“Di Mata Semesta”: Lagu Kolaborasi Dewa Budjana, Asteriska, dan Hindia yang Mengajak Kita Bersikap Lebih Inklusif

Bertepatan dengan Hari Hak Asasi Manusia Internasional (HAM) 2019, Program Peduli yang menggawangi gerakan Indonesia inklusif (#IDInklusif) menggandeng tiga musisi tanah air berkolaborasi menciptakan lagu orisinal bertema Indonesia Inklusif. Ketiga musisi tersebut adalah Dewa Budjana, Asteriska, dan Baskara Putra (Hindia).

Dalam kolaborasi ini, Dewa Budjana berperan sebagai komposer dan arranger, sedangkan Hindia menulis lirik dasar yang kemudian dikembangkan bersama rekan duetnya Asteriska. Ketiganya berhasil menyelesaikan lagu berjudul Di Mata Semesta pada November 2019. Kolaborasi ini semakin lengkap berkat musisi pendukung Saat Syah (pemain suling), Jalu G. Pratidina (pemain kendang), dan Ronald Fristianto (pemain drum).

“Jadi, secara instrumentasi tradisi, saya ambil perkusinya dari Jawa Barat, sulingnya dari Kalimantan,” terang Budjana. Selain diisi instrumen khas Nusantara, lagu ini juga dihiasi unsur sinden oleh Asteriska.

Dewa Budjana yang merupakan musisi senior juga dikenal sebagai musisi yang toleran. Ia kerap terlibat memproduksi lagu-lagu bernuansa religi untuk beberapa agama di Indonesia. Sementara itu, Hindia adalah musisi muda yang peduli pada makna di balik suatu karya dan Asteriska merupakan penyanyi yang peduli terhadap musik Nusantara.

Lagu Di Mata Semesta mengajak pendengar untuk melihat dan memperlakukan setiap manusia secara setara dan semartabat. Tidak ada yang lebih rendah atau tinggi karena di mata semesta, kita semua sama.

Video lagu ini menampilkan cuplikan dokumentasi dari berbagai wilayah kerja Program Peduli di Indonesia. “Di mata semesta, kau dan aku sama saja,” begitu ucap dan isyarat berbagai wajah dan anak Indonesia dalam bahasa daerahnya masing-masing.

Mengenai proses pembuatan lirik, Baskara mengatakan, “Waktu itu, pas lagi di studio di rumahnya Mas Budjana, saya pribadi dapat idenya kayak logika kalau satu orang di mata alam semesta itu cuma titik debu. Dia nggak penting. Jadi, kalau dari sudut pandang yang sangat makro, sebenarnya nggak ada masalah yang lebih penting, nggak ada kelompok yang lebih kecil, semuanya itu sama.”

Baskara menambahkan, “Sebenarnya yang pengen kami angkat bersama itu isu perihal inklusivitas. Maksudnya, bagaimana kita itu sebenarnya di masyarakat sering secara nggak sengaja menyisihkan beberapa kelompok masyarakat tertentu tanpa sadar. Kita cuci tangan. Kita bilang, ‘nggak kok gue nggak kayak gitu. Gue orangnya nggak diskriminatif.’ Cuma lo nggak mau noleh kalau misalnya itu ada di depan mata. Nggak boleh ada yang mengecilkan satu sama lain. Harus inklusiflah kalau dalam bergerak.”

Saat ditanya mengenai pandangan terkait inklusi sosial, Budjana menjawab, “Soal mayoritas minoritas itu selalu di mana-mana ada, tapi, dalam perlakuan seharusnya semua sama.”

Senada dengan Budjana, Asteriska menjawab secara sederhana, “Jangan gara-gara mereka secara fisik nggak sama kayak kita, jadi akhirnya belum apa-apa udah kayak nggak dilihat gitu. Jangan!”

Team Leader Program Peduli, Abdi Suryaningati menyambut baik kolaborasi tiga musisi lintas generasi ini. “Inklusi sosial yang diupayakan oleh Program Peduli telah menyentuh banyak individu dari komunitas yang selama ini terpinggirkan dan termarginalkan serta mendapatkan stigma dan diskriminasi. Penting bagi kami untuk memperluas nilai dan gerakan inklusi sosial ini di tengah kondisi masyarakat yang mulai terkotak-kotakkan. Mudah-mudahan kolaborasi musik ini bisa menyentuh dan menginspirasi, terutama anak muda untuk bersikap inklusif dan berbuat sesuatu untuk gerakan inklusi sosial.”

