Rambu Solo, Tana Toraja, Sulawesi Selatan

Rambu Solo adalah salah satu prosesi penting dalam sebuah upacara kematian yang berlangsung selama berhari-hari dan melibatkan seluruh penduduk desa di Tana Toraja. Meski upacara ini tidak tentu waktu pelaksanaannya, karena tergantung pada kesiapan keluarga, namun umumnya upacara Rambu Solo akan berlangsung di bulan Desember.

Kesakralan dan kemeriahan upcara ini sudah sangat terkenal hingga ke mancanegara sehingga pengunjung yang datang pun bisa mencapai puluhan ribu.

Sumber : phinemo.com

Kemeriahan Kostum Tradisional dalam Parade Budaya HUT Taman Mini Indonesia Indah

Satu persatu peserta dari masing-masing provinsi di Indonesia menunjukan atraksi kebudayaannya di halaman plaza Tugu Api Taman Mini Indonesia Indah. Sore itu, Taman Mini terlihat lebih semarak dari biasanya berkat parade budaya nusantara yang digelar untuk memeriahkan ulang tahun Taman Mini yang ke-40 ini.

Parade ini mendapat sambutan meriah dari para penonton yang sore itu memadati halaman lokasi parade berlangsung. Peserta dari Jawa Tengah menjadi peserta parade pertama yang tampil di arena Plaza Tugu Api. Setelah Jawa Tengah, hadir kontingen dari Yogyakarta yang membawa miniatur Gunung Merapi lengkap dengan letusan-letusan petasan. Bunyi petasan di udara ini mendapat sambutan meriah dari penonton yang memadati area Taman Mini.

Kontingen dari DKI Jakarta juga tidak mau kalah untuk ambil bagian dalam parade budaya ini. Sebagai tuan rumah, kontingen Jakarta menampilkan ondel-ondel yang merupakan salah satu boneka tradisional masyarakat Betawi. Selain itu, dalam rombongan parade DKI Jakarta juga ada tari-tarian serta serah-serahan yang biasa dibawa saat pernikahan tradisional betawi digelar.

Sementara kontingen Nusa Tenggara Barat hadir dengan gendang tradisional khasnya yakni gendang beleq. Para pemain gendang beleq ini berjalan hingga ke tengah arena dan di depan para hadirin mereka mempertunjukan atraksi memainkan gendang khas yang biasa kita temui di Lombok ini.

Kontingen Nusa Tenggara Timur menjadi kontingen terakhir yang tampil dalam parade budaya nusantara. Dengan kostum khas, mereka menutup kemeriahan parade budaya yang digelar dalam rangka memperingati hari ulang tahun Taman Mini Indonesia Indah ke-40 tahun ini.

Sumber : www.indonesiakaya.com

Ngabuburit

Sambil menunggu waktu buka puasa tiba, ngabuburit menjadi salah satu pilihan yang bisa dilakukan. Mulai dari jalan-jalan bersama keluarga, mengunjungi tempat-tempat menarik seperti taman, pasar ramadhan, dl menjadi pilihan untuk menunggu waktu berbuka tiba.

Sumber : www.serumpi.com

Asal-usul Pacu Jalur Kuantan Singingi

Meski sarat muatan budaya sejarah Pacu Jalur tergolong unik. Dimulai sejak satu abad lalu, Pacu Jalur awalnya adalah keriaan yang digunakan untuk merayakan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina, penguasa Belanda saat itu.
Di masa penjajahan, setiap tahunnya Pacu Jalur digelar untuk memperingati bertambahnya umur sang ratu. Namun, saat Indonesia merdeka, Pacu Jalur tak lagi digunakan sebagai penanda hari ulang tahun Ratu Belanda.
Pacu Jalur lantas digelar saban hari raya Islam. Seperti saat Iedul Fitri. Selanjutnya tradisi Pacu Jalur digelar sebagai pengingat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, hingga saat ini. Ini juga yang membuat Pacu Jalur selalu digelar setiap bulan Agustus setiap tahunnya.
Perlombaan yang konon sudah ada sejak tahun 1903 ini, menjadi agenda tetap Pemerintah Provinsi Riau untuk menarik wisatawan nusantara maupun mancanegara berkunjung ke Riau. Khususnya di Kabupaten Kuantan Singingi.
Kini, warna-warni kostum, dan dentum suara meriam penanda mulai lomba, serta teriakan pemberi semangat menjadi daya tarik budaya lokal asli Riau yang pantas dinanti dan dinikmati.
Sumber : pesona.travel

Festival Legu Gam, Ternate, Maluku Utara

Setiap bulan April, bertepatan dengan perayaan ulang tahun Sultan Ternate, Mudaffar Sjah, digelar sebuah festival yang sudah lama masuk ke dalam agenda nasional kegiatan Kementerian Pariwisata, yaitu Festival Legu Gam.

