Liburan ke Sanur, Yuk Ikut Wisata Konservasi Penyu

Menelusuri Pantai Segara Ayu, Sanur, Anda akan menemukan satu pondok kayu berisikan bak-bak besar yang menampung penyu. Tempat ini cukup populer di kalangan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke sana. Di sudut dalam terlihat seorang pria dengan wajah khas Bali yang sedang memberi makan beberapa penyu di salah satu bak besarnya. Ialah Barnet, warga Sanur yang tersadar akan pentingnya keutuhan ekosistem kampung halamannya. Tempat sederhana ini ia buat persis di bibir pantai untuk merehabilitasi penyu-penyu yang terdampar sepanjang kawasan Sanur. Ia juga mengembangbiakkan penyu-penyu yang ada, juga mengobati penyu yang sakit dengan bantuan dokter.
Dahulu menurut Barnet memang banyak masakan tradisional Bali yang menggunakan daging penyu sebagai bahan utamanya. Namun kini kebiasaan itu sudah mulai hilang karena kepedulian terhadap lingkungan, juga peraturan pemerintah yang ketat.

Selain ada lima bak besar, Barnet juga punya ember-ember besar berisi pasir tempat penetasan telur penyu. Penyu-penyu yang ada di sini termasuk jenis penyu lokal, penyu sisik, dan penyu hijau. Uniknya hingga saat ini sumber dana untuk konservasinya hanya berasal dari donasi wisatawan yang datang, itu pun seikhlasnya. Jika wisatawan ingin melepas-liarkan penyu yang sudah cukup umur, bisa berdonasi Rp 50.000 untuk satu penyu.
Sumber : www.travel.kompas.com

Gunungkidul Layak Menjadi the Next Bali

Garis pantai Gunungkidul sepanjang 72 km memiliki banyak pemandangan alam dan pantai yang eksotik. Gunungkidul pun sangat berpotensi menjadi the Next Bali di Indonesia.

Pengamat Ekonomi Cyrillus Harinowo mengatakan karakteristik wilayah di Bali tak ubahnya dengan Gunungkidul. Dia menyontohkan kawasan Nusa Dua Bali. Sebelum terkenal seperti saat ini, Nusa Dua juga dikenal sebagai daerah perbukitan kapur, kering dan tidak ada nilainya. Begitu dibangun, menjadi terkenal seperti itu.

Saat ini, kata Harinowo, Gunungkidul memiliki potensi alam yang luar biasa. Saat ini setidaknya ada 22 public beach unik dengan formasi batuan yang berbeda-beda.

Selain kaya dengan wisata pantai, Gunungkidul juga memiliki 13 geopark yang telah diakui UNESCO. Kondisi tersebut menunjukkan pariwisata di Gunungkidul layak menjadi The Next Bali atau Bali Baru.

Selain itu, pengembangan wisata di Gunungkidul juga harus didukung dengan perencanaan yang matang dan dana investasi yang memadai. Berkaca pada pengembangan wisata di Lombok, pemerintah menggelontorkan dana Rp15 triliun.

Keyakinan Harinowo terkait pengembangan destinasi wisata di Gunungkidul bukan tanpa alasan. Saat ini kata Harinowo, pemerintah mengebut proses pembangunan New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) agar bisa beroperasi pada April 2019 mendatang.

Sumber : www.jogjapolitan.harianjogja.com

Warga Siap Bikin Wisata Air di Kampus Jogoloyo

Kampus (Kampung Usaha) Jogoloyo diprediksi akan menjadi kampung khas dengan partisipasi warganya untuk giat berusaha. Saat ini saja sudah ada lima stan usaha yang dikelola warga.

Mereka mengimpikan kampung yang berada di tepi Sungai Jogoloyo itu muncul destinasi wisata air.

Nantinya, Kampus Jogoloyo tak hanya berisi kampung usaha di bidang keahlian keterampilan dan kuliner. Namun juga ada destinasi wisata yang dikelola warga kampung sendiri.

Ketua RW 03 Kampung Jogoloyo, Supriyadi menuturkan bahwa awal pendirian Kampus Jogoloyo ini karena semangat warganya tak perlu ke tengah kota untuk membuka usaha.

Cukup membuka usaha di kampung dan hasilnya bisa untuk menambah pendapatan ekonomi warga.