Dewa Budjana menegaskan bahwa musik bisa menjadi media untuk menumbuhkan semangat positif di masyarakat. “Ini bisa jadi hal yang positif ya tentunya karena musik itu harusnya selalu positif buat semua orang. Nada-nada itu kan walaupun nada disonan pun itu akan tetap bisa jadi enak sebenarnya. Ya mudah-mudahan itu bisa jadi contoh untuk kehidupan bermasyarakat yang lain,” tutup Budjana.

Video klip lagu Di Mata Semesta sudah bisa diakses di bit.ly/di-mata-semesta.

Sumber : www.programpeduli.org – MS

Rhoma Irama dan Via Vallen Bakal Rilis Duet Single Baru

Sumber Foto : www.tribunnews.com

Raja dangdut, Rhoma Irama pamerkan foto bareng pedangdut Via Vallen. Dalam unggahan fotonya, Rhoma Irama membocorkan bakal merilis single baru duet dengan Via Vallen.

Rhoma Irama memamerkan foto bersama Via Vallen saat keduanya tengah melakukan proses rekaman. Foto tersebut diunggah oleh Rhoma Irama di akun Instagram pribadi milik raja dangdut tersebut.

Tak hanya satu, ada beberapa foto yang diunggah Rhoma Irama saat rekaman lagu barunya bersama Via Vallen. Dalam keterangan fotonya, Rhoma Irama Rhoma Irama mengatakan dirinya tengah melakukan sesi rekaman dengan Via Vallen untuk proyek single baru. Namun, Rhoma Irama belum menyebutkan kapan single baru tersebut akan dirilis.

Sumber : www.tribunnews.com

EROS TJOKRO ft TUAN TIGABELAS – KING (HIP HOP)

KING. merupakan single ke-empat dari Eros Tjokro, yang akan di rilis di bulan November 2019. Kali ini Eros Tjokro berkolaborasi dengan salah satu rapper Indonesia yang terkenal dengan lirik-lirik nya yang kritis dan menginspirasi banyak pendengar musik di Indonesia, yaitu, Tuan TigaBelas.
Dalam single KING., Eros Tjokro ingin bercerita tentang hal yang selama ini canggung untuk ia perbincangkan, yaitu, self-acceptance. Lagu ini merupakan salah satu bentuk proses awal dari perjalanan Eros Tjokro untuk menerima diri nya sendiri dalam semua jenis peran yang ia jalani di hidup nya. Single ini diberi judul KING. agar bisa menjadi motivasi bagi Eros Tjokro, untuk terus menjadi sosok yang tetap berdiri tegak dalam situasi apapun.
Eros Tjokro bekerja sama dengan produser muda/bassist, Kevin Pahlevi, sebagai beatmaker dari lagu KING. dan berkolaborasi dengan Tuan TigaBelas dalam penulisan lirik. Eros Tjokro juga bekerja sama dengan Wew Records yang berperan sebagai publisher dari single ini. Eros Tjokro dan Tuan TigaBelas berharap, keresahan dan semangat yang mereka tuangkan dalam lagu ini, dapat menjadi pengingat bagi para pendengar untuk terus berusaha menerima diri sendiri dan be the KING. of your own story.

Sumber : Wew Records – MS

 

RAN Gandeng Vanesha Prescilla di Video Musik Saling Merindu

RAN akan merilis video musik berjudul “Saling Merindu” dan berkolaborasi dengan Vanesha Prescilla. Proyek ini sebelumnya masuk dalam rangkaian “Omne Trium Perfectum: The Series” yang sudah dirilis terlebih dulu.

Personel RAN, Rayi mengatakan, dalam proyek kali ini mereka mengusung sesuatu hal berbeda karena menyuguhkan nuansa thriller. “Karena dari awalnya konsep video klipnya kontradiktif, kami langsung kepikiran nama Vanesha dan sepakat untuk membuat dia yang biasa terlihat manis, jadi tampil lebih menyeramkan,” kata Rayi seperti dilansir Antara.

