Saung Angklung Udjo

Bagi Anda yang ingin berkunjung ke tempat wisata yang berbeda, unik, serta menghibur dan mendidik maka Anda dapat mencoba datang ke Saung Angklung Udjo. Saung Angklung Udjo adalah pusat pelestarian dan pertunjukan kebudayaan tradisional yang ada di Bandung. Bagi orang tua, Anda dapat mengenang masa lalu bermain angklung di tempat ini, sedangkan bagi anak Anda, mereka dapat belajar mengenal kebudayaan Indonesia yang sudah jarang ditemui di kota-kota besar ini.

Selain kunjungan wisata seni dan budaya, Saung Angklung Udjo juga sering kali mendapat kunjungan dari rombongan sekolah yang ingin mempelajari kebudayaan tradisional langsung di tempatnya. Saung Angklung Udjo juga menarik perhatian dunia internasional sehingga banyak wisatawan asing yang datang berkunjung untuk menikmati suara angklung yang indah dan menenangkan hati.

Sumber : anekatempatwisata.com

Topeng Malangan

Di Kota Malang terdapat seni pemahatan topeng yang asli bercirikan khas Malang. Berdasarkan beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa Topeng Malang adalah sebuah kesenian kuno yang usianya lebih tua dari keberadaan Kota Apel ini.

Topeng ini pun sudah diperkenalkan sejak zaman kerajaan Gajayana kala itu. Para pemahat Topeng Malangan sudah turun temurun sampai sekarang, walaupun jumlahnya tidak terlalu melonjak banyak. Pada jaman dulu apresiasi pada Topeng Malang ini diwujudkan dengan bentuk pertunjukan saat ada acara tertentu seperti pernikahan, selamatan, dan hiburan pejabat tinggi kala itu.

Topeng Malang sedikit berbeda dengan topeng yang ada di Indonesia, dimana corak khas dari pahatan kayu yang lebih kearah realis serta menggambarkan karakter wajah seseorang. Ada banyak ragam dari jenis Topeng Malang yang dibuat seperti karakter jahat, baik, gurauan, sedih, kecantikan, ketampanan, bahkan sampai karakter yang sifatnya tidak teratur.

Sajian ini nantinya dikolaborasikan dengan tatanan rias dan pakaian untuk memainkan sebuah pewayangan atau cerita tertentu menggunakan Topeng Malang. Perkemgbangan saat ini Topeng Malang sudah dapat dinikmati dalam bentuk drama, ada yang menceritakan tentang sosial dan humoran.

Sumber : puspitasari15.blogspot.com

Rumah Adat Joglo (Jawa Tengah)

Bentuk arsitektur rumah ini sangat unik dan sarat akan nilai-nilai kebudayaan masyarakat Jawa. Dibangun dari kayu jati, menjadikan struktur rumah ini tahan lama dan juga kuat. Bangunan ini juga memiliki arsitektur unik yaitu berbentuk persegi panjang dengan atap rumah dibuat tinggi.

Sumber : nasional.sindonews.com

Perayaan Satu Suro, Tradisi Malam Sakral Masyarakat Jawa

Masyarakat Jawa khususnya di Yogyakarta dan Solo (Surakarta) masih memegang teguh ajaran yang diwarisi oleh para leluhurnya. Salah satu ajaran yang masih dilakukan adalah menjalankan tradisi malam satu Suro, malam tahun baru dalam kalender Jawa yang dianggap sakral bagi masyakarat Jawa.

Tradisi malam satu Suro bermula saat zaman Sultan Agung sekitar tahun 1613-1645. Saat itu, masyarakat banyak mengikuti sistem penanggalan tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu. Hal ini sangat bertentangan dengan masa Sultan Agung yang menggunakan sistem kalender Hijriah yang diajarkan dalam Islam.

Sultan Agung kemudian berinisiatif untuk memperluas ajaran Islam di tanah Jawa dengan menggunakan metode perpaduan antara tradisi Jawa dan Islam.

Sebagai dampak perpaduan tradisi Jawa dan Islam, dipilihlah tanggal 1 Muharam yang kemudian ditetapkan sebagai tahun baru Jawa. Hingga saat ini, setiap tahunnya tradisi malam satu Suro selalu diadakan oleh masyarakat Jawa.