Tujuan utama festival ini adalah untuk melestarikan sekaligus mempromosikan kekayaan alam dan budaya Kesultanan Ternate dan 3 kesultanan lain yang berada di wilayah Provinsi Maluku Utara.

Hal yang paling menarik dari festival ini adalah pertunjukan Tari Legu yang merupakan jenis tarian kerajaan. Oleh sebab itu, tarian ini tidak boleh sembarang dipentaskan dan baru diperkenankan setelah Sultan selesai melakukan 3 acara penting, yaitu Doru Gam, Kololi Kie, dan Fere Kie.

Sumber : phinemo.com

Festival Danau Sentani, Jayapura, Papua

Festival yang diselenggarakan setiap pertengahan bulan Juni ini mampu menarik minat ribuan pengunjung setiap tahunnya! Festival Danau Sentani (FDS) pertama kali berlangsung tahun 2007 dan saat ini telah masuk ke dalam kalendar pariwisata utama Indonesia.

Festival yang banyak menarik perhatian wisatawan asing, seperti BelKamu, dan lokal ini merupakan pagelaran yang sangat meriah. Wisatawan akan terpesona dengan beragam tarian adat di atas perahu, tarian perang khas Papua, upacara adat seperti penobatan Ondoafi (kepala adat), hingga sajian berbagai kuliner khas Papua.

Sumber : phinemo.com

Festival Erau, dari Pesta Rakyat Ke Perhelatan Budaya Internasional

Berbicara tentang Kutai Kartanegara tak akan lengkap tanpa menyinggung pesta rakyat tahunan yang berlangsung di dalamnya, Erau. Erau merupakan salah satu festival budaya tertua di nusantara. Tradisi tahunan ini telah berlangsung selama berabad-abad, seiring perjalanan sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Bisa dikatakan, Erau telah berlangsung sejak masa awal Kesultanan Kutai berdiri.

Istilah “erau” berasal dari kata “eroh” yang dalam bahasa Melayu Kutai Tenggarong bermakna keramaian pesta ria atau secara umum dapat dimaknai sebagai pesta rakyat. Dahulu, Erau merupakan hajatan besar bagi Kesultanan Kutai dan masyarakat di seluruh wilayah kekuasaannya yang kini mencakup sebagian besar wilayah Kalimantan Timur. Pada awalnya, perhelatan ini berlangsung selama 40 hari 40 malam dan diikuti oleh segenap lapisan masyarakat.

Dalam perhelatan tersebut, rakyat dari berbagai penjuru negeri berpesta ria dengan mempersembahkan sebagian dari hasil buminya untuk dibawa ke Ibukota Kesultanan. Hal ini berkaitan dengan salah satu fungsi dari Erau sebagai wujud rasa syukur atas limpahan hasil bumi yang diperoleh rakyat Kutai. Keluarga besar Kesultanan pun menjamu rakyatnya dengan beraneka sajian sebagai bentuk rasa terima kasih atas pengabdian mereka kepada Kesultanan.

Menurut riwayat yang diyakini masyarakat Kutai secara turun temurun, Erau bermula sejak abad ke-12 Masehi. Catatan sejarah menyebutkan Erau pertama kali berlangsung saat Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia belia. Ia dikemudian hari diangkat menjadi sultan pertama Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Seiring perjalanan waktu, Kesultanan Kutai kemudian bergabung dalam wilayah Republik Indonesia. Sampai dengan tahun 1960, Kutai berstatus Daerah Istimewa dengan Sultan sebagai kepala daerah. Setelahnya, status Kutai beralih menjadi kabupaten dan kepala pemerintahan dipegang oleh bupati. Peralihan ini menjadi penanda berakhirnya era Kesultanan Kutai yang telah berdiri selama lebih dari 7 abad. Meski demikian, Erau sebagai salah satu peninggalan budaya dari Kesultanan Kutai tetap bertahan.

