Hati-Hati!!! Gambar Berformat PNG Berbahaya untuk Android

Sumber Foto : www.klick.co.id

Baru-baru ini Google mengungkapkan adanya kerentanan di sistem operasi besutannya, Android. Para pengguna dikabarkan diminta untuk lebih waspada jika menerima gambar berformat PNG.

Dilansir dari laman CSO Online, Kamis (14/2/2019), terdapat bug atau celah keamanan yang ditemukan para mitra Android yang dapat merusak sistem operasi Android mulai versi 7.0 Nougat hingga 9.0 Pie. Celah tersebut memungkinkan peretas menjalankan kode setelah pengguna menerima dan membuka gambar berformat PNG yang telah dirancang khusus untuk merusak sistem.

Nantinya, pengguna tidak akan sadar karena saat melihat gambar tersebut berarti membuka jalan bagi hacker untuk menyerang ponsel Anda dari jarak jauh.

Meski begitu, Google belum memberikan penjelasan lebih rinci terkait masalah ini.

Sumber : www.techno.okezone.com

 

Google Sematkan Teknologi AR dalam GMaps

Google menambah fitur baru dalam peta digitalnya. Kali ini, Google akan menambahkan fitur Augmented Reality (AR) untuk Google Maps. 

Fitur ini diluncurkan untuk meningkatkan navigasi bagi pejalan kaki. Google memang sudah mengumumkan dalam konferensi I/O 2018, namun fitur ini masih dalam tahap uji coba.

Menurut 9to5google, fitur ini memanfaatkan teknologi AR dan kamera ponsel belakang. Lalu, Google juga memanfaatkan Visual Positioning System yang berfungsi untuk memperkirakan pengguna berdiri di posisi yang tepat saat menggunakan Google Maps sebagai penunjuk jalan mereka.

Selain itu, saat Google Maps menemukan lokasi pasti pengguna berada, akan muncul simbol penanda hingga tanda panah penunjuk jalan pada layar ponsel yang dianimasikan dengan bentuk 3D. Kemudian, pengguna hanya perlu mengikuti tanda panah tersebut untuk mencapai lokasi tujuan.

Sayangnya, menurut Slashgear, Maps AR tidak diperuntukkan untuk menavigasikan pengguna saat menggunakan kendaraan. Guna mencegah terjadinya kecelakaan, saat pengguna terlalu memperhatikan layar ponsel mereka, Google Maps akan mengingatkan pengguna meletakkan ponsel.

Sumber : www.cnnindonesia.com

Pakai GPS Sambil ‘Nyetir’ Bisa Didenda Rp750 Ribu

Pengemudi yang menggunakan GPS (global positioning system) di ponsel terancam didenda Rp750 ribu dan kurungan penjara tiga bulan.

Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya Kompol Herman Ruswandi mengatakan sanksi tersebut akan diberikan jika petugas di lapangan menemukan pengendara yang berkendara sambil menggunakan GPS.

Ke depan, penindakan akan diintegrasikan dengan sistem tilang elektronik menggunakan kamera pemantau closed circuit television (cctv).

Ditlantas Polda Metro Jaya berencana menambah kamera cctv di 10 titik yang tersebar di kawasan Istana Merdeka hingga Senayan. Saat ini penambahan cctv baru dilakukan di dua titik yakni Simpang Patung Kuda Arjuna Wiwaha dan Simpang Sarinah.

Sumber : www.cnnindonesia.com

Soal Iklan, Facebook Bakal Buka-bukaan

Facebook membuat kebijakan yang akan buka-bukaan soal pengiklan di platformnya. Nantinya, fitur ini akan menunjukkan siapa yang memberikan kontak informasi kepada pengiklan sehingga iklan tersebut muncul di laman pengguna. Pengguna akan tahu apakan kontak itu didapat langsung dari sumber seperti peritel atau pihak ketiga yang mengumpulkan data tersebut.

Nantinya data-data ini bisa dilihat pengguna pada opsi “Mengapa saya melihat (iklan) ini?”. Opsi tersebut bisa diakses dengan mengklik opsi titik tiga di pojok kanan atas. Sebelumnya, di opsi “mengapa saya melihat (iklan) ini” Facebook hanya menampilkan alasan mengapa sebuah iklan muncul di laman pengguna. Akan muncul beberapa opsi yang menunjukkan kemungkinan iklan muncul.

Facebook mungkin tidak setransparan perusahaan lain terkait kebijakan iklan di platformnya, seperti dikutip Engadget.

Sumber : www.cnnindonesia.com

YouTube Akui Rewind 2018 ‘Memalukan’

CEO YouTube Susan Wojcicki mengakui video YouTube Rewind 2018 adalah hal yang ‘memalukan’. Pengakuan ini muncul beriringan dengan jumlah dislike (tidak suka) video yang menembus angka 15 juta.

YouTube Rewind 2018 memecahkan rekor video yang dengan jumlah dislike terbanyak. Sebelumnya rekor ini dipegang oleh video dari bintang pop ternama Justin Bieber.

