Single Baru Justin Bieber Dirilis

Sumber Foto : www.gensindo.sindonews.com

Lama absen dan gak mengeluarkan single, Jumat (3/1) ini akhirnya Justin Bieber mengeluarkan single terbarunya berjudul “Yummy”. Dengan musik santai dan ringan, “Yummy” cocok banget sebagai gerbang comeback-nya Justin ke dunia musik. 

Dengan video lirik beraura pink, didominasi lirik yang berulang dan enak didengar, bukan gak mungkin “Yummy” akan mengulang lagi masa kejayaan Justin seperti album-album sebelumnya.

Setelah sempat membatalkan tur konsernya karena masalah kesehatan mental, suami Hailey Baldwin ini bener-bener menyambut tahun 2020 dengan semangat. Ini bisa dilihat dari postingannya di media sosial, Justin rajin melakukan countdown untuk perilisan single terbarunya. 

Sumber : www.gensindo.sindonews.com | www.youtube.com

 

SOUND FLARE XPERIENCE, FESTIVAL MUSIK 2020 Akan Menghadirkan Boyce Avenue

Festival Musik Sound Flare Xperience akan hadir meramaikan pentas musik internasional di awal tahun 2020.
Acara yang digelar Wartama Live bekerjasama dengan Spinach Records akan diselenggarakan di Gambir Expo Kemayoran pada 1-2 Februari 2020.
Mengawali pemetaan festival musik internasional di Indonesia pada dekade baru ini. Meleburkan dua konsep penampilan musik, yaitu musisi band/solo dan DJ, SOUND FLARE XPERIENCE menghadirkan artis ternama dari dalam dan luar negeri selama dua hari di panggung yang berbeda dua. Salah satu yang akan meramaikan SOUND FLARE XPERIENCE adalah sensasi YouTube terdepan, Boyce Avenue.
Boyce Avenue yang terbentuk pada 2004 ini beranggotakan trio bersaudara, Manzano Alejandro (lead vocal, gitar dan piano), Fabian (gitar, vocal) serta Daniel (bass, perkusi vocal).
Band indie ini terbilang unik dan fenomenal, karena hanya dengan bermodalkan cover version dari puluhan lagu musisi kelas dunia dan mereka yang justru dinilai lebih digemari pasar dibandingkan versi orisinilnya.
Saat ini Boyce Avenue mempunyai jumlah penggemar sebanyak 13,2 juta YouTube subscribers dan 4,8 miliar YouTube views.
Sejumlah musisi tanah air juga akan meramaikan panggung SOUND FLARE XPERIENCE. RAN, Yovie & Nuno, Jaz, dan Tulus akan tampil di hari pertama, 1 Februari 2020. Sementara Langit Sore, Fourtwnty, Maliq & D’Essentials, Kunto Aji, dan Marion Jola akan memeriahkan acara tanggal 2 Februari 2020.
Dari sudut aliran musik yang lain, para DJ punggawa Spinach Records turut menghidupkan daftar lineup SOUND FLARE XPERIENCE. Jajaran pembangkit euforia besutan Spinach Records yang bakal tampil di hari pertama adalah Basement House x Oki Koro, Tripo 3000, Weird Genius, Dipha Barus x Monica, dan Sunset People Project. Sementara di hari kedua, giliran Agung x Lil’B, Diskopantera, Club Dangdut Racun, dan Fun on A Weekend yang akan menyalakan lantai dansa.
“Dari sekian banyak pertunjukan musik, belum ada yang menggabungkan dua konsep yang berbeda. Kita sediakan dua panggung untuk party DJ dan konsep konser dari musisi lokal,” ujar Wilis Heru Prasetyo promotor Wartama Live di kawasan Epicentrum, Jakarta Selatan, (26/12).

Tidak hanya itu, festival musik tersebut juga nantinya akan menghadirkan DJ yang berasal dari Negeri Ginseng, Korea Selatan. Meski begitu, pihak promotor masih enggan menyebut nama bintang Korea Selatan tersebut.
“Akan berbeda dengan festival musik kebanyakan. Kita akan menyasikan sensasi yang belum pernah dirasakan penikmat DJ yang digabungkan dengan konsep konser,” tambah Nandi.
Tiket Presale 2 SOUND FLARE XPERIENCE bisa didapatkan mulai tanggal 21 Desember 2019 di loket.com dan www.soundflarexperience.com seharga Rp430.000 untuk 1-Day Pass dan Rp750.000 untuk 2-Day Pass (belum termasuk pajak).

