ingin mengenal dan dikenal oleh yang lain.

Dalam helatan pertama tahun ini, JILF mengundang 55 penulis, 26 penerbit, dan 21 komunitas sastra. Mereka datang dari Afrika Selatan, Botswana, Filipina, India, Indonesia, Inggis, Jerman, Malaysia, Mauritius, Palestina, Singapura, Siprus, Somalia, Thailand, dan Turki.

Pembukaan rangkaian festival ditandai dengan Pidato Kunci yang diisi oleh Adania Shibli, novelis Palestina, yang membawakan pidatonya yang berjudul “Saya Tidak Bercakap Bahasa Saya” yang akan menggambarkan kisahnya dalam keheningan tetapi bisa berbicara lantang lewat karyanya, tentang pengalaman hidup di Palestina, dan pengekangan bahasa yang terjadi di sana.

Tema-tema yang diangkat dalam delapan simposium antara lain adalah “Lepas dari Komodifikasi” yang membahas apakah praktik komodifikasi kesusastraan yang menjadi akar masalah atau adakah faktor lain, atau tentang karya sastra dari satu negara yang dianggap tak memenuhi kategori untuk menembus pasar internasional dan diterima dengan baik.

Simposium itu diisi oleh Laura Prinsloo (Indonesia), Linda Christanty (Indonesia), Shenaz Patel (Mauritius), dan Oliver Precht (Jerman). Ada pula “Melawan Bias” yang membahas mengenai feminin dan maskulin dalam sastra dan bagaimana menyikapi bias-bias ini, pmbicaranya adalah Bejan Matur (Turki), Zainab Priya Dala (Afrika Selatan), dan Saras Dewi (Indonesia), serta dimoderatori oleh Hera Diani (Indonesia). Enam tema simposium lainnya adalah “Kuratorial Tak Tampak”, “Ketidaksetaraan 4.0”, “Membaca Satu Sama Lain”, “Selatan Menatap Balik”, “Dilema Tema Umum Selatan”, dan “Perlukah Kanon Selatan”.

Jakarta International Literary Festival (JILF) hadir 20-24 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, dan akan menjadi agenda tahunan. JILF 2019 dikuratori oleh Eka kurniawan, Isyana Artharini, dan Yusi Avianto Pareanom, dan acaranya di dukung oleh Pemerintah pusat dalam hal ini Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Platform Indonesiana, bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), menyelenggarakan sebuah festival sastra.

Semoga muncul budayawan dan sastrawan kelas dunia di Negara kita tercinta.

Sumber : Aldin Hidayat – Kemendikbud RI