Silat Cingkrik

Wakil Ketua Bidang Pelestarian dan Pengembangan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Yahya Andi Saputra mengatakan, berdasarkan cerita tutur kelahiran Silat Cingkrik tidak terlepas dari cerita permaisuri kerajaan Padjajaran yang mengasingkan diri ke hutan.

Yahya menjelaskan, secara etimoligis Cingkrik berasal dari kata cicingkrikan, jingke atau jinjit. Gerakannya mirip orang menari karena dilakukan sambil berjinjit.

Silat Cingkrik, sambungnya, memiliki 12 jurus dasar dan tiga jurus sambut. Jurus dasar itu meliputi, Keset Bacok, Keset Gedor, Cingkrik, Langkah Tiga, Langkah Empat, Buka Satu, Saup, Macan, Tiktuk, Singa, Lokbe, dan Longok.

Ia menambahkan, hingga saat ini terdapat dua aliran Silat Cingkrik yang banyak dipelajari. Kedua aliran itu yakni, Cingkrik Goning dan Cingkrik Sinan.

Cikrik Goning diperkenalkan oleh Engkong Goning. Pria bernama asli Anin Bin Urim tersebut lahir tahun 1895 dan wafat pada 1975 atau di saat berumur 80 tahun. Engkong Goning merupakan salah seorang pejuang dari tanah Betawi, tepatnya di Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Sementara, aliran silat Cingkrik Sinan dikembangkan Engkong Sinan yang mendirikan perguruan Cingkrik di kawasan Condet, Lebak Bulus, dan Rawamangun.

Sumber : www.beritajakarta.id