Festival di India Ini Bikin Ngeri, Berjalan di Atas Bara Api

FESTIVAL merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh pemerintah terkait promosi kunjungan wisata suatu daerah. Ada berbagai macam festival di seluruh negeri, mulai dari yang unik hingga terkesan ekstrem dan berbahaya.

Indonesia dan India memiliki salah satu festival yang hampir sama. Di dalam festival itu, kedua negara ini menggunakan api dan menginjaknya. Adalah Festival Biak Munara Wampasi yang diselenggarakan oleh warga Pulau Biak, Papua dan Festival Thimithi yang dirayakan di Tamil Nadu, India.

Di dalam kedua perayaan ini, warga-warga desa Tamil Nadu berjalan di atas api sebagai lambang dari kejadian di masa silam dan di Pulau Biak diartikan sebagai penghormatan kepada seseorang.

Desa yang mengadakan festival Biak Munara Wampasi ialah Kampung Mnurwar, Distrik Oridek. Sedangkan di India diadakan oleh warga Tamil Nadu.

Warga Tamil Nadu merayakan festival Thimithi bermula dari cerita pada zaman Mahabrata. Draupadi istri dari Pandawa berjalan di atas tempat pembakaran batu bara dan keluar tanpa luka, untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah dari dugaan yang telah ditujukan ke dirinya oleh Duryodana anggota ketua dari Kurawa. Thimithi adalah festival yang dirayakan untuk memperingati peristiwa ini.

Sedangkan di Pulau Biak, Papua, festival yang juga dikenal dengan nama Apen Bayeren, diadakan untuk menghormati seseorang yang datang ke desa mereka. Ketika ada seseorang yang dianggap penting dan terhormat datang ke desa, maka warga pun mengadakan festival berjalan di atas api, penghormatan ini merupakan penghormatan sakral.

Sumber : lifestyle.okezone.com

Gado-Gado, Salad Segar dengan Siraman Saus Kacang khas Betawi

Berbagai rebusan sayur-mayur, kentang, tahu, tempe dan telur tersaji dengan siraman bumbu kacang serta taburan kerupuk, itulah gado-gado. Hidangan ini sangat nikmat menjadi teman menyantap nasi atau disajikan bersama potongan lontong.

Sepintas tampilannya memiliki kemiripan dengan beberapa makanan khas daerah lain, seperti Lotek (Jawa Barat) atau Pecel (Jawa Timur). Bedanya, bumbu kacang dalam gado-gado tidak menggunakan kencur seperti halnya Lotek dan Pecel. Selain itu, tidak seperti pecel yang umumnya hanya sayuran, gado-gado menggunakan telur, tahu, tempe serta lontong.

Tidak ada yang tahu persis asal muasal sajian unik ini, namun sebagian besar referensi bebas cenderung mengasosiasikan Gado-Gado sebagai hidangan asli tanah Betawi. Asal usul nama pun nampaknya senasib dengan asal muasalnya.

Asal kata ‘Gado-Gado’ tidak ada dalam kamus bahasa Indonesia maupun kosa kata bahasa Betawi. Meski demikian, nampaknya keberadaan makanan ini justru menginspirasi perkembangan bahasa, antara lain dengan munculnya istilah ‘pernikahan gado-gado’ yang berarti kawin campur atau ‘bahasa gado-gado’ yang berarti bahasa campur aduk.

Gado-gado memang amat mudah ditemukan di berbagai penjuru kota Jakarta. Rasa gurih dari bumbu kacangnya cukup merakyat, sehingga disukai oleh berbagai jenis serta lapisan masyarakat. Wajar saja jika kemudian hidangan ini menyebar ke banyak daerah di Indonesia. Bahkan saking populernya, banyak orang asing mengenalnya sebagai salah satu ‘carte du jour’ atau daftar kuliner yang wajib dicoba ketika berkunjung ke Indonesia.

Meski demikian, setiap penikmat gado-gado biasanya punya referensi sendiri mengenai lokasi favorit, baik dari segi cita rasa maupun suasananya. Termasuk Presiden RI Pertama, Soekarno pun memiliki tempat favorit tersendiri untuk memesan Gado-Gado.

Sebenarnya, untuk sekedar menikmati Gado-Gado, banyak warung pinggir jalan dan penjaja keliling dengan gerobak yang mudah ditemui di jalan-jalan Kota Jakarta. Tetapi jika Anda menginginkan sesuatu yang berbeda, terdapat dua tempat makan yang populer karena Gado-Gadonya. Keduanya dikenal berasal dari kawasan yang dulu dikenal dengan nama ‘boplo’ (berasal dari bahasa Belanda ‘bouw-ploeg’, regu pekerja bangunan) di dekat Stasiun Gondangdia.

Kedua tempat itu adalah ‘Gado-Gado Boplo’ dan ‘Gado-Gado Cemara’. Keistimewaan ‘Gado-Gado Boplo’ (kini berlokasi di Melawai, Jakarta Selatan) adalah racikan bumbu kacang yang menggunakan campuran kacang tanah dan kacang mede. Sedangkan ‘Gado-Gado Cemara’ (berlokasi di Tanah Abang) dikenal kesegaran rebusan sayurannya dan racikan bumbu kacangnya yang tetap terjaga.

