Tempat Wisata Instagramable Baru di Yogya: Puri Mataram

Bicara soal tempat wisata di Yogyakarta seperti tidak ada habisnya. Bahkan sekarang ada satu destinasi baru yang mengusung konsep budaya Kerajaan Mataram.

Di tempat wisata yang bernama Puri Mataram ini, pengunjung dapat merasakan nuansa tradisional yang kental akan nilai budaya di tengah-tengah hiruk pikuk Kabupaten Sleman.

Puri Mataram sendiri berjarak sekitar 8 KM dari pusat Kota Yogya, untuk mencapai tempat tersebut pengunjung hanya perlu melakukan perjalanan darat ke utara, tepatnya ke arah Jalan Magelang.

Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tridadi Makmur, Raden Agus Cholik mengatakan, Puri Mataram dibentuk warga Drono setelah melihat banyaknya tempat wisata yang berada di sekitar Tridadi. Selain itu, mengingat adanya dana Desa didukung keberadaan lahan yang berpotensi dijadikan tempat wisata, warga kemudian menyulapnya sebagai tempat wisata.

Dikatakan Cholik, bahwa selain memanfaatkan dana Desa, pembangunan Puri Mataram berasal dari dana Pemerintah Provinsi DIY dan sumbangan masyarakat. Sehingga dapat dikatakan bahwa pembangunan Puri Mataram betul-betuk kolaborasi antara Pemerintah dan masyarakat.

Konsep yang berbeda pun dipilih agar dengan tempat wisata di Tridadi tidak menimbulkan persaingan yang tidak sehat dan ke depannya malah dapat bekerjasama dengan tempat wisata lain.

Setelah dimusyawarahkan, muncullah konsep tempat wisata keluarga berbasis kebudayaan Kerajaan Mataram. Selain itu, dengan konsep tersebut dapat mengedukasi pengunjung yang datang.

Lebih lanjut, saat ini di Puri Mataram baru tersedia 3 wahana wisata, namun akhir tahun ini pihaknya berencana menambah dua wahana baru. Bahkan tahun depan Puri Mataram berencana menambah lagi wahananya.

Ditambahkan Cholil, dengan keberadaan Puri Mataram diharapkan mampu menjadi salah satu pilihan destinasi wisata di DIY dan benar-benar menjadi tempat wisata yang bisa dinikmati oleh masyatakat luas.

Sumber : www.travel.detik.com

Pembangunan Objek Wisata Mangrove di Bolsel Sudah 90 Persen

Tidak lama lagi objek wisata mangrove di Desa Transpatoa, Kecamatan Helumo, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Sulawesi Utara, akan selesai dibangun.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Kepala Bidang (Kabid) Pemerintahan Desa (Pemdes) di Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Arfan Jafar, Kamis (29/11/2018) di sela-sela aktivitas kerjanya. “Posisi pengerjaan saat ini sudah pada angka 90 persen,” jelasnya.

Arfan menambahkan, agar cepat diresmikan sesuai jadwal pada awal tahun 2019 oleh Bupati Bolsel Iskandar Kamaru, maka pembangunan tersebut harus dipacu.

Sementara itu Sangadi (Kepala Desa) Transpatoa, Anwar Stirman, mengatakan, fasilitas di lokasi tersebut dibangun menggunakan Alokasi Dana Desa (ADD) dan bantuan Kemendes sebesar Rp 1,5 miliar.

Sumber : www.manado.tribunnews.com

Tiga Syarat Pangandaran Jadi Destinasi Wisata Dunia

Menjadikan Pangandaran sebagai destinasi wisata kelas dunia, maka tiga A sebagai prasyaratnya tentu harus pula berkelas dunia. Tiga A tersebut diantaranya Atraksi, Aksesibilitas, dan Amenitas.

