Warteg di Jakarta, Ternyata Ada Sejak Tahun 1950

Warung Tegal atau yang akrab dikenal dengan warteg muncul di Jakarta di tahun 1950. Pada saat itu terjadi fenomena perpindahan ibu kota Indonesia dari Yogyakarta ke Jakarta. Saat perpindahan ibu kota ini, banyak masalah dan bentrok terjadi sehingga orang-orang dari Jawa Tengah banyak yang bermigrasi ke Jakarta. Pada tahun 1950 inilah pembangunan besar-besaran di Jakarta oleh Soekarno. Saat itu, Soekarno menjadi presiden yang juga seorang arsitektur.
Sejarawan JJ Rizal mengatakan seperti yang dikutip dari KompasTravel mengatakan, sebenarnya fenomena warteg ini muncul ketika ibu kota Indonesia dipindahkan dari Yogyakarta ke Jakarta pada tahun 1950. Pada saat itu banyak masalah dan bentrok. Lalu terjadi urbanisasi, orang-orang dari Jawa Tengah ini pindah ke Jakarta karena banyak pembangunan di Kebayoran Baru.
Pembangunan juga dilakukan oleh Soekarno dari Jakarta sebagai kota kolonial ke kota nasional. “Dilanjutkan dengan pembangunan Jakarta dari ibu kota kolonial ke kota nasional. Misalnya pembangunan Monas, Jembatan Semanggi, Tugu Pembebasan Irian, akses pelebaran jalan Thamrin,” lanjutnya. Pada saat pembangunan inilah, para tukang perlu makan karena banyak proyek besar dan dengan tempat-tempat yang berbeda ini muncul. Warung-warung ini mayoritas pedagangnya berasal dari Tegal. “Waktu itu warung-warung ini diisi oleh orang-orang Tegal, nah ini jadi warteg ini sebagai penanda karena yang berjualan orang Tegal jadi sampai sekarang dikenal seperti itu. Waktu itu juga banyak fenomena seperti ini, tukang cukur dari Garut makanya dikenal bahwa tukang cukur identik dengan Garut. Ini karena banyaknya suatu etnis yang melakukan pekerjaan tersebut,” jelas Rizal.

Ia juga menambahkan jika warteg ini hadir tidak hanya sebagai bisnis dan mencari keuntungan tetapi warteg ini sebagai paguyuban untuk orang-orang Tegal yang merasa senasib di Jakarta dan punya peran serta untuk pembangunan kota Tegal. “Warteg sebenarnya bukan hanya rumah makan yah yang mencari keuntungan saja. Sebenarnya melalui warteg ini menjadi paguyuban orang-orang Tegal yang sama-sama senasib mencari peruntungan di Jakarta. Sekarang mereka punya Kowarteg (Koperasi Warung Tegal),” jelas Fadly. “Melalui Kowarteg ini, mereka di dalam saling membantu dan berkumpul, memberi masukan untuk perkembangan warteg satu sama lain. Warteg juga punya peran serta untuk membangun kota Tegal,” tambahnya.

Sumber : www.travel.kompas.com
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *