Budayawan Krayan untuk Budaya Dayak

Sumber Foto : www.detik.com

Suku Dayak Lundayah merupakan suku asli yang menghuni wilayah Krayan, Kalimantan Utara. Mereka di sana masih menggunakan adat dalam mengatur masyarakat.

Tak dimungkiri, perkembangan zaman dan teknologi juga berdampak kepada kawasan di Dataran Tinggi Borneo ini. Mau tidak mau mereka harus berjuang dan bertahan memperkenalkan adat dan budaya mereka ke generasi muda supaya tidak hilang.

Salah satunya adalah dengan membangun Rumah Budaya Krayan. Sebuah rumah tradisional ala Dayak Lundayah yang berfungsi sebagai tempat memperkenalkan budaya dan adat Dayak kepada generasi muda. Termasuk di dalamnya kepada wisatawan.

“Rumah ini dibangun tahun 2010 dan diresmikan 2011 lalu. Adapun fungsi rumah ini adalah sebagai pusat untuk generasi muda melestarikan tradisi dan budaya khususnya Dayak Lundayah dan langsung dikelola oleh forum adat” ungkap Eliyas Yesaya, Ketua Komisi Seni Budaya, Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi Borneo (FORMADAT) kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Perkembangan dan pembangunan Rumah Budaya Krayan ini tidak lepas dari peran WWF Indonesia. Juga untuk memperknal Dayak Lundayah, mereka juga diikutkan dalam beberapa acara lokal dan internasional.

Sumber : www.travel.detik.com

Festival Robo-Robo Kembali Digelar di Sungai Kakap

Festival budaya Robo-Robo kembali digelar di Kecamatan Sungai Kakap, Kubu Raya, Rabu (23/10/2019).

Festival ini digelar guna melestarikan budaya setempat yang dipercaya sebagai tolak bala agar terhindar dari bencana.

Acara di mulai dengan pembacaan syair tentang robo’-robo’. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan tarian multi etnis Kubu Raya.

Perhelatan festival ini, dibuka secara langsung oleh Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan serta dihadiri dari berbagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Organisasi Perangkat Daerah (OPD)di Kubu Raya.

Sumber : www.pontianak.tribunnews.com

Indonesia punya Desa Pemajuan Kebudayaan

Pameran imajinasi desa pemajuan kebudayaan: sinkronisasi Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) dengan perencanaan desa. Manuskrip, tradisi lisan, adat istiadat, ritus, pengetahuan dan teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, olah raga tradisional dan cagar budaya adalah aset kekayaan budaya yang masih berakar di desa-desa hingga hari ini. Bagi warga, mempertahankan warisan leluhur tersebut adalah upaya untuk menghadirkan kembali suatu peristiwa yang pernah terjadi dahulu, dan menemukan keterkaitannya dengan kejadian sekarang.

Meski kini kian tergusur, namun pengakuan terhadap keunggulan dari pengetahuan maupun teknologi tradisional diakui oleh ilmu pengetahuan modern. Belum lagi berbagai seni pertunjukan yang di dalam setiap bunyi dan gerak mengekspresikan filosofi atas kehidupan.
Memberikan makna pada seluruh kekayaan yang selama ini berperan sebagai perantara antara manusia dan daya-daya kekuatan alam, bagi 8 desa: Desa Alue le Mirah, Aceh Utara; Desa Bumiayu, Pali; Desa Salawu, Tasikmalaya; Desa Penggarit, Pemalang; Desa Panggungharjo, Bantul; Desa Tapan, Tulungagung; Desa Kutuh, Bali; dan Desa Poto, Sumbawa; dan,tidaklah mudah.

