Cheese Rolling Race, Inggris

Cheese Rolling Race, tradisi berebut roda keju dalam balapan. Tradisi ini berlangsung setiap tahun di Inggris dan telah ada selama lebih dari 200 tahun. Bagi jiwa pemberani yang mengikuti tradisi ini, bersaing dalam Rolling Cheese tahunan di Cooper’s Hill-Gloucestershire adalah proposisi yang berisiko.

Tradisi Cheese Rolling Race diselenggarakan setiap bulan Mei. Untuk tahun ini, akan jatuh pada tanggal 28 Mei.

Sumber : www.idntimes.com

Tradisi Membagikan Bubur Pedas

Membagikan bubur pedas merupakan sebuah tradisi lama yang sudah secara turun temurun dilakukan masyarakat medan. Tradisi membagi-bagikan bubur pedas ini sering dilakukan pada saat menyambut bulan Suci Ramadan.

Selain itu tradisi membagi-bagikan bubur pedas ini hanya dilakukan oleh masyarakat medan yang beraga Islam. Masjid Raya Kota Medan adalah salah satu tempat yang paling sering membagi-bagikan bubur pedas di saat menyambut Bulan Suci Ramadhan.

Sumber : www.pituluik.com

Kesenian Jathilan (Kuda Luping)

Kamu pasti sudah tahu tentang Kuda Luping. Kesenian dari Jawa ini juga dikenal kemistisanya. Ketika penari kuda lumping ini sudah mulai Ndadi( dalam isitlah jawa) bisa saja makan beling, arang atau yang lainya.

Hal inilah yang menjadi daya tarik tersendiri dari kuda lumping dan menjadikan salah satu kesenian budaya yang terkenal kemistisanya.

Sumber : www.piknikdong.com

Holi Color, India

Festival Holi memperingati kemenangan kebaikan atas kejahatan, yang diakibatkan oleh pembakaran dan penghancuran Iblis bernama Holika. Hal ini dimungkinkan melalui pengabdian yang tak tergoyahkan kepada dewa pelestarian Hindu, Lord Wisnu.

Holi mendapat namanya sebagai “Festival Warna” dari Lord Krishna, sebuah reinkarnasi dari Dewa Vishnu, yang suka bermain pranks pada gadis-gadis desa dengan membasahi mereka dengan air dan warna. Festival menandai akhir musim dingin dan kelimpahan musim panen musim semi mendatang. Tahun ini, perayaan Holi Color akan berlangsung pada tanggal 1 dan 2 Maret.

Sumber : www.idntimes.com

Festival Cap Go Meh, Kalimantan Barat

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang menjadi acara tahunan yang sangat diminati oleh wisatawan. Betapa tidak, kamu bisa menyaksikan perpaduan antara budaya Tionghoa dan kebudayaan asli Kalimantan. Festival ini dimeriahkan dengan hiburan musik dan tarian tradisional dari berbagai sanggar seni, serta karnaval lampion dan kendaraan hias. Acara tahunan ini ditutup dengan parade atraksi unik dan ekstrem dari para tatung, perantara ruh dewa, seperti menusuk tubuh dengan benda tajam.

Sumber : blog.airpaz.com

Larung Sesaji

Upacara larung sesaji adalah upacara yang digelar orang Jawa yang hidup di pesisir pantai utara dan Selatan Jawa. Upacara ini digelar sebagai perwujudan rasa syukur atas hasil tangkapan ikan selama mereka melaut dan sebagai permohonan agar mereka selalu diberi keselamatan ketika dalam usaha. Berbagai bahan pangan dan hewan yang telah disembelih akan dilarung atau dihanyutkan ke laut setiap tanggal 1 Muharam dalam upacara adat Jawa yang satu ini.

Sumber : discovercity.id

Tulip Time, Belanda

Tulip time adalah tradisi perayaan bunga tulip yang mekar. Tahun ini, tepat pada tanggal 5 hingga 13 Mei. Masyarakat Belanda akan merayakannya dengan menggelar parade bunga tulip seperti berkeliling jalanan kota dengan menggunakan pakaian tradisional Belanda, menari berpasangan dan bernyanyi nyanyian Belanda.

Kota Belanda memiliki ribuan tulip yang berjejer di jalanan dan di kebun tulip khusus di seluruh kota.

Sumber : www.idntimes.com

Menyaksikan dari Dekat Patung-Patung Karya Petrus Lengkong

Patung bagi masyarakat di Kalimantan tidak hanya sebuah benda ukiran yang tanpa arti. Patung bagi masyarakat Kalimantan terutama Kalimantan Barat memiliki ikatan kuat dengan nenek moyang yang kadang dibuat dengan sejumlah ritual tertentu. Bahkan beberapa patung ada yang disakralkan karena menggambarkan kehidupan leluhur mereka.

Salah satu seniman patung yang ada di Kalimantan Barat adalah Petrus Lengkong yang setiap patung karyanya memiliki makna kisah kehidupan yang baik dari para leluhurnya. Banyak patung hasil karya Petrus memiliki karakter yang melambangkan nilai-nilai kehidupan manusia. Patung-patung ini dibuat dari kayu trambesi yang banyak didapatkan di sekitar Kabupaten Bengkayang dan Singkawang, daerah tempatnya bermukim.