Malam satu Suro sangat lekat dengan budaya Jawa. Iring-iringan rombongan masyarakat atau yang biasa kita sebut kirab menjadi salah satu hal yang bisa kita lihat dalam ritual tradisi ini.

Para abdi dalem keraton, hasil kekayaan alam berupa gunungan tumpeng serta benda pusaka menjadi sajian khas dalam iring-iringan kirab yang biasa dilakukan dalam tradisi Malam Satu Suro.

Di Solo, biasanya dalam perayaan malam satu Suro terdapat hewan khas yakni kebo (kerbau) bule. Kebo bule menjadi salah satu daya tarik bagi warga yang menyaksikan perayaan malam satu Suro. Keikutsertaan kebo bule ini konon dianggap keramat oleh masyarakat setempat.

Berbeda dengan Solo, di Yogyakarta perayaan malam satu Suro biasanya selalu identik dengan membawa keris dan benda pusaka sebagai bagian dari iring-iringan kirab.

Tradisi malam satu Suro menitikberatkan pada ketentraman batin dan keselamatan. Karenanya, pada malam satu Suro biasanya selalu diselingi dengan ritual pembacaan doa dari semua umat yang hadir merayakannya. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan berkah dan menangkal datangnya marabahaya.

Selain itu, sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling disini memiliki arti manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sementara, waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan.

Sumber : www.indonesiakaya.com

Tradisi Marhajabuan

Tradisi Marhajabuan merupakan salah satu tradisi masyarakat batak medan. Tradisi ini dilakukan ketika proses pernikahan.

Selain itu tradisi marhajabuan merupakan salah satu tradisi yang wajib dilakukan ketika prosesi pernikahan. Dalam tradisi ini kedua mempelai juga diharuskan mengundang semua kerabat dan juga para tamu undangan lainnya di saat prosesi pernikahan.

Sehingga sangat jarang sekali prosesi pernikahan masyarakat batak ini bakalan sepi atau hanya di datangi beberapa orang saja.

Sumber : www.pituluik.com

Subak, Filosofi Keserasian dalam Masyarakat Agraris Pulau Dewata

 

Sistem subak telah menjadi salah satu kekhasan Provinsi Bali. Sistem pengairan yang berkembang dalam pengaruh nilai-nilai ajaran Hindu yang kuat ini menjadi sebentuk kearifan lokal yang membuat masyarakat petani dapat serasi dengan alam untuk memperoleh hasil panen yang optimal.

Subak pun telah memperoleh pengakuan dari para pakar pertanian internasional. Salah satunya dari John S. Amber (1990) yang mengakui subak sebagai prinsip pengelolaan irigasi yang unggul dan maju. Sistem irigasi pertanian inipun tetap lestari dalam budaya masyarakat pedesaan di Bali selama berabad-abad dan terus berjalan hingga saat ini.

Dalam kajian sejarah, diperkirakan sistem subak telah dikenal masyarakat Bali sejak abad ke-11 Masehi. Pendapat ini didasarkan pada temuan Prasasti Raja Purana Klungkung (994 Saka/1072 M) yang menyebutkan kata “kasuwakara”, yang diduga merupakan asal kata dari “suwak”, yang kemudian berkembang menjadi “subak”.

Sumber sejarah lainnya adalah Lontar Markandeya Purana. Dalam naskah yang menceritakan asal muasal desa dan Pura Besakih ini terdapat cerita mengenai pertanian, irigasi, dan subak. Hal ini mengindikasikan eksistensi subak telah ada sejak sebelum Pura Besakih didirikan oleh Resi Markandeya pada awal abad ke-11 Masehi.

Subak merupakan suatu sistem swadaya masyarakat yang berfungsi mengatur pembagian aliran irigasi yang mengairi setiap petak areal persawahan. Sistem ini dikelola secara berkelompok dan bertingkat disertai pembagian peran yang spesifik bagi setiap anggotanya.