Erau yang dilangsungkan menurut tata cara Kesultanan Kutai terakhir kali diadakan pada tahun 1965. Kemudian, atas inisiatif pemerintah daerah dan izin dari pihak Kesultanan, tradisi ini mulai dihidupkan kembali pada tahun 1971. Hanya saja, penyelenggaraannya tidak satu tahun sekali melainkan menjadi dua tahunan dan dengan beberapa persyaratan. Sejak saat itulah pelaksanaan Erau menjadi ajang pelestarian budaya warisan Kesultanan Kutai dan berbagai etnis yang hidup di dalamnya.

Erau dilangsungkan bertepatan dengan hari jadi Kota Tenggarong, yaitu setiap tanggal 29 September. Tetapi, sejak tahun 2010, pelaksanaan festival ini dimajukan menjadi Bulan Juli karena menyesuaikan dengan musim liburan sehingga lebih banyak wisatawan yang datang. Festival ini dimeriahkan oleh beraneka kesenian, upacara adat dari Suku-suku Dayak, dan lomba olahraga ketangkasan tradisional.

Tahun 2013 menjadi penanda era baru dari pelestarian budaya warisan Kutai Kartanegara. Untuk pertama kalinya, Erau disandingkan dengan perhelatan budaya tradisional dari berbagai negara. Dalam perhelatan bernama Erau International Folklore and Art Festival (EIFAF), berbagai kesenian dan tradisi di lingkup Kesultanan Kutai bersanding dengan warisan budaya dunia dari berbagai bangsa di penjuru dunia. Ajang ini sekaligus memperkenalkan peninggalan kearifan lokal masyarakat Kutai kepada dunia. Para delegasi dari berbagai negara diundang untuk ikut terlibat dalam berbagai ritual adat yang berlangsung selama pelaksanaan Erau.

Sumber : www.indonesiakaya.com

Suku Laut

Pada suku Bajo atau Bajau dikenal dengan suku laut. Hal ini disebabkan oleh tradisi mereka yang hidup di atas perahu dan menangkap ikan di berbagai perairan di Indonesia ini. Pada saat Belanda belum datang ke Manggarai, tempat terebut dinamai sebagai Bong Bajo atau Pelabuhan Bajo. Sedangkan nama Labuan Bajo dipakai pada tahun 1926 setelah Belanda datang dan mengangkat Raja Todo sebagai Pemimpin di Manggarai.

Sumber : labuanbajotour.com

Dugderan

Tradisi Dugderan masyarakat Semarang ini sudah dilakukan sejak tahun 1881 yang sampai sekarang masih dilakukan. Bedanya Dugderan zaman sekarang sudah menjadi pesta rakyat yang rangkaian acaranya ada tari-tarian, karnaval, dan tabuh bedug. Di setiap Dugderan pasti Warak Ngendong yang jadi simbol acara ini diarak dan ikut dalam karnaval. Biasanya karnaval akan dimulai dari Balai Kota dan berakhir di Masji Kauman.

Sumber : www.shopback.co.id

Nyongkolan, Salah Satu Wisata Budaya Unik Yang ada di Lombok

Suku Sasak adalah suku asli pulau Lombok yang telah berada di pulau ini sejak dahulu kala, Suku ini banyak melahirkan tradisi – tradisi yang unik dan menarik untuk di ketahui seperti, tradisi nikah lari, nyongkolan, pembuatan rumah adat yang unik dan lain – lain.

Salah satu yang kita bahas kali ini adalah tradisi NYONGKOLAN, Tradisi ini adalah salah satu kegiatan untuk merayakan pernikahan masyarakat suku sasak seperti arak – arakan untuk mengantar pengantin ke rumah pengantin wanita di iringi bersama keluarga dan kerabat menggunakan pakaian adat khas suku Sasak dan lantunan irama Gendang Beleq.

Tujuan dari perayaan tradisi nyongkolan ini pada dasarnya adalah untuk memperkenalkan sekaligus memberitahu kepada kedua belah pihak yaitu pengantin pria dan wanita, bahwa yang bersangkutan telah resmi menjadi pasangan suami – istri. Suasana Nyongkolan di pulau Lombok ini terbilang sangat ramai, animo masyarakat Lombok untuk ikut merayakan suasana nyongkolan ini sangat luar biasa, mulai dari anak – anak, remaja, hingga orang tua, mereka menyatu padu dan membuat barisan rapi untuk mengiringi pengantin tersebut, sekaligus memperlihatkan kekompakan masyarakat suku sasak dalam hal tradisi.

Sumber : www.gadizalombok.com