Menpar Arief menjelaskan, Atraksi meliputi destinasi wisata berupa wisata alam, budaya, dan buatan yang menarik. Aksesibilitas, yaitu infrastruktur menuju kawasan wisata dan infrastruktur pendukung destinasi wisata, seperti bandara kelas internasional.

“Sedangkan A ketiga, yakni Amenitas, seperti fasilitas umum bintang lima mulai dari hotel, restoran, toko cinderamata, taman hingga fasilitas kesehatan dan fasilitas umum lainnya,” jelasnya.

Sumber : www.wartaekonomi.co.id

Kampung Buah, Destinasi Wisata Baru di Desa Pangandaran

Melalui anggaran Dana Desa tahun 2018, Pemerintah Desa Pangandaran membuat destinasi wisata baru dengan mencanangkan kampung buah. Pencanangan kampung buah ini dilakukan melalui program one home ane tree (satu rumah satu pohon) di lingkungan permukiman warga. Dimana Desa Pangandaran tersebut berada di kawasan obyek wisata pantai Pangandaran.

Penanaman bibit pohon buah-buahan tersebut, menurut Jaja Sudiana menggunakan dana desa senilai Rp 50 juta untuk pengadaan bibit pohon buah lengkeng itoh super, dan jambu yamaika sebanyak 550 pohon.

Adapun pada penanaman saat ini kata Jaja, ialah bibit pohon buah-buahan jenis lengkeng itoh super hasil perkawinan lengkeng Thailand dengan lengkeng Indonesia dengan buahnya yang besar serta dagingnya yang tebal dan rasanya manis. Begitu juga dengan bibit pohon jambu yamaika yang bentuknya unik dan rasanya manis.

Program ini dilakukan secara berkesinambungan. Menurut Jaja, tujuan dilaksanakan program one home one tree ini untuk penghijauan lingkungan, menambah destinasi baru dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

Sumber : www.pikiran-rakyat.com

500 Delegasi Mancanegara Diajak Kenalkan Wisata Indonesia

Sekitar 500 delegasi dari Malaysia, Australia, Thailand, Singapura, Belanda, dan Amerika Serikat menghadiri 31st Peranakan Convention 2018. Mereka pun diajak jalan-jalan ke beberapa destinasi wisata di Indonesia agar turut mempromosikan ke negaranya masing-masing.

Acara yang digelar di Hotel Novotel, Tangerang Selatan pada Sabtu lalu itu mengusung tema Promoting Indonesia as the Cultural Tourism Destination for Peranakan Communities of the World.

Usai melakukan aktivitas di Tangerang, para delegasi mengunjungi beberapa objek wisata. Di antaranya sentra batik Lasem, Candi Borobudur, serta objek wisata lain di Semarang dan Yogyakarta. Dari sini, para delegasi akan lebih memahami tentang keindahan dan keberagaman budaya Indonesia.

Sementara itu Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan 31st Peranakan Convention 2018 erat kaitannya dengan budaya. Menurutnya, urusan budaya memang tak bisa dianggap sepele, sebab 60 persen wisatawan mancanegara datang ke Indonesia karena budaya.

Sumber : www.cnnindonesia.com

Sungai Bekas Jamban Disulap Jadi Tempat Wisata Ikan

Sungai yang mengalir di Dusun Kedungcangkring, Desa Jambu, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, yang awalnya kotor dan berfungsi sebagai jamban kini berubah total. Bahkan, menjadi tempat wisata sungai unggulan. Bagaimana tidak, sungai itu kini airnya mengalir jernih. Tidak ada lagi sampah yang menyumbat. Sungai itu menjadi habitat dari ribuan ikan dari berbagai jenis semisal komet, tombro, hingga koi ukuran besar. Beragam jenis ikan yang sengaja ditebar di sungai itu nampak berenang bebas pada area khusus, yakni area sepanjang 100 meter pada sungai yang mempunyai lebar sekitar 2 meter itu.