Sementara itu, personel RAN lainnya, Nino mengatakan, tema bernuansa gelap memang jarang mereka angkat ke dalam karya mereka. Dalam proyek ini, mereka juga berkolaborasi dengan pemain teater. Di sisi lain, Asta, sang gitaris mengatakan, proyek “Saling Merindu” ini ia juga mencoba beberapa hal baru, seperti menulis lagu dan menulis cerita untuk jalan cerita video tersebut. “Banyak hal baru yang saya coba lakukan untuk single ‘Saling Merindu’. Selain menulis sebagian besar lagunya, kali ini saya juga menulis cerita di video musiknya,” kata Asta. “Dari kemarin tidak sabar ingin menunjukkan ke teman-teman semua. Setelah berminggu-minggu menjalani proses, akhirnya sekarang sudah tayang. Semoga kalian dapat menikmati hasil kerja keras kami,” lanjut dia.

Sumber : www.tirto.id | www.youtube.com

 

Rilis Single Perdana, Mengapa Harus Bertemu, DR. Ekles Gandeng Badai Krispatih

Berkiprah selama 20 tahun sebagai dokter kecantikan dan memiliki lebih dari 20 klinik kecantikan dengan yang diberi nama Ekle’s, DR. Eklendro Senduk, Dipl. AAAM, M.Kes atau lebih dikenal dengan panggilan DR. Ekles, tidak membuatnya kehabisan waktu untuk menyalurkan dan mengembangkan minat dan bakatnya dibidang tarik suara.
Setelah suksesnya sebagai dokter kecantikan, DR. Ekles pun mencoba mewujudkan mimpi masa kecilnya sebagi penyanyi dengan mengeluarkan single pertamanya, Mengapa Harus Bertemu. Untuk mewujudkan single perdana ini, DR. Ekles mengajak composer terkenal dan banyak menelurkan hits, Badai Krispatih yang tidak hanya menciptakan lagu, tapi sekaligus menjadi pengarah vocal pada proses rekaman.
Dengan music berwarna balad melankolis, single Mengapa Harus Bertemu yang menceritakan tentang cinta yang berujung kepada luka dan penyesalan ini, Badai optimis mampu menghanyutkan pendengarnya.
“Ini merupakan kali pertama saya berkolaborasi dengan teknisi medis, biasanya kan dengan sesama artis. Dokter menghubungi saya, meminta lagu ke saya. Prosesnya ga begitu lama sih, bulan lalu. Untuk ukuran praktisi medis, pak dokter ini memang terbiasa menyanyi, menurut saya. Jadi saya tidak terlalu sulit mengarahkannya,” ungkap Badai.
Single Mengapa Harus Bertemu resmi dirilis mulai tanggal 19 November 2019 di radio-radio dan sudah bisa dinikmati melalui aplikasi digital seperti Spotify, Joox dan digital platform lainnya. Sementara, video klip dan video lirik sudah bisa dinikmati di youtube.

Sumber : Ekles Music

Grup Nasyid Asal Singapura Al Jawaher Kolaborasi Bareng Dewi Yull

Group Nasyid Asal Singapura Al-Jawaher, yang beranggotakan 7 orang yang terdiri dari 5 orang anggota lama dan 2 orang anggota baru. Untuk 2 orang anggota lama adalah adik dari komposer kawakan M. Nasir.
Mereka itu adalah Normala Mohd dan Hajar Mohamad, sementara 5 anggota yang lain nya adalah, Norhaiyati Yusop, Latifah Johari, Jumuyah Kasbari, Habibah Othman, Siti Rusminah Jaafar.
Berkolaborasi dengan penyanyi Indonesia Dewi Yull dalam single YA TUHAN (22/11) lagu yang diproduserin Chossy Pratama/Moliano Rasmadi yang dapat mengisi khazanah musik religi Indonesia dan Singapura. Senandung musik Islami seperti nasyid sudah banyak dikenal oleh masyarakat.