Video ini hanya membutuhkan waktu seminggu untuk memliki gelar video dengan jumlah dislike terbanyak di platform Youtube.

Sebagai informasi, Youtube Rewind 2018 adalah sebuah video tapak tilas yang dirilis setiap tahun. Video ini merefleksikan dan mendefinisikan Youtube setiap tahun.

Dilansir dari TechCrunch, Wojcicki juga menyebut soal monetisasi Youtube. Banyak pembuat konten di Youtube yang mengeluhkan penurunan pendapatan setelah Youtube mengubah aturan iklan di platformnya tahun lalu. Momen yang mereka sebut sebagai “adpocalypse”. 

Nantinya, Wojcicki menjanjikan para pembuat konten di Youtube akan disediakan dashboard Youtube Studio untuk memantau bagaimana performa video yang mereka buat. 

Sumber : www.cnnindonesia.com

Facebook Hapus Empat Akun Kelompok Pemberontak di Myanmar

Facebook mengaku telah menghapus empat akun grup pemberontak yang berperang melawan militer Myanmar dari jejaring sosialnya.

Hal ini dinyatakan Facebook sebagai bentuk pencegahan terhadap bahaya offline dengan cara menghapus akun kelompok-kelompok yang mereka cap sebagai ‘organisasi berbahaya’.

Seperti dilansir Reuters pada Selasa (5/2), Facebook menyatakan akan menghapus pujian, dukungan, dan perwakilan dari beberapa grup yang sudah dilarang sebelumnya.

Mereka adalah Tentara Arakan, Tentara Aliansi Demokrasi Nasional Myanmar, Tentara Kemerdekaan Kachin, dan Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang.

“Dalam upaya untuk mencegah dan menghancurkan bahaya offline, kami tidak mengizinkan organisasi atau individu yang menyatakan misi kekerasan atau ikut berperan dalam melakukan kekerasan untuk memiliki akun di Facebook,” dikutip dari pernyataan Facebook hari ini.

Langkah ini dilakukan Facebook setelah perusahaan itu dikritik karena tidak melakukan upaya lebih untuk mencegah penyebaran konten berisi kekerasan dan kebencian yang telah tersebar luas seiring memanasnya konflik di Myanmar.

Facebook juga menyatakan telah melarang ratusan akun serupa sejak Agustus lalu.

Diketahui, empat grup yang dinyatakan Facebook itu belum menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan pemerintah. Mereka juga merupakan kelompok yang sering bersitegang dengan militer Myanmar beberapa tahun terakhir.

Salah satunya adalah Tentara Kemerdekaan Kachin yang merupakan kelompok terkuat diantara pemberontak lainnya di daerah utara.

Sumber : www.cnnindonesia.com

Kecepatan Internet Indonesia ke-2 Terbawah dari 45 Negara

Rata-rata kecepatan internet di Indonesia menduduki peringkat 42 dari total 46 negara lain. Hasil ini diperoleh dari data Ookla pada Desember 2019. Artinya, kecepatan internet di Indonesia tergolong keempat paling buncit dari negara lainnya. 

Rata-rata kecepatan internet kabel di Indonesia adalah 15,5 Mbps, sementara rata-rata kecepatan internet kabel dunia sebesar 54,3 Mbps. Kecepatan ini rata-rata mengalami kenaikan 33 persen tiap tahun.

Lantas untuk kecepatan koneksi internet mobile atau seluler, Indonesia kembali menduduki peringkat buncit. Dari 45 negara, Indonesia berada di peringkat 43.

Masih dari data Ookla, kecepatan internet seluler Indonesia tercatat sekitar 10,5 Mbps. Sementara rata-rata kecepatan internet selular dunia ada di angka 25,1 Mbps dan naik 18 persen tiap tahunnya.

Sumber : www.cnnindonesia.com

Pemprov DKI Buat Aplikasi Cek Kesehatan Jiwa Warga

Dinas Kesehatan DKI Jakarta meluncurkan aplikasi e-Jiwa guna mendeteksi secara dini masalah kejiwaan. Hal itu diumumkan oleh akun Instagram resmi @dkijakarta yang diunggah pada hari ini (31/1). Namun, saat ini, aplikasi e-Jiwa hanya dapat dinikmati oleh para pengguna Android.

Aplikasi ini diutamakan untuk melakukan deteksi dini masyarakat sebelum mendatangi puskesmas terdekat. Pasien akan diberikan beberapa pertanyaan yang ada di dalam aplikasi e-Jiwa.

Saat dicoba, hasil pengetesan di aplikasi tersebut tidak langsung muncul. Melainkan dikirim terlebih dulu kepada dinas kesehatan. Masih belum jelas berapa lama hasil tes tersebut akan ditindaklanjuti oleh pegawai dinas.