Area itu memang sengaja dibentuk dengan membuat pagar-pagar ikan. Itu untuk menjaga ikan agar tidak terhanyut arus dari pecahan sungai yang berhulu di Gunung Kelud itu. Suasana perdesaan sangat kentara karena lokasinya berada di tengah perkampungan warga. Sehingga, suasananya juga terasa cukup dekat dengan keseharian warga bahkan nampak pula kandang sapi milik warga. Bagi anak-anak, kondisi dan situasi itu tentu akan sangat menyenangkan. Apalagi, mereka juga bisa memberi makan ikan-ikan itu secara langsung.

Berminat berkunjung kesana??
Yuuk agendakan liburan Abang None kesana.
Happy Holiday!!!
Sumber : www.regional.kompas.com

Lahan Pertanian Desa Gejahan Kini Menjadi Lokasi Wisata Unik

Wilayah Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, terkenal sebagai wilayah yang lahan pertaniannya hanya bisa ditanami saat musim hujan atau tadah hujan. Namun di beberapa kecamatan, yang memiliki sumber air yang melimpah lahan pertanian bisa ditanami selama setahun. Salah satunya di Desa Gejahan, Kecamatan Ponjong. Sawah yang sepanjang tahun ditanami padi ini, tak jarang diserang hama.

Tujuan utamanya memberikan wisata edukasi kepada masyarakat mengenai pertanian lahan terpadu yang bisa dilakukan siapa pun, sambil berwisata.
“Sudah banyak, tetapi memang belum dibuka resmi, nantinya ada tarif untuk memasuki spot selfie,” ucapnya. Penyuluh Pertanian Desa Gejahan, Heru Prasetyo menambahkan, lokasi tersebut memang dikembangkan untuk pertanian dengan penerapan lahan terpadu.

Untuk mempercantik lokasi yang dikenal Bulak Widoro, juga dibangun jembatan dari bambu dan rumah kecil dari kayu. Inilah yang biasa digunakan oleh wisatawan untuk berswafoto menggunakan gawainya.

Sumber : www.travel.kompas.com

Asita Menyebut Tren Wisata Jatim Tahun Depan Mengarah ke Madura

Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Jatim menilai hingga 2019 masyarakat masih cenderung memilih wisata dengan nuansa back to nature.

Ketua Dewan Tata Krama (Depeta) Asita Jatim, Nanik Sutaningtyas mengatakan, tahun 2019 wisata perjalanan Probolinggo-Madura diprediksikan menjadi tren wisata di Jatim.

Sejumlah obyek wisata di Madura ini antara lain Gili Labak, Gili Iyang, serta Gili Genteng. Dikatakan Nanik, di Gili Genteng saat ini sudah mulai ada resort. Sedangkan Gili Labak sangat cocok untuk snorkling dan Gili Iyang adalah lokasi nomor dua di dunia yang memiliki oksigen murni.

Menurutnya, ketiga obyek wisata tersebut bisa menjadi destinasi wisata baru bagi wisatawan dalam negeri maupun manca negara.

Diharapkan dengan adanya potensi-potensi wisata baru di Jatim seperti ketiga obyek wisata tersebut dapat menarik wisatawan mencapai 7 juta hingga tahun depan.

Sumber : www.tribunnews.com

Home Travel News Awal Desember, Tapteng Menggelar Pesona Wisata

Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara terus giat-giatnya mengangkat dan mengenalkan potensi pariwisata yang mereka miliki. Segala agenda dan program menarik untuk mendongkrak jumlah pengunjung mendatangi wilayah Pantai Barat ini tak habis dilakukan, khususnya oleh dinas pariwisata-nya. Agenda penutup tahun kali ini, digelar lomba video dokumenter, fotografi, design icon, selfie obyek wisata, perahu tradisional, dan lomba tari kreasi daerah.
Untuk lomba video dokumenter, pendaftaran dibuka sejak 25 Oktober 2018 dengan jadwal penyerahan video pada 26 November sampai 5 Desember 2018. Peserta diharuskan memilih minimal tiga dari tujuh obyek wisata pilihan di Tapanuli Tengah. “Event akbar ini bertema pariwisata dan kesenian, namanya Pesona Wisata Tapanuli Tengah. Acara puncak akan digelar pada 8 Desember 2018,” kata Kadis Pariwisata Tapteng, Rahmad Jambak, Selasa (30/10/2018).