Sumber : Spina Record dan Wartama Live – KM

Yacko Ngerilis Single Tell Your Story

Bertepatan dengan Hari Ibu, 22 Desember 2019, Yacko merilis video lirik dan single terbarunya yang berjudul Tell Your Story yang musiknya diproduksi oleh Buana Tara Manggala dari Wew Records.

Lagu ini menceritakan keseharian Yacko dalam menjalani berbagai peran, mulai dari seorang ibu, rapper dan dosen. Selain kisah suka, tidak jarang dalam menjalankan perannya tersebut Yacko juga mendapatkan judgment dari orang-orang. Inilah yang Yacko kemudian tulis menjadi sebuah lagu berjudul #tellyourstory.
Selain itu menurut Yacko, Hari Ibu ini tidak hanya diperuntukkan Ibu saja. Bukan bermaksud mengecilkan makna Ibu, tapi Ibu atau bukan, Yacko merasa setiap perempuan berhak merayakan hari ini. Yacko juga menambahkan bahwa sejarah mencatat Hari Ibu sebenarnya lahir untuk mengenang Kongres Perempuan pertama pada tahun 1928 di Yogyakarta dimana peristitiwa tersebut menandakan perjuangan kaum perempuan menuju kemerdekaan dan perbaikan kualitas hidup perempuan. Oleh karena itu, Hari Ibu ini seharusnya lebih dirayakan sebagai Hari Memperingati Perjuangan Perempuan Indonesia yang setiap harinya berjuang menjalani peran penting yang berbeda-beda dan punya cerita di belakangnya.
Sehingga Yacko mendedikasikan lagu #tellyourstory untuk semua perempuan supaya mereka bisa bercerita tentang hidup dan berbagai peran mereka tanpa takut terkena judgment. Supaya setiap cerita tersebut bisa saling menginspirasi dan menjadi support system untuk setiap perempuan.
Untuk itu Yacko mengajak setiap perempuan untuk menjadi bagian dari lagu #tellyoustory dengan cara mengunggah video 1 menit (40 detik bercerita, 20 detik selanjutnya berpose ) atau foto di IG yang menceritakan berbagai peran yang mereka jalani dan harapannya. Video bisa dikirimkan dahulu ke email itsyacko@gmail.com supaya bisa diedit dengan menggunakan musik latarnya. Di akhir video, sebelum masuk ke chorus, pembuat video dianjurkan untuk berkata “This is my story. Now it’s your turn to tell your story”.

Sumber : WEW RECORDS – MS

“Di Mata Semesta”: Lagu Kolaborasi Dewa Budjana, Asteriska, dan Hindia yang Mengajak Kita Bersikap Lebih Inklusif

Bertepatan dengan Hari Hak Asasi Manusia Internasional (HAM) 2019, Program Peduli yang menggawangi gerakan Indonesia inklusif (#IDInklusif) menggandeng tiga musisi tanah air berkolaborasi menciptakan lagu orisinal bertema Indonesia Inklusif. Ketiga musisi tersebut adalah Dewa Budjana, Asteriska, dan Baskara Putra (Hindia).

Dalam kolaborasi ini, Dewa Budjana berperan sebagai komposer dan arranger, sedangkan Hindia menulis lirik dasar yang kemudian dikembangkan bersama rekan duetnya Asteriska. Ketiganya berhasil menyelesaikan lagu berjudul Di Mata Semesta pada November 2019. Kolaborasi ini semakin lengkap berkat musisi pendukung Saat Syah (pemain suling), Jalu G. Pratidina (pemain kendang), dan Ronald Fristianto (pemain drum).

“Jadi, secara instrumentasi tradisi, saya ambil perkusinya dari Jawa Barat, sulingnya dari Kalimantan,” terang Budjana. Selain diisi instrumen khas Nusantara, lagu ini juga dihiasi unsur sinden oleh Asteriska.