Selain perubahan lingkungan yang masif, pola kehidupan masyarakat juga turut berubah sehingga peralatan yang sebelumnya menjadi ”jalan masuk” warga untuk mengenal sifat alami dari bahan baku yang mereka gunakan sehari-hari untuk memasak, makan, bertani, berpakaian, bertempat tinggal dan lainnya, tergerus digantikan oleh bahan-bahan yang terbuat dari industri besar.
Desa Perintis Pemajuan Kebudayaan merupakan kawasan pedesaan yang ingin mempertahankan kebudayaannya dan sedang berusaha memberikan makna baru atas keberlangsungan hubungan-hubungan warga dengan alam hari ini. Memanfaatkan ranah kewenangan yang diamanatkan oleh Undang Undang no 6 tahun 2014, desa-desa ini merintis Rencana Pembangunan Desa yang berhulu Kebudayaan. Kedelapan desa ini dalam menerjemahkan gagasan Undang Undang Kebudayaan no 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, mereka mencari celah agar pembangunan setidaknya tidak mengganggu keseimbangan dari ekosistem, dan memikirkan cara dan upaya untuk membina ekosistem yang lebih beragam.
Melalui Desa Perintis Pemajuan Kebudayaan, kita akan melihat bagaimana Desa Kutuh, Kabupaten Badung memikirkan budidaya pohon kelapa, karena janur adalah bagian yang tak terpisahkan dari upacara. Sama halnya dengan pengembangan rancang ekosistem kebudayaan di Desa Tapan, Kabupaten Tulung Agung. Begitu juga Desa Salawu, Kabupaten Tasikmalaya yang mengandalkan tanaman bambu sebagai cadangan potensial bahan baku utama untuk berbagai produk seni kriya, musik hingga rumah adat.
Pameran Percontohan Pemajuan Kebudayaan Desa ini adalah upaya untuk mendorong daerah lainnya melakukan upaya yang sama, terlebih khusus bagi 340 Kabupaten/Kota dan 34 Provinsi yang telah membuat Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD). Ini barulah langkah awal dari pencarian yang harus berlangsung terus menerus untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan kerangka acuan pembangunan dari berbagai proyeksi Pemajuan Kebudayaan dari ragam budaya yang tersebar dan masih hidup, bertahan dan terus berjuang di pedesaan-pedesaan di seluruh negeri.

Sumber : Aldin – Dirjen Budaya Kemendikbud

Kemendikbud Tetapkan 267 Warisan Budaya Takbenda

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menetapkan 267 Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Sertifikat WBTb diserahkan langsung oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo didampingi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy dalam malam Apresiasi Penetapan Warisan Budaya Takbenda 2019 sebagai rangkaian Pekan Kebudayaan Nasional.

Dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, maka komitmen pelestarian, pengembangan, pembinaan, dan pemanfaatan kebudayaan nasional, menurut Mendikbud, juga harus dimiliki oleh Pemerintah Daerah.

Pemberian status Budaya Takbenda menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia diberikan berdasarkan rekomendasi tim ahli yang meliputi 5 domain sesuai dengan Konvensi UNESCO tahun 2003 tentang Safeguarding of Intangible Cultural Heritage yang sudah diratifikasi oleh Indonesia pada tahun 2007 melalui Peraturan Presiden Nomor 78 tahun 2007 tentang Pengesahan Convention for the Safeguarding of Intangible Cultural Heritage.

Di antaranya, 1) tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda; 2) seni pertunjukan; 3) adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan; 4) pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta; dan 5) kemahiran kerajinan tradisional.

Sebelumnya, tim sekretariat menerima usulan WBTb dari Pemerintah Daerah sebanyak 698 budaya takbenda. Kemudian, pada tanggal 13-16 Agustus 2019 pada Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang turut dihadiri oleh Dinas bidang kebudayaan dari 31 Provinsi menyepakati 267 karya budaya ditetapkan sebagai WBTb Tahun 2019.

Sumber : www.suara.com

Bamus Betawi Mengadakan Pengajian Untuk Pererat Silaturahmi Antar Warga Betawi

Keluarga Besar Badan Musyawarah Masyarakat (Bamus) Betawi, menggelar kegiatan pengajian yang digelar Aula Yayasan Al Huda, Cengkareng, Jakarta Barat, Jumat (4/10/2019).
Kegiatan pengajian ini mengambil tema, “Meningkatkan Silaturahim dan Ketaqwaan Kepada Allah SWT”.

Acara ini dihadiri oleh Ketua Umum Bamus Betawi, H Abraham Lunggana atau yang dikenal dengan sebutan H Lulung, dan didampingi para pengurusnya seperti Sekjen, H Syarief Hidayatullah, KH Yus Fadhilah, H.Hermansyah Muhasyim, dan para pelajar SMA Yayasan Al Huda di Cengkareng, Jakarta Barat.
“Acara ini merupakan pengajian rutin yang digelar pengurus Bamus Betawi di wilayahnya masing masing, yang sekarang ini kita adakan di sekolahan ”, ujar Taufik Hidayat selaku Ketua Panitia Pelaksana.
Pengajian ini rutin digelar ,sedangkan yang diselenggarakan hari ini merupakan kegiatan yang ke 9 kalinya dari agenda yg di recanakan sebanyak 14 kali, kegiatan ini merupakan agenda tetap yang diadakan Bamus Betawi , sekaligus menjadi ajang silaturahmi antar warga’, tambah Taufik.
Dalam sambutannya Ketua Bamus Betawi Haji Lulung mengajak para pelajar untuk membuka mata untuk tidak mengikuti berbagai aksi yang bersifat anarkis, seperti terjadi dalam aksi unjukrasa kemarin yang berakhir ricuh.
“Pelajar yang baik dan berakhlak mulia tidak akan melakukan aksi yang merugikan orang lain, sebagai pelajar yang punya akhlak yang baik, tentunya tidak mungkin akan melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain” ujar Haji Lulung , Ketua Umum Bamus Betawi kepada para pelajar yang hadir dalam pengajian ini.

