Indonesia punya Desa Pemajuan Kebudayaan

Pameran imajinasi desa pemajuan kebudayaan: sinkronisasi Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) dengan perencanaan desa. Manuskrip, tradisi lisan, adat istiadat, ritus, pengetahuan dan teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, olah raga tradisional dan cagar budaya adalah aset kekayaan budaya yang masih berakar di desa-desa hingga hari ini. Bagi warga, mempertahankan warisan leluhur tersebut adalah upaya untuk menghadirkan kembali suatu peristiwa yang pernah terjadi dahulu, dan menemukan keterkaitannya dengan kejadian sekarang.

Meski kini kian tergusur, namun pengakuan terhadap keunggulan dari pengetahuan maupun teknologi tradisional diakui oleh ilmu pengetahuan modern. Belum lagi berbagai seni pertunjukan yang di dalam setiap bunyi dan gerak mengekspresikan filosofi atas kehidupan.
Memberikan makna pada seluruh kekayaan yang selama ini berperan sebagai perantara antara manusia dan daya-daya kekuatan alam, bagi 8 desa: Desa Alue le Mirah, Aceh Utara; Desa Bumiayu, Pali; Desa Salawu, Tasikmalaya; Desa Penggarit, Pemalang; Desa Panggungharjo, Bantul; Desa Tapan, Tulungagung; Desa Kutuh, Bali; dan Desa Poto, Sumbawa; dan,tidaklah mudah.

Selain perubahan lingkungan yang masif, pola kehidupan masyarakat juga turut berubah sehingga peralatan yang sebelumnya menjadi ”jalan masuk” warga untuk mengenal sifat alami dari bahan baku yang mereka gunakan sehari-hari untuk memasak, makan, bertani, berpakaian, bertempat tinggal dan lainnya, tergerus digantikan oleh bahan-bahan yang terbuat dari industri besar.
Desa Perintis Pemajuan Kebudayaan merupakan kawasan pedesaan yang ingin mempertahankan kebudayaannya dan sedang berusaha memberikan makna baru atas keberlangsungan hubungan-hubungan warga dengan alam hari ini. Memanfaatkan ranah kewenangan yang diamanatkan oleh Undang Undang no 6 tahun 2014, desa-desa ini merintis Rencana Pembangunan Desa yang berhulu Kebudayaan. Kedelapan desa ini dalam menerjemahkan gagasan Undang Undang Kebudayaan no 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, mereka mencari celah agar pembangunan setidaknya tidak mengganggu keseimbangan dari ekosistem, dan memikirkan cara dan upaya untuk membina ekosistem yang lebih beragam.
Melalui Desa Perintis Pemajuan Kebudayaan, kita akan melihat bagaimana Desa Kutuh, Kabupaten Badung memikirkan budidaya pohon kelapa, karena janur adalah bagian yang tak terpisahkan dari upacara. Sama halnya dengan pengembangan rancang ekosistem kebudayaan di Desa Tapan, Kabupaten Tulung Agung. Begitu juga Desa Salawu, Kabupaten Tasikmalaya yang mengandalkan tanaman bambu sebagai cadangan potensial bahan baku utama untuk berbagai produk seni kriya, musik hingga rumah adat.
Pameran Percontohan Pemajuan Kebudayaan Desa ini adalah upaya untuk mendorong daerah lainnya melakukan upaya yang sama, terlebih khusus bagi 340 Kabupaten/Kota dan 34 Provinsi yang telah membuat Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD). Ini barulah langkah awal dari pencarian yang harus berlangsung terus menerus untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan kerangka acuan pembangunan dari berbagai proyeksi Pemajuan Kebudayaan dari ragam budaya yang tersebar dan masih hidup, bertahan dan terus berjuang di pedesaan-pedesaan di seluruh negeri.

Sumber : Aldin – Dirjen Budaya Kemendikbud