Sumber : www.indonesiakaya.com

Mangadu Pedang demi Menjaga Keharmonisan

Seorang pemuda duduk setengah bersila mengenakan pakaian adat Dayak lengkap dengan mahkota, perisai, dan mandau di pinggangnya. Seorang pemuda lain lalu keluar juga membawa perisai dan mandau. Sementara, suara dengungan yang bersumber dari alat musik sape dibunyikan untuk mengiringi pertarungan. Mereka sedang membawakan salah satu tari asal Dayak Kenyah yang bernama tari pepatay.

Tari pepatay merupakan tari yang menceritakan ksatria Dayak yang pandai berperang. Tari ini biasanya dibawakan oleh dua orang lelaki muda yang mengenakan pakain adat Dayak Kenyah. Pakaian adat laki-laki Dayak Kenyah dinamakan dengan sapei sapaqSapei sapaq umumnya berwarna dasar hitam, dengan bagian atas berbentuk rompi.

Rompi tersebut dihiasi manik-manik yang berwarna cerah dan kontras. Menurut tetua adat Dayak Kenyah, warna manik-manik yang kontras pada sapey sapaq merupakan simbol bahwa orang Dayak Kenyah mencintai alam layaknya mencintai keharmonisan dalam perbedaan.

Bagian bawah sapei sapaq berbentuk cawat. Bagian ini disebut abet kaboq. Celana cawat ini juga tak luput dari hiasan manik-manik yang berwarna kontras.

Gerakan penari pepatay didominasi gerakan yang gesit, lincah, dan cenderung akrobatik. Sesekali, ketika menghela gerakan tari, para penari biasanya melontarkan teriakan-teriakan untuk memprovokasi lawan. Sambil berteriak, mereka tetap dalam posisi siap (kuda-kuda). Pada tahap ini, biasanya gerakan penari akan berputar perlahan mengikuti gerak lawannya.

Dalam pertunjukan, para penari pepatay menggunakan mandau asli. Karenanya, aksi saling serang yang dilakukan kedua penari menjadi semakin tegang. Pertunjukan yang disaksikan pun menjadi lebih asyik.

Tari adu pedang dua ksatria ini merupakan salah satu sisi eksotis Borneo. Tari ini wajib dipentaskan ketika menyambut tamu kehormatan atau pada kegiatan budaya lainnya. Tari pepatay merepresentasikan masyarakat Dayak Kenyah yang gagah berani tapi tetap menjunjung keharmonisan. Nilai-nilai warisan budaya adiluhung yang patut dijaga dan dilestarikan sebagai kekayaan kebudayaan bangsa yang beragam.

Sumber : www.indonesiakaya.com

Carnival of Venice, Italia

Italia adalah negara di Eropa yang dikenal sebagai negara yang sangat romantis. Beberapa kota di Italia menjadi tempat tujuan wisata dan juga menjadi tempat tujuan bulan madu bagi pasangan yang baru menikah. Salah satu kotanya yakni Venice, ada satu festival yang sangat unik dan terkenal, bernama Carnival de Venezia atau Carnival of Venice.

Carnival Venice sudah ada sejak abad ke-13. Carnival ini identik dengan topeng, jadi, sejauh kalian memandang, kalian akan melihat banyak orang menggunakan topeng dengan berbagai rupa dan warna yang beraneka ragam. Carnival de Venezia dirayakan secara tahunan, tepat sebelum masa puasa bagi umat Kristiani.

Sumber : www.tahupedia.com

Manis Kenyal Es Selendang Mayang, Warisan Kuliner Betawi

Betawi punya racikan es campur yang manis gurih. Namanya es selendang mayang dengan isian lengkap dan air sirup yang segar. Slurpp!

Indonesia punya banyak jenis es campur yang menggugah selera. Dari Betawi ada es selendang mayang yang patut dicoba. Meski aslinya dari Jakarta, es selendang mayang kini semakin sulit ditemui.

Menilik namanya, kata ‘selendang’ berasal dari warna-warni kue yang jadi isian es selendang mayang. Meriahnya warna kue itu diibaratkan sebagai warna selendang. Sementara ‘mayang’ merujuk pada arti manis dan kenyal.

Kue yang dimaksud pada es ini mirip kue lapis kanji. Warnanya merah, hijau dan putih yang membuatnya makin menarik. Adonan kue dibuat dari tepung kanji atau sagu aren, gula, air dan pewarna makanan.

Adonan yang sudah matang kemudian dipotong tipis melebar seperti kue lapis sesaat sebelum es disajikan. Uniknya, untuk memotong kue ini digunakan bambu tipis.

Selanjutnya kue diracik bersama kucuran sirup gula merah dan es batu, lalu disiram kuah santan. Rasanya manis dengan semburat rasa gurih dari pemakaian santan. Paling enak dimakan dingin-dingin agar menyegarkan.