Sumber : www.surabaya.tribunnews.com

Kawasan Wisata Pulau Bakut Batola Segera Dibuka Untuk Umum

Ini barangkali bisa menjadi alternatif tempat refresing sekaligus wisata edukasi. Jika tak ada aral, taman wisata alam Sungai atau Pulau Bakut di bawah Jembatan Barito, Kabupaten Batola akan dibuka untuk umum mulai November mendatang. Menariknya, harga tiket masuk (HTM) cuma Rp5 ribu saja.

Direktur Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Ir. Wiratno mengatakan, wisata alam Pulau Bakut selain dekat dengan pusat kota, murah, dan pengunjung bisa belajar alam Pulau Bakut.

Dijelaskannya, pengunjung nantinya bisa melihat sejumlah varian pohon. Diharapkan, cagar alam seperti wisata alam Sungai Bakut makin banyak disukai warga. Anak-anak bisa mengenal primata Bekantan yang menjadi icon Kalsel.

Dijelaskannya, kawasan wisata Sungai Bakut dilengkapi sejumlah sarana dengan pembiayaan BKSDA Kalsel dan PT Adaro Indonesia. Fasilitas itu antara lain loket karcis, mushola, titian sepanjang 700 meter, menara pandang dan WC. Nanti ke depan ada kerajinan, kuliner yang akan dikelola oleh kelompok-kelompok masyarakat.

Sumber : www.banjarmasin.tribunnews.com

Salatiga Potensial sebagai Kota Wisata

Kota Salatiga berpotensial sebagai kota wisata serta untuk pengembangan di sektor jasa.

Hal itu diucapkan Wali Kota Salatiga Yuliyanto saat memberikan arahan pada Ekspose Data Strategis Tahun 2018 Kota Salatiga.

Yuliyanto pun mencontohkan beberapa bukti, seperti hampir di tiap tahun ribuan pendatang berstatus pelajar atau mahasiswa berada di Salatiga untuk menimba ilmu.

Dan apabila dihitung, ucapnya, setidaknya 1 mahasiswa yang datang ke kota ini di tiap bulannya membawa uang saku untuk pemenuhan kebutuhannya sekitar Rp 1 juta.

Terpisah, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Salatiga Anton Bawono mengamini apa yang disampaikan Yuliyanto.

Sektor pariwisata pada zaman saat ini berperan besar guna mendongkrak perekonomian. Termasuk di Kota Salatiga.

Sumber : www.jateng.tribunnews.com

Air Telaga Biru Cisoka

Di balik keindahan telaga ini, ada kisah di balik birunya air telaga. Menurut salah seorang pengelola Telaga Biru Cisoka, Andi, telaga ini bukanlah telaga yang terbentuk secara alami, namun awalnya terbentuk dari sisa penggalian pasir.

“Telaga Biru Cisoka ini awalnya terbentuk dari bekas galian pasir pada tahun 1999-2005 namun karena proses alam membuat bekas penggalian pasir tersebut mulai digenangi oleh air, dan membentuk tiga telaga dengan kedalaman yang berbeda,” kata Andi seperti yang dikutip dari Viva.co.id di Cisoka, Tangerang.

Andi juga bercerita, awalnya telaga ini tidak memiliki warna biru yang jernih seperti sekarang ini. Dulu, airnya terlihat sangat keruh. Namun seiring dengan berjalannya waktu, telaga ini mengalami perubahan warna, menjadi bersih, bening, dan berwarna biru.

Tapi anehnya, pada salah satu telaga, awalnya memiliki warna biru kini berubah menjadi warna hijau dengan sendirinya.

Melihat pemandangan indah yang ditampilkan oleh telaga biru tersebut, membuat para warga Cisoka akhirnya memutuskan untuk menjadikannya sebagai tempat wisata pada mei 2015. Telaga Biru Cisoka dengan keseluruhan luas 4 hektar ini juga dimanfaatkan para warga sekitar sebagai lahan bisnis kecil-kecilan dengan membuka beberapa kedai kopi, sebagai tempat bersantai para wisatawan yang datang.

Andi juga mengatakan saat ini telaga ini dikelola bekerjasama dengan pemerintah setempat agar wisatawan yang datang merasa nyaman.

Sumber : www.viva.co.id

Tebing Koja Solear, Kandang Godzilla di Tangerang

Tebing Koja mulai dikenal warga karena sempat viral di jejaring sosial sekitar pertengahan tahun lalu. Lokasinya di Kampung Koja, Desa Cikuya, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, Banten.