Di laman Instagramnya, pemprov DKI menjanjikan setelah penduduk melakukan pemeriksaan, petugas puskesmas akan ‘menjemput bola’ dengan cara mendatangi langsung rumah warga dengan tim Ketuk Pintu Layani Dengan Hati (KPLDH) maupun melalui kegiatan Pos Pembinaan Terbaru (PosBindu).

Pada sistem aplikasi e-Jiwa, hasil deteksi dini ditunjukkan dengan 3 kategori warna yaitu,
1. Hijau, artinya sehat. Pada kategori ini maka pasien akan dilakukanpemeriksaan kembali 1 tahun kemudian.
2.Kuning, artinya border line. Pasien akan langsung dilakukan konseling di tempat oleh petugas puskesmas. Selanjutnya, akan diperiksa kembali 1 bulan kemudian.
3. Merah, warga mempunyai gangguan kejiwaan yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dan mendalam. Oleh karena itu, petugas puskesmas akan langsung mendaftarkan pasien ke puskemas dengan menggunakan Buku Saku Kesehatan Jiwa.

Sumber : www.cnnindonesia.com

Hati-hati Berkendara Sambil Lihat HP Bisa Dipenjara

Mahkamah Konstitusi (MK) menegaskan mengemudi sambil lihat HP dipenjara sesuai UU LLAJ. Baik menelepon, atau melihat peta GPS di telepon.

“Menolak permohonan para Pemohon untuk seluruhnya,” kata Ketua MK dalam sidang terbuka di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Rabu (30/1/2019).

Gugatan ini diajukan oleh Komunitas mobil yang tergabung dalam Toyota Soluna Community (TSC). TSC menggugat Pasal 106 ayat 1 UU LLAJ yang berbunyi:

Adapun penjelasan Pasal 106 ayat 1 yaitu:

Yang dimaksud dengan “penuh konsentrasi” adalah setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan penuh perhatian dan tidak terganggu perhatiannya karena sakit, lelah, mengantuk, menggunakan telepon atau menonton televisi atau video yang terpasang di Kendaraan, atau meminum minuman yang mengandung alkohol atau obat-obatan sehingga memengaruhi kemampuan dalam mengemudikan Kendaraan.

“Pasal 106 ayat (1) UU 22/2009 adalah mengenai wajibnya pengemudi mencurahkan konsentrasinya secara penuh pada saat sedang mengemudikan kendaraan atau berkendara. Oleh karena itu pengemudi tidak boleh melakukan kegiatan lain jika kegiatan lain tersebut dapat mengganggu konsentrasinya dalam mengemudi,” ujar 9 hakim konstitusi dengan bulat.

Tujuan pemidanaan dari pasal itu adalah dalam rangka menciptakan ketertiban dan keselamatan berlalu lintas.

“Konsentrasi pengemudi tidak boleh terganggu karena menggunakan aplikasi GPS dalam telepon seluler pada saat berkendara karena akan menyebabkan berkurangnya perhatian dan konsentrasi pengemudi yang dapat berdampak pada kecelakaan lalu lintas. Menurut pendapat Mahkamah, Penjelasan Pasal 106 ayat (1) UU 22/2009 terkait dengan frasa “penuh konsentrasi” bertujuan untuk melindungi kepentingan umum yang lebih luas akibat dampak buruk perilaku pengemudi yang terganggu konsentrasinya pada saat mengemudikan kendaraannya,” papar MK.

Lantas berapa hukuman bagi yang mengemudi sambil lihat GPS di HP? Pasal 283 UU 22/2009 menyatakan:

Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di Jalan sebagaimana dimaksud dalam 155 Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 bulan atau denda paling banyak Rp 750 ribu. 

Sumber : www.oto.detik.com

Urus Perizinan Lewat Aplikasi JakEVO

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DKI Jakarta terus berupaya mendorong peringkat kemudahan bisnis alias ease of doing bussiness (EODB) Indonesia ke posisi peringkat 40 besar dunia.

Salah satu upaya yang dilakukan yakni melalui penyediaan aplikasi perizinan dengan pelayanan online yang bertajuk Jakarta Evolution (JakEVO).

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi DKI Jakarta, Edy Junaedi dalam keterangan resminya Senin (28/1/2019) menjelaskan, JakEVO merupakan sebuah program aplikasi PTSP yang mampu memberikan berbagai macam platform elektronik yang memudahkan pemohon sehingga dapat mencegah praktik calo dalam pengurusan izin atau non izin.

JakEVO Dilengkapi dengan berbagai fitur unggulan yang user friendly.

Proses pengajuan izin pun menjadi lebih singkat hanya dengan tiga langkah yaitu upload dokumen, tagging lokasi dan disclaimer, kemudian pemohon sudah dapat menerbitkan sertifikat izin yang dimohonnya sendiri.

Selain itu, aplikasi ini juga memungkinkan pemohon untuk mengunggah lebih dari satu berkas dalam waktu bersamaan. Berkas disimpan dalam folder “Berkas Saya”, sehingga pemohon tidak perlu mengunggah ulang untuk izin yang selanjutnya ingin diajukan.

Sumber : www.tribunnews.com