Dewa Budjana yang merupakan musisi senior juga dikenal sebagai musisi yang toleran. Ia kerap terlibat memproduksi lagu-lagu bernuansa religi untuk beberapa agama di Indonesia. Sementara itu, Hindia adalah musisi muda yang peduli pada makna di balik suatu karya dan Asteriska merupakan penyanyi yang peduli terhadap musik Nusantara.

Lagu Di Mata Semesta mengajak pendengar untuk melihat dan memperlakukan setiap manusia secara setara dan semartabat. Tidak ada yang lebih rendah atau tinggi karena di mata semesta, kita semua sama.

Video lagu ini menampilkan cuplikan dokumentasi dari berbagai wilayah kerja Program Peduli di Indonesia. “Di mata semesta, kau dan aku sama saja,” begitu ucap dan isyarat berbagai wajah dan anak Indonesia dalam bahasa daerahnya masing-masing.

Mengenai proses pembuatan lirik, Baskara mengatakan, “Waktu itu, pas lagi di studio di rumahnya Mas Budjana, saya pribadi dapat idenya kayak logika kalau satu orang di mata alam semesta itu cuma titik debu. Dia nggak penting. Jadi, kalau dari sudut pandang yang sangat makro, sebenarnya nggak ada masalah yang lebih penting, nggak ada kelompok yang lebih kecil, semuanya itu sama.”

Baskara menambahkan, “Sebenarnya yang pengen kami angkat bersama itu isu perihal inklusivitas. Maksudnya, bagaimana kita itu sebenarnya di masyarakat sering secara nggak sengaja menyisihkan beberapa kelompok masyarakat tertentu tanpa sadar. Kita cuci tangan. Kita bilang, ‘nggak kok gue nggak kayak gitu. Gue orangnya nggak diskriminatif.’ Cuma lo nggak mau noleh kalau misalnya itu ada di depan mata. Nggak boleh ada yang mengecilkan satu sama lain. Harus inklusiflah kalau dalam bergerak.”

Saat ditanya mengenai pandangan terkait inklusi sosial, Budjana menjawab, “Soal mayoritas minoritas itu selalu di mana-mana ada, tapi, dalam perlakuan seharusnya semua sama.”

Senada dengan Budjana, Asteriska menjawab secara sederhana, “Jangan gara-gara mereka secara fisik nggak sama kayak kita, jadi akhirnya belum apa-apa udah kayak nggak dilihat gitu. Jangan!”

Team Leader Program Peduli, Abdi Suryaningati menyambut baik kolaborasi tiga musisi lintas generasi ini. “Inklusi sosial yang diupayakan oleh Program Peduli telah menyentuh banyak individu dari komunitas yang selama ini terpinggirkan dan termarginalkan serta mendapatkan stigma dan diskriminasi. Penting bagi kami untuk memperluas nilai dan gerakan inklusi sosial ini di tengah kondisi masyarakat yang mulai terkotak-kotakkan. Mudah-mudahan kolaborasi musik ini bisa menyentuh dan menginspirasi, terutama anak muda untuk bersikap inklusif dan berbuat sesuatu untuk gerakan inklusi sosial.”

Dewa Budjana menegaskan bahwa musik bisa menjadi media untuk menumbuhkan semangat positif di masyarakat. “Ini bisa jadi hal yang positif ya tentunya karena musik itu harusnya selalu positif buat semua orang. Nada-nada itu kan walaupun nada disonan pun itu akan tetap bisa jadi enak sebenarnya. Ya mudah-mudahan itu bisa jadi contoh untuk kehidupan bermasyarakat yang lain,” tutup Budjana.

Video klip lagu Di Mata Semesta sudah bisa diakses di bit.ly/di-mata-semesta.

Sumber : www.programpeduli.org – MS

Rhoma Irama dan Via Vallen Bakal Rilis Duet Single Baru

Sumber Foto : www.tribunnews.com

Raja dangdut, Rhoma Irama pamerkan foto bareng pedangdut Via Vallen. Dalam unggahan fotonya, Rhoma Irama membocorkan bakal merilis single baru duet dengan Via Vallen.

Rhoma Irama memamerkan foto bersama Via Vallen saat keduanya tengah melakukan proses rekaman. Foto tersebut diunggah oleh Rhoma Irama di akun Instagram pribadi milik raja dangdut tersebut.