Namun, musik yang identik dengan pengingat akan nilai-nilai agama Islam ini ternyata masih berjuang untuk diakui, dibanding hanya sekadar hiburan jelang momen Ramadhan.
“Kami terus berjuang melanjutkan apa yang menjadi maksud tujuan hidup. Selalu mengingatkan pada kebaikan lewat nasyid yang kami nyanyikan,” ucap Norhayati Yusof, salah satu personil, Al-Jawaher kepada awak media di Ruang Pola saat peluncuran single terbaru nya di , Balaikota Jakarta Pusat (22/11).
Berangkat dari visi syiar, Jamiyah sebuah yayasan Islam terbesar di Singapura memberi penghargaan kepada grup legendaris Al Jawaher. Dua lagu yang berjudul ‘Hanya Tuhan’ dan ‘Ya Tuhan’, sekaligus mengajak Dewi Yull berkolaborasi.

Penggarapan single religi ini melibatkan musisi kenamaan antar dua negara. Moliono Rasmadi (leader Love Hunter) dari Singapura dan komposer Indonesia, Chossy Pratama.
“Mengapa Dewi Yull, karena kita tahu di Singapura lagunya begitu mengena (bagus). Suaranya merdu, saya baru kali ini bertemu dan duduk berdekatan seperti sekarang. Semoga kolaborasi ini bermanfaat bagi pendengar,” kata Prof (ADJ) DR Mohd Hasbi Abu Bakar, Presiden Jamiyah Singapura.

Dewi Yull mengaku bersyukur atas kolaborasi ini dan berharap suaranya bisa memberi nuansa baru dalam lagu-lagu Al Jawaher.

“Alhamdulillah, kami tersanjung disinergikan dengan Al Jawaher memberi syiar lewat lagu. Mudah-mudahan apa yang diberikan bisa diterima dengan baik tanpa menghilangkan warna dan identitas Al Jawaher,” Ujar Dewi Yull kepada awak media.

Proses pembuatan lagu kolaborasi itu memakan waktu kurang lebih enam minggu. Al Jawaher bersama Dewi Yull dan tim produksi harus banyak menghabiskan waktu dalam tiga studio. Awalnya proses pembuatan track dasar dikerjakan di studio ProMidi Jakarta dan MixPro Yogyakarta, kemudian diikuti proses rekaman vokal di studio Moluv Music di Bandung.

Menurut Harry ‘Koko’ Santoso dari Deteksi Production kolaborasi ini merupakan sejarah di industri musik dua negara.
“Di Singapura, Al Jawaher jadi grup nasyid legendaris. Dikolaborasikan dengan penyanyi legendaris wanita, Dewi Yull. Saya sangat bersyukur kolaborasi ini mempunyai tujuan yang sama yaitu syiar lewat karya musik,” ujar Harry koko.

Sumber : Deteksi Production

Joe Million & Indra Menus Rilis Album Bertepatan Hari Diabetes Sedunia

Tentu masih ingat dengan kolaborasi antara Rapper Joe Million and musisi Noise, Indra Menus bukan? Yap, tanggal 5-6 Oktober lalu mereka melakukan tour singkat akhir pekan ke Sukabumi dan Jakarta bertepatan dengan penampilan keduanya di Synchronize Festival.

Berjibaku di ruang Gigs Stage bersama Skandal, Airport Radio, DOM 65, Begundal Lowokwaru, Kebunku, Kuro!, The Dissland dan Straight Answer membuat kolaborasi keduanya terlihat berbeda karena berformat duo dengan musik Noise Rap yang bising memekakkan telinga. Hal tersebut ternyata tidak membuat para penikmat festival yang didominasi anak muda urban ini menjadi jengah.

Disela aktifitas mengurus visa untuk tour Eropa di bulan Desember nanti, keduanya sepakat untuk merilis album baru hasil rekaman sebelumnya di Yogyakarta. Dipilihlah tanggal 14 November 2019 sebagai hari spesial untuk perilisan album kolaborasi ini. Tanggal ini bertepatan juga dengan hari peringatan Diabetes sedunia.

Indra Menus sendiri sebagai penderita Diabetes type 2 merasa perlu adanya edukasi yang lebih sehingga orang lebih aware mengenai Diabetes. Bahwa Diabetes merupakan penyakit tidak menular yang dapat dicegah dan diobati dengan mengadopsi gaya hidup yang sehat.