Tempat ini juga dijuluki Kandang Godzilla karena di sana ada sebongkah tebing batu yang bentuknya mirip dengan kadal raksasa dari film Hollywood itu. Selain itu, kondisi alamnya memang mirip dengan habitat dinosaurus di film-film dokumenter arkeologi.

Tebing Koja dikelola oleh satu keluarga besar yang menjadi pewaris tanahnya. Awalnya area ini adalah lahan penggalian pasir yang dimiliki Syarifudin. Setelah tidak bisa dieksploitasi lagi, anak-anak Syarifudin memanfaatkannya untuk bercocok tanam kecil-kecilan.

Lahan itu juga menjadi tempat bermain untuk anak-anak kampung. Salah satu di antaranya lantas memotret dan mengunggah fotonya ke Facebook. Dari sana banyak netizen yang kepincut dengan cantiknya pemandangan Tebing Koja dan berniat untuk menyaksikan sendiri.

Untuk memasuki kawasan wisata itu, para pemiliknya memasang tarif Rp3.000,- untuk satu orang ditambah parkir Rp3.000,-. Dengan merogoh kocek tak sapai Rp10.000,-, kita sudah bisa menikmati panorama Tebing Koja.

 

Sumber : www.merdeka.com

Wisata Alam Bur Telege

                             Sumber Foto : www.viva.co.id

Destinasi wisata terpopuler saat ini di Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh. Lokasi wisata ini bernama Bur Telege yang terletak di atas perbukitan Desa Bale Bujang, Aceh Tengah. Berbagai macam spot berfoto unik dengan bertuliskan kata-kata dalam bahasa Gayo dengan latar belakang pemandangan alam gugusan perbukitan dan Kota Takengon tersedia di sini. Selain itu sejumlah wahana permainan seperti flying fox hingga wahana bermain anak juga bisa dinikmati. Wisata alam diatas perbukitan ini kian populer seiring banyaknya foto yang di unggah di media sosial oleh pengunjung dari berbagai daerah di Aceh. Bur Telege merupakan destinasi wisata di Aceh yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMD) dengan tujuan untuk memberdayakan masyarakat dan pemuda. Kini wisata ini telah mendapat bantuan dari Kementerian Desa untuk pembuatan jalan setapak dan MCK.

Sumber : www.tribunnews.com

Kemenpar Perluas Pasar Wisata Lewat Pameran IT dan CMA

Kementerian Pariwisata serius menggarap potensi MICE (Meeting, Incentive, Convention, dan Exhibition), salah satunya dengan mengikuti pameran Incentive Travel & Convention, Meeting Asia (IT&CMA) 2018, di Bangkok Convention Centre, Thailand, 18-20 September 2018.

IT&CMA adalah salah satu pameran strategis yang bisa mendongkrak sektor MICE. Pasalnya, IT&CMA merupakan pameran MICE terbesar di Asia Pasifik yang telah dimulai sejak tahun 1993.

Selain itu, IT&CMA juga dilengkapi dengan platform khusus untuk memenuhi kepentingan para penjual dan pembeli. Platform ini bisa menemukan dan merancang pertemuan yang relevan dan dinamis.

Plt Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata Ni Wayan Giri Adnyani, sangat antusias menanggapi keikutsertaan Wonderful Indonesia di ajang ini.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyambut positif keikutsertaan Indonesia di ajang IT&CMA 2018 ini, sebab Indonesia dengan segala kekuatan yang dimilikinya sangat potensial bagi wisata MICE.

Sumber : www.cnnindonesia.com

Buku Panduan Wisata Sejarah Aceh

Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) meluncurkan buku dengan judul melintasi jejak perjalanan sejarah Aceh. Buku setebal 106 halaman itu berisi 21 bagian itu bercerita obyek wisata sejarah di seluruh Aceh. Menariknya, buku dicetak full colour ini layak menjadi panduan wisatawan yang ingin mengunjungi sejumlah situs destinasi sejarah di provinsi yang menerapkan syariat Islam itu. Misalnya, menampilkan sejumlah foto berwarna seperti stempel kerajaan era Sultan Malikussaleh, di Kerajaan Samudera Pasai, Kabupaten Aceh Utara. Editor buku jejak perjalanan sejarah Aceh, Mizuar Mahdi, menyebutkan seluruh bagian buku itu disajikan dengan gaya populer. Versi digital destinasi sejarah juga ditampilkan pada website mapesaaceh.com.

Sumber : www.travel.kompas.com