Program pengajian ini merupakan kegiatan dwi mingguan dari pengurus Bamus Betawi yang di adakan disetiap daerah kecamatan yang puncak acara nya pada tgl 28 November 2019.

Sumber : BAMUS – Kim

DPRK Diminta Lahirkan Qanun Cagar Budaya

Sumber Foto : www.aceh.tribunnews.com

Pegiat sejarah yang juga Kolektor Naskah Kuno, Tarmizi A Hamid mendorong DPRK Banda Aceh untuk melahirkan Qanun Cagar Budaya. Qanun itu penting mengingat Banda Aceh banyak menyimpan situs cagar budaya, seperti batu nisan, situs bangunan, situs benda dan tidak benda.

Kegiatan yang dilaksanakan Sekretariat DPRK Banda Aceh dan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh diikuti 30 anggota DPRK Banda Acehterpilih pada Pemilu 2019.

Pentingnya qanun itu, menurut Tarmizi, agar semua khazanah budaya bisa teridentifikasi dengan baik.

Menurut Cek Midi–panggilan akrabTarmizi, Banda Aceh dikenal dengan daerah yang banyak peninggalan pusaka budaya baik dalam bentuk benda maupun warisan budaya tak benda. Kekayaan ini sebagai titipan leluhur Aceh masa lalu yang belum sempat tergali semuanya.

Atas dasar itu, Tarmizi mendorong DPRK melahirkan qanun cagar budaya. Sebab, apabila membengkalaikan dan menyia-nyiakan bainah (harta warisan), kehidupan akan carut marut karena identitas kedaerahannya kabur.

Sumber : www.aceh.tribunnews.com

Mengenal Jakarta, Mengenal Fatahillah

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta mengadakan Pergelaran Nilai Tradisi Sejarah Fatahillah. Acara yang diselenggarakan pada Minggu, 8 September 2019 ini berlokasi di Kawasan Kota Tua “Plaza Fatahillah”, Jakarta Barat.

Acara ini diadakan dalam rangka pelestarian seni budaya daerah serta pengembangan promosi dan informasi tentang nilai-nilai budaya bangsa. Khususnya adat-istiadat, makanan, serta tata cara upacara adat masyarakat Betawi kepada masyarakat luas.

“Pergelaran Nilai Tradisi Sejarah Fatahillah diadakan dalam rangka pelestarian seni budaya daerah serta pengembangan promosi dan informasi tentang nilai-nilai budaya bangsa. Khususnya adat-istiadat, makanan, serta tata cara upacara adat masyarakat Betawi kepada masyarakat luas,” kata Edy Junaedi, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.

Puncak acara Pergelaran Nilai Tradisi Sejarah Fatahillah ini akan diisi dengan pergelaran drama kolosal tradisional tentang sejarah asal mula kedatangan Portugis ke Batavia. Berkisah seputar perjalanan pangeran Fatahillah melawan penjajah di Batavia dan perannya dalam perebutan kemerdekaan Republik Indonesia.

Drama kolosal yang dimainkan oleh lebih dari seratus lima puluh orang ini menghadirkan beberapa aktor dan tokoh spesial. Diantaranya,  Fatahillah diperankan oleh aktor Umar Lubis , Sunan Gunung Jati oleh aktor Oding Siregar, dan S. Trenggono diperankan oleh aktor Alvian. Selain itu akan ada keterlibatan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Edy Junaedi sebagai bintang tamu.

Sepanjang pergelaran di bawah arahan Teguh Harie Santoso ini dikemas dengan campuran Budaya Betawi dan upacara-upacara ritual lainnya sehingga memiliki nilai historis dalam kehidupan sosial masyarakat Betawi. 