Dalam organisasi subak, dikenal adanya beberapa perangkat. Perangkat-perangkat yang ada dalam subak adalah pekaseh (ketua subak), petajuh (wakil pekaseh), penyarikan (juru tulis), petengen (juru raksa), kasinoman (kurir), dan beberapa yang lainnya. Selain itu, dikenal adanya sub-kelompok yang terdiri dari 20-40 petani yang disebut munduk, yang diketuai oleh seorang pengliman.

Selain sistem strukturalnya, subak juga memiliki kekhasan dalam hal ritual upacara keagamaan yang berlangsung di dalamnya. Dalam subak, dikenal adanya ritual yang berlaku secara perseorangan dan ritual berkelompok (tingkat munduk/tempek dan subak).

Ritual perseorangan diantaranya ngendangin (dilakukan saat pertama kali mencangkul), ngawiwit (saat petani menabur benih), mamula (saat menanam), neduh (saat padi berumur 1 bulan agar tidak diserang penyakit), binkunkung (saat padi mulai berisi), nyangket (saat panen), dan manteni (ketika padi disimpan di lumbung). Di tingkat tempek/munduk, dikenal ritual berkelompok seperti mapag toya, mecaru, dan ngusaba.

Sumber : www.indonesiakaya.com

Karo, hari raya yang dinanti

Bagi suku Tengger, Karo adalah hari raya yang paling dinanti. Ini adalah hari raya terbesar bagi mereka. Karo diselenggarakan setelah Hari Raya Nyepi.

Disana digelar ritual adat. Nah, uniknya, ritual ini dipimpin oleh seorang “Ratu”. Ratu yang dimaksud oleh masyarakat Tengger ini bukan seorang perempuan. Tetapi mempunyai arti seorang pemimpin yang memimpin doa. Ada juga yang menyebutnya Dukun. Ratu disini berjenis kelamin laki-laki.

Prosesi dalam acara Karo meliputi; pawai hasil bumi, kesenian adat seperti tarian Karo yang benama tari Sodoran. Kemudian diikuti dengan silaturahmi ke rumah tetangga dan saudara. Kegiatan adat ini bertujuan sekaligus sebagai pemersatu suku Tengger.

Sumber : takaitu.com

Kesenian Bedhaya Ketawang

Nah yang keenam ini adalah yang bisa dibilang sangat mistis. Kesenian Tari Bedhaya Ketawang adalah sebuah tari yang sangat sakral dan hanya digelar dalam setahun sekali.

Menurut cerita yang beredar, dalam tarian tersebut ada Sang Ratu Kidul yang ikut menari sebagai rasa penghormatan kepada Raja Mataram.

Sumber : www.piknikdong.com

Tari Petik Pari, Simbol Budaya Masyarakat Agraris

Satu persatu penari naik ke atas panggung. Lima orang penari bergerak melingkar, memutar, dan berbaris lurus dengan gerak dasar tumit, tangan dan pinggul. Kemudian mereka berpencar dan saling berhadapan satu sama lain dalam bentuk setengah lingkaran. Gerakan tari dilanjutkan dengan penari berjongkok seraya meragakan gerakan memetik padi. Inilah tari Petik Pari, tari khas Pacitan yang ditarikan untuk merayakan hasil panen padi.

Usai menampilkan gerakan utama, kemudian 5 penari melakukan gerak saling berangkulan, memainkan kaki, memutar putran kecil, dan berlanjut ke putaran besar. Empat orang penari mengelilingi 1 penari dan berhenti dengan posisi seolah-olah sedang menyambut penonton. Rupanya gerakan indah ini merupakan gerakan penutup dan para penari kembali ke belakang panggung.

Beberapa daerah masih memegang teguh tradisi penghormatan terhadap Dewi Sri. Figur Dewi Sri menjadi simbol dan kerangka acuan berpikir bagi orang Jawa khususnya petani Jawa di dalam prosesi siklus hidup yaitu perkawinan, memperlakukan rumah dan tanah pertaniannya. Di beberapa tempat mempunyai ritual adat petik pari berupa syukuran. Diciptakan tarian Petik Pari ini salah satu upaya mewacanakan kembali pentingnya prosesi petik padi dalam khasanah budaya Jawa dan nusantara.