Tak hanya satu, ada beberapa foto yang diunggah Rhoma Irama saat rekaman lagu barunya bersama Via Vallen. Dalam keterangan fotonya, Rhoma Irama Rhoma Irama mengatakan dirinya tengah melakukan sesi rekaman dengan Via Vallen untuk proyek single baru. Namun, Rhoma Irama belum menyebutkan kapan single baru tersebut akan dirilis.

Sumber : www.tribunnews.com

EROS TJOKRO ft TUAN TIGABELAS – KING (HIP HOP)

KING. merupakan single ke-empat dari Eros Tjokro, yang akan di rilis di bulan November 2019. Kali ini Eros Tjokro berkolaborasi dengan salah satu rapper Indonesia yang terkenal dengan lirik-lirik nya yang kritis dan menginspirasi banyak pendengar musik di Indonesia, yaitu, Tuan TigaBelas.
Dalam single KING., Eros Tjokro ingin bercerita tentang hal yang selama ini canggung untuk ia perbincangkan, yaitu, self-acceptance. Lagu ini merupakan salah satu bentuk proses awal dari perjalanan Eros Tjokro untuk menerima diri nya sendiri dalam semua jenis peran yang ia jalani di hidup nya. Single ini diberi judul KING. agar bisa menjadi motivasi bagi Eros Tjokro, untuk terus menjadi sosok yang tetap berdiri tegak dalam situasi apapun.
Eros Tjokro bekerja sama dengan produser muda/bassist, Kevin Pahlevi, sebagai beatmaker dari lagu KING. dan berkolaborasi dengan Tuan TigaBelas dalam penulisan lirik. Eros Tjokro juga bekerja sama dengan Wew Records yang berperan sebagai publisher dari single ini. Eros Tjokro dan Tuan TigaBelas berharap, keresahan dan semangat yang mereka tuangkan dalam lagu ini, dapat menjadi pengingat bagi para pendengar untuk terus berusaha menerima diri sendiri dan be the KING. of your own story.

Sumber : Wew Records – MS

 

RAN Gandeng Vanesha Prescilla di Video Musik Saling Merindu

RAN akan merilis video musik berjudul “Saling Merindu” dan berkolaborasi dengan Vanesha Prescilla. Proyek ini sebelumnya masuk dalam rangkaian “Omne Trium Perfectum: The Series” yang sudah dirilis terlebih dulu.

Personel RAN, Rayi mengatakan, dalam proyek kali ini mereka mengusung sesuatu hal berbeda karena menyuguhkan nuansa thriller. “Karena dari awalnya konsep video klipnya kontradiktif, kami langsung kepikiran nama Vanesha dan sepakat untuk membuat dia yang biasa terlihat manis, jadi tampil lebih menyeramkan,” kata Rayi seperti dilansir Antara.

Sementara itu, personel RAN lainnya, Nino mengatakan, tema bernuansa gelap memang jarang mereka angkat ke dalam karya mereka. Dalam proyek ini, mereka juga berkolaborasi dengan pemain teater. Di sisi lain, Asta, sang gitaris mengatakan, proyek “Saling Merindu” ini ia juga mencoba beberapa hal baru, seperti menulis lagu dan menulis cerita untuk jalan cerita video tersebut. “Banyak hal baru yang saya coba lakukan untuk single ‘Saling Merindu’. Selain menulis sebagian besar lagunya, kali ini saya juga menulis cerita di video musiknya,” kata Asta. “Dari kemarin tidak sabar ingin menunjukkan ke teman-teman semua. Setelah berminggu-minggu menjalani proses, akhirnya sekarang sudah tayang. Semoga kalian dapat menikmati hasil kerja keras kami,” lanjut dia.