Melihat tradisi Betawi, selendang mayang biasanya disajikan saat pesta pernikahan, sebagai menu takjil atau acara hajatan bernuansa budaya Betawi. Menyantap es ini kabarnya melambangkan kehangatan dan kemeriahan.

Untuk menikmatinya, es selendang mayang banyak dijual pedagang pikulan. Ada juga yang kini sudah modern dengan memanfaatkan motor. Bisa ditemui di beberapa wilayah Jakarta, salah satunya sekitar Kota Tua.

Sumber : food.detik.com

konaki sumo

Festival Konaki Sumo, Japan

konaki sumo

Sumber : bacritkita.com

Mendengar kata sumo, pastinya Anda akan membayangkan kedua lelaki yang berbadan besar dan bergulat. Namun, festival ini bukan hanya sekadar bergulat. Para sumo akan bergulat, sambil menggendong bayi.

Perlombaan unik ini memang menjadi salah satu daya tarik wisata Jepang yang banyak dikunjungi para wisatawan. Tradisi sumo dengan menggendong bayi ini telah turun temurun dilakukan dari 400 tahun lalu, dan tangisan bayi ini dipercaya sebagai pertumbuhan bayi yang cepat.

Sumber : bacritkita.com

 

kolintang

KOLINTANG ALAT MUSIK TRADISIONAL DARI SULAWESI UTARA

kolintang

Sumber : www.negerikuindonesia.com

Kolintang adalah salah satu alat musik tradisional masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara. Alat musik ini terbuat dari kayu khusus yang disusun dan dimainkan dengan cara dipukul. Sekilas Kolintang ini hampir sama dengan alat musik Gambang dari Jawa, namun yang membedakan adalah nada yang dihasilkan lebih lengkap dan cara memainkannya sedikit berbeda. Kolintang merupakan salah satu alat musik tradisional yang cukup terkenal di masyarakat Minahasa, dan sering digunakan untuk mengiringi upacara adat, pertunjukan tari, pengiring nyanyian, bahkan pertunjukan musik.

Sejarah Dan Perkembangan Kolintang

Menurut sejarahnya, alat musik Kolintang sudah ada sejak zaman dahulu dan digunakan masyarakat untuk upacara ritual adat yang berhubungan dengan pemujaan roh leluhur. Sejak masuknya agama Kristen dan Islam di tanah Minahasa, Kolintang tidak lagi difungsikan sebagai pengiring upacara adat, namun lebih difungsikan sebagai pengiring tarian, pengiring lagu, atau pertunjukan musik.

Alat musik Kolintang awalnya hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang diletakan dan disusun berjejer diatas kedua kaki pemainnya. Kemudian dikembangkan menggunakan alas yang terbuat dari dua batang pisang. Kolintang mulai menggunakan peti resonator sejak Pangeran Diponegoro berada di Minahasa. Konon pada saat itu peralatan Gamelan juga dibawa oleh rombongannya. Sesudah perang dunia ke 2, alat musik Kolintang mulai dikembangkan lagi dari segi nada yang dihasilkan lebih mengarah ke susunan nada musik universal.

Sumber : www.negerikuindonesia.com

 

kite

Kite Festival of Berck-Sur-Mer, Perancis

kite

Sumber : avax.news

Pada sebuah kota kecil di pinggir laut Perancis dengan nama Berck-Sur-Mer, akan diadakan sebuah festival layang-layang setiap tahunnya. Festival ini akan berlangsung selama sembilan hari berturut-turut dan sepanjang sembilan hari ini akan ada banyak sekali layang-layang dengan berbagai bentuk dan warna yang menghiasi langit. Peserta dari festival ini tak hanya dari Perancis saja, tapi juga para wisatawan asing yang turut menerbangkan layang-layang dari negaranya

Sumber : loop.co.id

bukber

Buka Puasa Massal di Palestina

bukber

Sumber : trivia.id

Di Palestina, berbuka puasa bersama-sama merupakan sebuah tradisi yang sampai saat ini masih dipertahankan. Di satu tempat, terdapat hingga 3000 orang untuk berbuka puasa bersama. Menu khas di Palestina adalah Falalel. Falalel merupakan makanan ringan yang terbuat dari kacang Arab yang digiling kemudian dipadatkan, lalu dibentuk bola-bola. Meskipun Falalel dimasak dengan cara digoreng, akan tetapi Falalel memiliki cita rasa yang manis.

Sumber : trivia.id

 

membangunkan sahur

Tradisi membangunkan orang sahur

membangunkan sahur

Sumber : www.marimembaca.com

Kegiatan ini sudah lama menjadi tradisi di indonesia. Biasanya para warga yang membangunkan warga lainnya untuk sahur, berkeliling dengan membawa alat pukul seperti galon, penggorengan, dan lain sebagainya. Kata-kata yang paling umum diucapkan ialah “Sahur… sahur..” dengan nada yang mungkin sudah cukup lekat di telinga kita semua. Kegiatan ini selalu dilakukan di bulan suci ramadhan.
Sumber : www.marimembaca.com