Ke enam lagu yang terdapat di album ini direkam di Watchtower Studio oleh Bable Sagala (Rizky Summerbee & The Honeythief/Metalic Ass). Selain single “Sindikat Indi” (featuring beatbox oleh Jandon Banyu) yang sebelumnya sudah dirilis, album baru ini juga memuat “Jalur Sutra”, “247 365”, “Jika Begitu”, “SUT” dan “Satu Milligram”.

Keduanya kembali mendobrak batas kenyamanan mereka. Berbeda dengan tema lirik Joe di album solo-nya, di album ini Joe menampilkan sisi gelapnya, merangkai rima layaknya pemadat yang sedang menghadapi masalah hidup yang berat. Disini Joe lebih banyak merapal dan  menggeram dibanding menggelontorkan skill Rap-nya. Kesemuanya itu dibalut dengan deruan Noise yang ritmis dan pekat dari handmade synth, shaker box dan pedal effects olahan Indra Menus.

Seakan masih belum puas mengolah atmosfer kegelapan yang meruak, Bable Sagala menambahkan layer yang gritty layaknya memutar piringan hitam.  Dibanding album kolaborasi 2018 mereka, album ini tersimak lebih raw, organik sekaligus suram.

Album Joe Million & Indra Menus resmi dirilis di kanal toko musik digital (Spotify, iTunes, Deezer, YouTube Music dll) mulai 14 November 2019.

Sumber : Noise Bombing Records

 

Ryo Domara Re Born Dengan Single “Goyang Ga Umum”

Ryo Domara merupakan musisi yang selalu mendengarkan apa kata hatinya. Pria asal Semarang, Jawa Tengah itu terbilang musisi yang idealis dengan karya musiknya.
Nama Ryo Domara mulai dikenal publik saat bernyanyi lagu Hilangnya Seorang Gadis di album Rochestra. Kini setelah bertahun-tahun menghilang, Ryo Domara siap kembali eksis di industri musik Indonesia.
Sebuah lagu bertajuk Goyang Ga Umum diusung oleh Ryo untuk project barunya. Berbeda dengan karakter Ryo sebelumnya, di single yang bergenre Pop Alternative ini juga memadukan beberapa instrumen Iain seperti kendang, tabla dan suling sehingga membuat single Goyang Gak Umum ini menjadi single Iagu yang paling berbeda dengan 7 single lainnya di dalam album Ryo Domara nanti yang bernama “Terimakasih”.

“Saya memilih lagu ini karena keluar dari zona nyaman, perang dari dalem hati, gue cuma menyampaikan, mudah-mudahan ada manfaat, gue pengen ngajak orang seneng ,pengen yang simple saja dan menjangkau orang orang yg selama ini dengar musik saya.” Ujar Ryo di studio Ran Music .

“Goyang Gak Umum” yang diciptakan Ryo Domara dan Harry Budiman seorang sahabat dan juga selaku arranger dalam single ini, menceritakan tentang kisah nyata dimana dalam setiap pertunjukan konser selalu ada penonton yang selalu datang sendiri tanpa di jemput oleh temannya.
“Lagunya memang sesuatu yang berbeda dan tidak umum buat ryo kita pingin senang senang dalam arti solonya dia sampai ke masyarakat yg paling cocok saya pilih lagu ini. Dan pembuatan lagu ini hanya 3 minggu “Ujar Harry Budiman pencipta lagu goyang ga umum.
“Saya rekaman cuma berdua sama mas Harry Budiman. Jadi, saya tektokan cuma berdua tapi itu justru lebih enak, rekaman sepi jadi lebih fokus,” Tambah Ryo.
Sebagai musisi, Ryo Domara selalu mendengarkan beberapa genre musik seperti rock, reggae, dan ska. Meskipun dirinya pecinta musik bergenre Grunge. Dari situlah, ia mendapat inspirasi untuk single perdananya tersebut.
Ryo Domara menambahkan bahwa ia ingin karya Iagunya bisa merealisasikan permintaan teman teman, komunitas atau follower di sosial media. Oleh karena itu, Ryo mencoba mengkolaborasikan beberapa genre musik di dalam lagu “Goyang Gak Umum”. Di bawah manajemen Ran Entertainmen, Ryo juga sudah menyiapkan beberapa strategi untuk bersaing di belantika musik Tanah Air.