Tujuh obyek wisata pilihan tersebut, lanjut Rahmad, adalah Makam Mahligai, Makam Papan Tinggi, Tugu Titik Nol, Pantai Binasi, Pulau Mursala yang terdiri dari Pulau Kalimantung dan Pulau Putri, kemudian obyek wisata terumbu karang atau potensi wisata bawah laut.
Para peserta dapat menambahkan obyek wisata lain atau kreasi lain yang bernilai seni mulai dari budaya dan kearifan lokal, semisal tari Sikambang, air terjun Silaklak, air terjun Tujuh Tingkat atau obyek wisata dan kesenian lain.
“Total hadiah yang diperebutkan Rp 45 juta. Selain juara satu sampai tiga, ada juga juara harapan dan favorit. Juara ini akan diperoleh dari penilaian jumlah like subscribe di akun youtube para peserta,” ucap Rahmad.
Selanjutnya, untuk lomba design icon, pendaftaran dibuka sejak 28 Oktober hingga 30 November 2018. Ikon harus sesuai dengan visi dan misi Dinas Pariwisata Kabupaten Tapanuli Tengah. Harus karya original dan belum pernah diperlombakan. Pada lomba foto selfie obyek wisata, pendaftaran dibuka sejak 28 Oktober hingga 30 November. Peserta mengunggah fotonya ke Instagram dengan memberi tanda @DisparTapteng.

Sumber : www.travel.kompas.com

M Hernan dan Fellicia Jadi Duta Wisata Aceh

Muhammad Hernan Rusyidi dan Elzira Fellicia dinobatkan menjadi duta wisata Aceh 2018 pada malam penobatan Duta Wisata Aceh di AAC Dayan Dawood, Banda Aceh, Sabtu (27/10/2O18) malam.

Fellicia Yang berasal dari Aceh Besar dinobatkan sebagai Inong Aceh dan M Hernan dari Lhokseumawe dinobatkan sebagai Agam Aceh.

Keduanya, masing-masing berhasil mengalahkan 22 peserta lain dari seluruh Aceh.

Pemilihan duta wisata Aceh diikuti oleh 23 pasang duta wisata yang mewakili 23 Kabupaten/Kota di Aceh, yang juga Duta Wisata daerah masing-masing.

Sedangkan Wakil I dinobatkan kepada Dhea Nadilla dari Aceh Utara dan Kharisma Fiendy dari Bener Meriah.

Wakil II diraih oleh Cindy Alfirdausi dari Banda Aceh dan Reza Tafta dari Aceh Tenggara.

Selanjutnya Wakil II diraih oleh Lusi Yana dari Pidie Jaya dan Munji Assidiqi dari Aceh Selatan.

Wakil IV diraih oleh Maulida Rahma dari Aceh Barat dan T Muhammad Aidil Aceh Besar.

Lalu Wakil V diraih oleh Afra Widi Wardani dari Lhokseumawe dan Muhammad Hanid dari Pidie.

Pada malam penobatan itu, para peserta mendapat penilaian langsung dari dewan juri, dengan beragam pertanyaan menyangkut segala sektor yang berkaitan dengan Aceh.

Sebelum malam penobatan mereka sudah dibekali dengan berbagai ilmu untuk mengemban tugas sebagai Duta Wisata.

Pemilihan duta wisata tahun ini mengangkat tema “Aceh Hebat melalui Peran dan Aksi Nyata Duta Wisata”.

Perwakilan terbaik ini akan berkontribusi untuk pengembangan pariwisata Aceh.

Sumber : www.aceh.tribunnews.com