Tari Petik Pari merupakan tarian kontemporer yang dikembangkan oleh Anang dari sanggar Blarak Pacitan. Anang dan istrinya dalam setahun terakhir mulai mengeksplorasi budaya lokal untuk diangkat menjadi tarian. Anang dan istrinya bekerja sebagai guru tari dan membina sekitar 500 anak dan remaja di Pacitan, Jawa Timur.

Di sanggar Blarak Pacitan, anak-anak sanggar banyak bereksplorasi gerakan-gerakan dasar tari. “Mereka anak sanggar yang telah menginjak remaja mulai berpotensi menularkan ilmunya, kita perintah untuk melatih adik-adik sanggar yang umurnya dibawahnya. Selain itu kita kirim ke sekolah-sekolah untuk melatik anak didik di SD, SMP dan SMA,” tutur Anang dalam pementasan Seni Budaya Pacitan di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), 2 Agustus 2015.

Anang mengungkapkan, tugasnya menciptakan tontonan yang menarik. Dalam dunia tari kontemporer, selain menciptakan gerak-gerak tari, saya selalu mengiringi dengan tradisi dan budaya. “Jadi tari petik pari ini memang mengejawantahkan nilai positif masyarakat agraris di Jawa.” ungkapnya.

Sumber : www.indonesiakaya.com

Pawai Jampana, Tradisi Unik Khas Bandung yang Tetap Terjaga

Indonesia merupakan salah satu negara yang paling menjunjung tinggi tradisi serta adat istiadat masyarakatnya. Nyaris seriap suku dan ras yang ada di tanah air memiliki peraturan, tradisi, hingga adat yang terus dipelihara hingga saat ini. Adat istiadata, bahasa serta kebiasaan yang berbeda-beda inilah yang menjadikan Indonesia satu negara utuh yang kuat dan tangguh. Tak terkecuali di Bandung, Jawa Barat

Dianggap sebagai salah satu kekayaan nusantara, adat istiadat dan tradisi unik memang masih terus dipelihara hingga saat ini. Begitupun yang terjadi dengan masyarakat Bandung. Masyarakat asli Bandung yang mayoritas adalah suku sunda, menjadikan sebagian besar masyarakat masih menjunjung tinggi dan melaksanakan tradisi suku asal Jawa Barat tersebut.

Salah satu tradisi unik yang ada di Bandung dan masih dilaksanakan hingga saat ini adalah tradisi Pawai Jampana. Pawai Jampana merupakan salah satu pawai yang dilaksanakan masyarakat Bandung sejak jaman dahulu kala. Berbeda dengan jenis pawai dari kota lain, di sini masyarakat akan membawa tandu besar yang berisi berbagai jenis hidangan dan hasil bumi.

“Di dalam jampana yang dibawa empat orang berisi hasil pertanian da indusrtri rumah tangga masyarakat,” kata Bupati Bandung Dadang M, Naser, Minggu (26/4/2015), di sela-sela pawai jampana di komplek Pemkab Bandung. “Jampana merupakan miniatur hasil produksi warga yang dilengkapi dengan tumpeng untuk makan para peserta pawai. Biasanya pawai jampana untuk memeriahkan kemerdekaan Indonesia, namun kami coba juga untuk ulang tahun Kab. Bandung,” katanya.

Ya, digelar tiap tahun pawai Jampana dilaksanakan sekaligus untuk memperingati hari jadi Kota Bandung serta hari kemerdekaan RI 17 Agustus. Tak hanya satu, tradisi yang mendapat dukungan penuh dari pemerintah ini membawa 60 tandu sekaligus yang penuh berisi berbagai hasil bumi serta hidangan. Nantinya, hasil bumi yang ada di Pawai Jempana akan diperebutkan oleh peserta Pawai dan penonton. Begitupun dengan hidangannya, akan dinikmati bersama-sama.

Pemerintah Bandung berharap tradisi Pawai Jampana mampu mengundang perhatian wisatawan dan membuat banyak orang berkunjung ke kota Bandung setiap tahunnya. Seru ya?

Sumber : www.bintang.com