“Strategi gue enggak banyak dan enggak muluk-muluk, gue pengen karya gue sampai ke telinga teman-teman karena dengan bermusik gue kayak punya bayi, gue pengen menyampaikan kegelisahan gue, keinginan gue, gue coba tumpahin ke temen-temen semua”.
Saya ucapkan terima kasih kepada Sang Pencipta serta manajemen terutama bunda Rani “tutup Ryo Domara.

Sumber : Ran Music

Penundaan Konser Karya Semesta Iwan Fals

Konser Karya Semesta Iwan Fals yang sedianya akan digelar pada 8 November 2019, di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, diundur hingga waktu yang belum ditentukan.

Pengunduran jadwal konser tersebut diumumkan secara resmi oleh Lisa Desila  selaku promotor dari Reka Kreasi Production, pada Jum’at 1 November 2019. Dalam kesempatan tersebut Lisa menjelaskan  bahwa pihaknynya menjadwal ulang konser Karya Semesta Iwan Fals tersebut.

Sebelumnya kami mewakili Reka Kreasi Production menyampaikan permohonan maaf kepada semua pihak, bahwa karena ada kendala teknis dan non teknis menjelang hati “H” yang tidak bisa saya sebutkan disini, terpaksa Konser Karya Semesta Iwan Fals yang seharusnya diselenggarakan pada tanggal 8 November 2019 di Stadion Wibawa Mukti Cikarang kami jadwal ulang (re-schedule).”, jelas Lisa, saat ditemui di Beranda Kitchen Jl. KH Ahmad Dahlan,  Kebayoran Baru – Jakarta Selatan, pada Jumat 1 November 2019.

Lebih lanjut Lisa menambahkan bahwa dirinya sudah berkoordinasi dengan semua pihak terkait sehubungan dengan penundaan ini. Termasuk didalamnya berkoordinasi dengan pihak manajemen Iwan Fals.

“Sejauh ini saya sudah dan sedang melakukan koordinasi dengan semua pihak, baik dengan pihak Iwan Fals maupun, pihak Pemda dan pihak kepolisian serta semua yang terkait. Alhamdulillah sudah ada titik temu soal ini. Bahkan dari pihak manajemen Iwan Fals yaitu Tiga Rambu  sendiri  mensupport untuk semua  keputusan yang terbaik,” tambah Lisa.

Bagi para calon penonton yang sudah terlanjur membeli tiket, pihak panitia akan mengembalikan uangnya terlebih dahulu sesuai kebijakan patners ticketing.

“Bagi teman-teman yang sudah terlanjur membeli tiket, kami akan mengembalikan  (re fund) uangnya terlebih dahulu Insya Allah dalam minggu depan ini. Kami akan sesuaikan dengan  database tiketing untuk menghubungi calon penonton yang sudah pembeli tiket. Untuk  mekanismenya kami akan sampaikan melalui telpon langsung dan juga melaui  email,”tutup Lisa Desila.

Sementara itu Ketua Persatuan Wartawan Indonesia DKI Jaya (PWI Jaya) Sie Musik Film dan Lifestyle Irish Riswoyo dalam kapasitasnya sebagai narasumber sekaligus moderator da pemerhati musik juga turut menyampaikan pendapatnya soal penundaan ini.

“Penundaan dalam bentuk penjadwalan ulang (re-schedule) sebetulnya hal yang lumrah dan wajar, apalagi  jika masih ada kendala yang belum beres menjelang hari “H”.  Hal itu bisa saja terjadi baik didalam maupun diluar negri. Jika suatu event atau acara mengalami kendala baik secara teknis maupun non teknis hingga menjelang hari “H”, maka keputusan penundaan seperti yang dilakukan Reka Kreasi ini adalah tepat. Sebab jika kendala belum teratasi dan konser dipaksakan jalan, tentu semua pihak khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Yang terpenting keputusan ini sudah menjadi kesepakatan semua pihak,” jelas Irish.

Selanjutnya Irish menambahkan, “Intinya semua perangkat baik itu promotor, artis, keamanan dan lain lain harus bisa memastikan bahwa tidak ada kendala hingga hari “H”. Setelah semuanya merasa siap dan sepakat, baru konser digelar, biar semua merasa nyaman dan aman,” tutup Irish.

