Ingin Selalu Bahagia?? Sediakan 5 Ruang Ini!!

Ruang Ekspektasi 

Setiap laki-laki dan perempuan yang hendak menikah, pasti memiliki sejumlah ekpektasi terhadap pasangan, maupun terhadap kehidupan rumah tangganya kelak. 

Pada sisi yang lain, masing-masing dari laki-laki dan perempuan, juga memiliki cita-cita, harapan, dan keingnan akan kehidupannya di masa yang akan datang.

Tentu saja hal ini menjadi hak bagi setiap diri untuk memilikinya, bahkan dalam batas tertentu bisa dianggap sebagai sebuah ‘kewajiban’ bagi setiap orang agar bisa disebut sebagai memiliki arah dan gairah hidup. Seseorang bisa disebut sebagai ‘tidak jelas’, apabila tidak pernah punya mimpi untuk kehidupannya.

Namun, ekspektasi haruslah terukur, jangan sampai berlebihan. Membayangkan kondisi-kondisi ideal pada pasangan dan pada kehidupan keluarga, tidaklah salah.

Ruang Dialog

Hendaknya suami dan istri bersedia melakukan dialog atas segala sesuatu yang menjadi impian pribadi masing-masing. Sediakan ruang untuk berdialog dengan berbagai pihak, bahkan mendialogkan hal-hal yang sudah mencapai mimpi yang dibangun selama ini. 

Pada saat masih lajang, tentu tidak masalah menetapkan cita-cita setinggi langit. Namun setelah menikah, cita-cita itu harus melewati proses dialog dengan pasangan, sebab seorang suami atau istri tidak akan bisa sukses sendirian.

Ruang Adaptasi

Kedua pihak harus beradaptasi setelah menikah. Suami dan istri saling mempertemukan visi, mempertemukan harapan, mempertemukan keinginan. 

Inilah pentingnya suami dan istri selalu menyediakan ruang untuk beradaptasi. Tak bisa lagi seorang lelaki memaksakan kehendak demi tercapainya keinginan dan ambisi pribadi.

Tak bisa lagi seorang perempuan memaksakan kehendak demi tercapainya keinginan dan ambisi pribadi. Karena mereka telah menikah, maka harus bersedia untuk beradaptasi.

Ruang Kompromi

Terkadang suami harus merelakan bagian-bagian dari cita-cita dan keinginannya tidak tercapai sepenuhnya. Demikian pula terkadang istri harus merelakan bagian-bagian dari cita-cita dan keinginannya tidak tercapai sepenuhnya. 

Hal ini setelah melalui serangkaian dialog, dan melakukan proses adaptasi bersama pasangan. Pada titik ini, sering kali terasa menyakitkan, apabila tidak disertai dengan kesadaran dan penerimaan yang utuh atas makna pernikahan.

Ruang Kemenangan Cinta

Keseluruhan ruang tersebut, ujungnya adalah untuk proses memenangkan cinta. Suami dan istri harus menyediakan ruang dalam dirinya untuk tergantung kepada pasangan. Ya benar, tergantung kepada pasangan. 

Jika istri menuruti kemauannya sendiri, merasa bisa hidup dengan caranya sendiri, merasa bisa sepenuhnya mandiri, merasa tidak butuh suami, maka tak akan bisa memenangkan cinta.

Demikian pula jika suami menuruti kemauannya sendiri, merasa bisa hidup dengan caranya sendiri, merasa bisa sepenuhnya mandiri, merasa tidak butuh istri, maka tak akan bisa memenangkan cinta.

Yang harus mereka perjuangkan adalah memenangkan cinta yang sudah mereka rajut sejak prosesi akad nikah. Cinta yang bermuara kepada Allah SWT. 

Sumber : www.kompasiana.com