Sumber : www.tirto.id | www.youtube.com

 

Rilis Single Perdana, Mengapa Harus Bertemu, DR. Ekles Gandeng Badai Krispatih

Berkiprah selama 20 tahun sebagai dokter kecantikan dan memiliki lebih dari 20 klinik kecantikan dengan yang diberi nama Ekle’s, DR. Eklendro Senduk, Dipl. AAAM, M.Kes atau lebih dikenal dengan panggilan DR. Ekles, tidak membuatnya kehabisan waktu untuk menyalurkan dan mengembangkan minat dan bakatnya dibidang tarik suara.
Setelah suksesnya sebagai dokter kecantikan, DR. Ekles pun mencoba mewujudkan mimpi masa kecilnya sebagi penyanyi dengan mengeluarkan single pertamanya, Mengapa Harus Bertemu. Untuk mewujudkan single perdana ini, DR. Ekles mengajak composer terkenal dan banyak menelurkan hits, Badai Krispatih yang tidak hanya menciptakan lagu, tapi sekaligus menjadi pengarah vocal pada proses rekaman.
Dengan music berwarna balad melankolis, single Mengapa Harus Bertemu yang menceritakan tentang cinta yang berujung kepada luka dan penyesalan ini, Badai optimis mampu menghanyutkan pendengarnya.
“Ini merupakan kali pertama saya berkolaborasi dengan teknisi medis, biasanya kan dengan sesama artis. Dokter menghubungi saya, meminta lagu ke saya. Prosesnya ga begitu lama sih, bulan lalu. Untuk ukuran praktisi medis, pak dokter ini memang terbiasa menyanyi, menurut saya. Jadi saya tidak terlalu sulit mengarahkannya,” ungkap Badai.
Single Mengapa Harus Bertemu resmi dirilis mulai tanggal 19 November 2019 di radio-radio dan sudah bisa dinikmati melalui aplikasi digital seperti Spotify, Joox dan digital platform lainnya. Sementara, video klip dan video lirik sudah bisa dinikmati di youtube.

Sumber : Ekles Music

Grup Nasyid Asal Singapura Al Jawaher Kolaborasi Bareng Dewi Yull

Group Nasyid Asal Singapura Al-Jawaher, yang beranggotakan 7 orang yang terdiri dari 5 orang anggota lama dan 2 orang anggota baru. Untuk 2 orang anggota lama adalah adik dari komposer kawakan M. Nasir.
Mereka itu adalah Normala Mohd dan Hajar Mohamad, sementara 5 anggota yang lain nya adalah, Norhaiyati Yusop, Latifah Johari, Jumuyah Kasbari, Habibah Othman, Siti Rusminah Jaafar.
Berkolaborasi dengan penyanyi Indonesia Dewi Yull dalam single YA TUHAN (22/11) lagu yang diproduserin Chossy Pratama/Moliano Rasmadi yang dapat mengisi khazanah musik religi Indonesia dan Singapura. Senandung musik Islami seperti nasyid sudah banyak dikenal oleh masyarakat.

Namun, musik yang identik dengan pengingat akan nilai-nilai agama Islam ini ternyata masih berjuang untuk diakui, dibanding hanya sekadar hiburan jelang momen Ramadhan.
“Kami terus berjuang melanjutkan apa yang menjadi maksud tujuan hidup. Selalu mengingatkan pada kebaikan lewat nasyid yang kami nyanyikan,” ucap Norhayati Yusof, salah satu personil, Al-Jawaher kepada awak media di Ruang Pola saat peluncuran single terbaru nya di , Balaikota Jakarta Pusat (22/11).
Berangkat dari visi syiar, Jamiyah sebuah yayasan Islam terbesar di Singapura memberi penghargaan kepada grup legendaris Al Jawaher. Dua lagu yang berjudul ‘Hanya Tuhan’ dan ‘Ya Tuhan’, sekaligus mengajak Dewi Yull berkolaborasi.

Penggarapan single religi ini melibatkan musisi kenamaan antar dua negara. Moliono Rasmadi (leader Love Hunter) dari Singapura dan komposer Indonesia, Chossy Pratama.
“Mengapa Dewi Yull, karena kita tahu di Singapura lagunya begitu mengena (bagus). Suaranya merdu, saya baru kali ini bertemu dan duduk berdekatan seperti sekarang. Semoga kolaborasi ini bermanfaat bagi pendengar,” kata Prof (ADJ) DR Mohd Hasbi Abu Bakar, Presiden Jamiyah Singapura.

Dewi Yull mengaku bersyukur atas kolaborasi ini dan berharap suaranya bisa memberi nuansa baru dalam lagu-lagu Al Jawaher.