Ketika tim IndonesiaKaya.com menyambangi rumah Petrus, kami disajikan sekitar 15 patung dengan berbagai ragam bentuk serta nilai estetika tertentu. Petrus sendiri tidak secara spesifik memberikan nama pada setiap patung hasil karyanya. Namun, dibalik itu ia justru memahat patung berdasarkan cerita-cerita kehidupan leluhur masyarakat Dayak Bekati, Gunung Bawakng, Kabupaten Bengkayang.

“Patung-patung tersebut memiliki historis,” ungkap Petrus membuka perbincangan. Satu persatu historis patung disebutkan seperti sosok patung seorang Dayak Bekati yang berladang, patung seorang yang memanen, serta patung seorang yang tertindas. Dalam kehidupan berkeluarga, patung-patung milik Petrus menggambarkan kehidupan harmonis anak dan istri dalam pelukan suami. Ada juga gambaran masyarakat yang bergotong royong, keteguhan hati seorang ibu yang memegang teguh adat istiadat hingga akhir jaman. Ada juga karyanya yang memiliki pesan terhadap kelestarian lingkungan yang digambarkan dalam patung masyarakat Dayak yang mencintai alam dan hewan.

Walaupun patung satu dan yang lain berbeda, namun ada bentuk tertentu yang muncul secara berulang. Misalnya patung leluhur ditampilkan dengan posisi duduk, baik bersila maupun jongkok dengan tangan berlipat atau diletakkan di lutut. Penampilan patung semacam ini, memberikan kesan seolah seorang leluhur sedang duduk di tengah keluarga keturunan mereka.

Diantara patung-patung hasil karyanya, Petrus menyebutkan ada sebuah patung yang paling tua umurnya. Selain tua, patung tersebut disakralkan karena setiap malam ada roh yang masuk ke patung tersebut. Hingga saat ini, Petrus telah banyak menghasilkan karya patung, namun ia mengaku belum bisa dikumpulkan pada satu galeri. Keberadaan patung hasil karyanya masih dititipkan di Singkawang, Pontianak, dan di Taman Mini Indonesia Indah. ”Suatu saat jika sudah punya kesempatan dan dana yang cukup akan Saya kumpulkan pada satu galeri,” ungkap Petrus berharap.

Atas prestasinya sebagai seniman pemahat patung, Petrus mendapatkan penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Mohammad Nuh, disegmen seni ukir dan patung tradisional dayak tahun 2013. Petrus di usianya yang saat ini sudah menginjak 78 tahun masih tetap berkarya dan menularkan seni patung dan seni relief kepada generasi muda di sanggar yang dibangunnya.

Sumber : www.indonesiakaya.com

Tradisi unik di Belgia: Masak Telur Dadar Raksasa Ramai-Ramai

HAMPIR setiap negara mengenal telur dadar. Meski hadir dengan nama dan teknik pengolahan berbeda, telur dadar memiliki kesamaan. Digunakan sebagai menu sarapan.

Mengingat cara pengolahannya yang praktis, kaum ibu di Indonesia pun sering menjadikan telur dadar sebagai menu sarapan andalan. Sementara di Belgia, bahkan ada pula tradisi telur dadar raksasa. Tradisi ini telah berlangsung selama 22 tahun.

Hingga tahun ini, tradisi membuat telur dadar raksasa masih dijalankan. Kali ini, mereka memasaknya di tengah ketakutan atas kontaminasi telur. Jutaan telur ayam telah ditarik dari supermarket Eropa akibat adanya kekhawatiran atas penggunaan insektisida fipronil yang dapat memicu kerusakan organ manusia.

Namun, penduduk Belgia tidak terpengaruh kasus tersebut. Di bawah matahari Belgia yang bersinar malu-malu dan alunan musik “The World Fraternity of Knights of the Giant Omelette” yang berdiri sejak 1973, mereka bersama-sama memasak telur dadar raksasa di luar ruangan.

Sebagaimana dilansir Antara, tradisi itu dilakukan di kota Malmedy, Belgia Timur. Presiden Persatuan Omelette Raksasa, Benedicte Mathy, menyebutkan pula kalau masakan hari itu aman dikonsumsi. Seru, ya?

Sumber : merahputih.com

Barapen, tradisi membakar batu

Tradisi Barapen oleh masyarakat Papua ini dimulai dari seorang lelaki tua dengan suatu ikat di kepalanya dan dia berlari-lari kecil mendatangi setiap rumah honai, yang mana rumah honai ini merupakan suatu rumah khas Papua,  dan lelaki ini berteriak-teriak yang merupakan teriakan khas, hingga satu per satu orang akan keluar dari rumahnya, saat itu juga para lelaki langsung sigap mempersiapkan berbagai macam peralatan perburuannya, sedangkan seorang wanita akan berkeliling mengumpulkan daun umbi-umbian, batu, serta kayu kering untuk dibakar, di saat itulah tradisi khas masyarakat Papua ini akan dilakukan.

Berbagai macam warisan kebudayaan yang harus dilestarikan agar tidak punah. Suatu adat istiadat yang telah di tercipta oleh leluhur kita memang dijadikan sebuah ajang yang sangat berharga dan bermakna, khususnya bagi masyarakat Papua.  Hingga saat ini pun tradisi pembakaran batu di masyarakat Papua ini selalu dijadikan sebuah tradisi yang harus dilakukan oleh masyarakat setempat di kawasan Papua.

Sumber : masbei.com