Sumber : Reka Kreasi Production

 

Prince of Ska Indonesia Berkolaborasi Dengan Ikon Reggae Jamaika

Ikon Reggae dari Jamaika, Richie Stephen akan berkolaborasi dengan Prince of Ska Indonesia, Denny Frust dan Singapore’s Far East Empress, Masia One. Musisi dan pencipta lagu Richie Stephen ini juga baru saja merilis album terbarunya yang bertajuk “Jamaican Flava”.
Richie Stephen sedang memulai “Tuor Flava Jamaica”, yang akan mencakup pertunjukkan di Singapura, Malaysia, Bali, Jakarta, Solo (ID), Australia, dan Jepang. Selama berada di Indonesia, Richie Stephens & Masia One akan berkolaborasi dengan Denny Frust.

Penyanyi yang kerap menjadi pemenang beberapa penghargaan ini juga sekaligus mengumumkan peluncuran single terbarunya yang berjudul “Satu Cinta”. Single ini merupakan kolaborasi Richie Stephen dengan penyanyi Asia, Denny Frust dan Masia One.

“Single ini  menceritakan tentang menyebarkan rasa saling mencintai dan menghormati sesama manusia tanpa memandang suku agama bahasa warna kulit dan lain sebagainya,” ujar Denny Frust.

Kolaborasi ini bermula dari Masia One dan Richie Stephen yang sedang rekaman di studio Pot of Gold di Kingston Jamaica. Keduanya merasa tertarik dengan lagu Reggae & Ska yang sedang menggeliat di Indonesia. Dari pembicaraan itulah kemudian muncul ide dari keduanya untuk dipertemukan dengan beberapa seniman dari belahan dunia, dengan tujuan untuk menyatukan dan berbagi pesan sederhana: Damai & Cinta di seluruh dunia. Mereka merasa jika proyek ini perlu sentuhan seorang Denny Frust yang akhirnya menambahkan vokalnya ke dalam lagu tersebut.

“Kolaborasi ini berawal dari Masia yang lagi di Jamaica, featuring dengan Richie. Di sana dia usul bagaimana kalau kita bertiga bikin single kolaborasi. Jujur saya merasa tertarik, ini kesempatan yang langka. Akhirnya kami sepakat kalau saya menyanyi dengan menggunakan bahasa Indonesia serta judul juga pakai bahasa Indonesia,” ungkap penyanyi yang dijuluki Prince of Ska ini.

“Satu Cinta” merupakan single yang menggunakan panduan suara dengan Bahasa, lagu ini sekaligus menandai untuk pertama kalinya seorang superstar Jamaika bernyanyi dalam bahasa Indonesia.

Denny mengakui jika kolaborasinya kali ini tidak mengalami kesulitan sama sekali, lagu Satu Cinta memang sengaja mereka pilih karena lagu ini sangat pas dengan pesan yang akan disampaikan. ‘Saya bikin lirik untuk part yang saya nyanyikan. Masia dan Richie juga sama bikin liriknya dan mengaransemen musiknya. Tidak ada kesulitan sama sekali karena musik sudah dibikin sama mereka jadi saya tinggal isi vocal dengan lirik yang sudah saya tulis,” tambah Denny Frust.
 
Irama Ska yang optimis, dengan harmoni melodi yang catchy  membagikan pesan akan harapan dan pesan positif untuk menari dan bernyanyi bersama. “Satu Cinta” akan resmi dirilis pada 5 November 2019, bertepatan dengan Hari Kesadaran Tsunami Sedunia. Para musisi ini juga sepakat, dari hasil singlenya nanti akan disumbangkan ke daerah-daerah di Indonesia yang sedang dibangun kembali setelah tsunami.

Denny berharap, single terbarunya kali ini bisa bermanfaat bukan hanya dari liriknya tetapi bisa juga menjadi berkat bagi orang lain dari penjualan digitalnya. “Kalau buat saya sendiri sih, semoga bisa memotivasi teman-teman untuk membuka jaringan dan menyebarkan karya musiknya lebih Jauh lagi. Sehingga makin banyak karya anak bangsa yang di kenal di mancanegara. Dan Semoga saya juga bisa membantu teman-teman semua dengan jaringan yang saya punya,” pungkas Denny.

Sumber: Best Beat Music Channel