“Alhamdulillah, kami tersanjung disinergikan dengan Al Jawaher memberi syiar lewat lagu. Mudah-mudahan apa yang diberikan bisa diterima dengan baik tanpa menghilangkan warna dan identitas Al Jawaher,” Ujar Dewi Yull kepada awak media.

Proses pembuatan lagu kolaborasi itu memakan waktu kurang lebih enam minggu. Al Jawaher bersama Dewi Yull dan tim produksi harus banyak menghabiskan waktu dalam tiga studio. Awalnya proses pembuatan track dasar dikerjakan di studio ProMidi Jakarta dan MixPro Yogyakarta, kemudian diikuti proses rekaman vokal di studio Moluv Music di Bandung.

Menurut Harry ‘Koko’ Santoso dari Deteksi Production kolaborasi ini merupakan sejarah di industri musik dua negara.
“Di Singapura, Al Jawaher jadi grup nasyid legendaris. Dikolaborasikan dengan penyanyi legendaris wanita, Dewi Yull. Saya sangat bersyukur kolaborasi ini mempunyai tujuan yang sama yaitu syiar lewat karya musik,” ujar Harry koko.

Sumber : Deteksi Production

Joe Million & Indra Menus Rilis Album Bertepatan Hari Diabetes Sedunia

Tentu masih ingat dengan kolaborasi antara Rapper Joe Million and musisi Noise, Indra Menus bukan? Yap, tanggal 5-6 Oktober lalu mereka melakukan tour singkat akhir pekan ke Sukabumi dan Jakarta bertepatan dengan penampilan keduanya di Synchronize Festival.

Berjibaku di ruang Gigs Stage bersama Skandal, Airport Radio, DOM 65, Begundal Lowokwaru, Kebunku, Kuro!, The Dissland dan Straight Answer membuat kolaborasi keduanya terlihat berbeda karena berformat duo dengan musik Noise Rap yang bising memekakkan telinga. Hal tersebut ternyata tidak membuat para penikmat festival yang didominasi anak muda urban ini menjadi jengah.

Disela aktifitas mengurus visa untuk tour Eropa di bulan Desember nanti, keduanya sepakat untuk merilis album baru hasil rekaman sebelumnya di Yogyakarta. Dipilihlah tanggal 14 November 2019 sebagai hari spesial untuk perilisan album kolaborasi ini. Tanggal ini bertepatan juga dengan hari peringatan Diabetes sedunia.

Indra Menus sendiri sebagai penderita Diabetes type 2 merasa perlu adanya edukasi yang lebih sehingga orang lebih aware mengenai Diabetes. Bahwa Diabetes merupakan penyakit tidak menular yang dapat dicegah dan diobati dengan mengadopsi gaya hidup yang sehat.

Ke enam lagu yang terdapat di album ini direkam di Watchtower Studio oleh Bable Sagala (Rizky Summerbee & The Honeythief/Metalic Ass). Selain single “Sindikat Indi” (featuring beatbox oleh Jandon Banyu) yang sebelumnya sudah dirilis, album baru ini juga memuat “Jalur Sutra”, “247 365”, “Jika Begitu”, “SUT” dan “Satu Milligram”.

Keduanya kembali mendobrak batas kenyamanan mereka. Berbeda dengan tema lirik Joe di album solo-nya, di album ini Joe menampilkan sisi gelapnya, merangkai rima layaknya pemadat yang sedang menghadapi masalah hidup yang berat. Disini Joe lebih banyak merapal dan  menggeram dibanding menggelontorkan skill Rap-nya. Kesemuanya itu dibalut dengan deruan Noise yang ritmis dan pekat dari handmade synth, shaker box dan pedal effects olahan Indra Menus.

Seakan masih belum puas mengolah atmosfer kegelapan yang meruak, Bable Sagala menambahkan layer yang gritty layaknya memutar piringan hitam.  Dibanding album kolaborasi 2018 mereka, album ini tersimak lebih raw, organik sekaligus suram.

Album Joe Million & Indra Menus resmi dirilis di kanal toko musik digital (Spotify, iTunes, Deezer, YouTube Music dll) mulai 14 November 2019.

Sumber : Noise Bombing Records