“Kegiatan ini dikemas secara unik dan atraktif, serta mengandung unsur edukatif sehingga diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Supaya dapat mengenal lebih jauh tentang sejarah Jakarta dan Fatahillah itu sendiri,” tutur Edy

Selain dibuka untuk umum, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta secara khusus mengundang tamu-tamu dari kedutaan dan komunitas internasional lainnya untuk memperkenalkan Jakarta dengan segala kekayaan budaya dan historinya.

“Perjuangan Fatahillah merupakan bagian dari sejarah bangsa dalam menggapai kemerdekaan. Pergelaran drama kolosal ini dibuat sebagai bahan pustaka literasi kesejarahan lewat pentas seni,” kata Edy

Pada pelaksanaannya, kegiatan ini melibatkan potensi seniman dan tokoh masyarakat Betawi. Selain drama kolosal, acara yang dimulai sejak pukul 9 pagi ini diisi dengan beragam kegiatan mulai dari icip-icip kuliner Betawi, senam massal, pertunjukan musik gambus, lenong Betawi, Betawi street fashion, silat massal, dan penampilan Keroncong Senja di Kota Tua.

Sumber : Azis

Pelestari Budaya Betawi Terima Penghargaan

Sejumlah budayawan Betawi merayakan Ultah ke- 37 tahun, Badan Musyawarah (Bamus) Betawi di Hotel Sunlake, Sunter, Jakarta Utara.

Acara yang dihadiri sejumlah tokoh masyarakat Betawi ini mengusung tema ‘Menjaga, Melestarikan dan Mengembangkan Budaya Betawi’. Peringatan HUT Bamus ini sekaligus memperingati HUT DKI Jakarta ke 492.

Selain perayaan peringatan hari berdirinya Bamus Betawi, acara ini sekaligus memberikan penghargaan dan medali penghormatan bagi tujuh pelestari budaya Betawi. Mereka adalah orang-orang yang berjasa dalam melestarikan budaya Betawi hingga dikenal sampai saat ini.

Para pelestari budaya yang menerima penghargaan tersebut diantaranya Syamsudin Combo (Pemilik Rumah Makan Sayur Gabus), Supandi (Pemilik Sanggar Betawi Utan Panjang), Thoyyibah (Pemilik Rumah Busana Betawi), Iwan Aswad Naseh (Pemilik Sanggar Betawi Kebon Sirih), Endang Suratman (Pemilik Bir Pletok Setu Babakan), Abdul Wahid HD (Pemilik Dodol Bunga Khas Betawi) dan Ermawati (pemilik Seraci Batik Betawi).
Acara ini juga dihadiri Gubenur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Sumber : www.poskotanews.com

Mendikbud: Pemajuan Kebudayaan Akan Dipelopori Kaum Muda

Upaya pemajuan kebudayaan merupakan gotong royong segenap elemen bangsa. Kaum muda Indonesia memiliki peranan penting dalam upaya pelindungan, pengembangan, pembinaan, serta pemanfaatan kebudayaan nasional, khususnya dalam menyambut era industri 4.0.

“Maju mundurnya kebudayaan tergantung Saudara semua. Dan Kemah Budaya ini menjadi titik tolak untuk memajukan kebudayaan kita,” disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, saat membuka Kemah Budaya Kaum Muda (KBKM), diselenggarakan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, di Candi Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Minggu (21/7/2019).

Mendikbud berharap agar kaum muda yang berkumpul dalam KBKM dapat saling bertukar pengalaman baik, berkarya, dan membangun jaringan nasional. Untuk kemudian, kaum muda dapat mempelopori pembangunan nasional berbasis kebudayaan di wilayahnya masing-masing. 

Kompetisi yang terjadi dalam KBKM, pesan Mendikbud, hendaknya dapat difokuskan kepada upaya menumbuhkan semangat berkolaborasi.

Kemah Budaya Kaum Muda merupakan platform kerja yang menghimpun kaum muda berusia 18 — 28 tahun untuk turut serta menjawab berbagai tantangan pemajuan kebudayaan dengan memanfaatkan sains (science), teknologi (technology), rekayasa (engineering), seni (art), dan matematika (STEAM). Diselenggarakan di kawasan Candi Prambanan pada tanggal 21 sampai dengan 25 Juli 2019, KBKM pertama ini mengambil tajuk “Kaum Muda Berkarya, Indonesia Bahagia”.

Sumber : KEMENDIKBUD RI – Aldin

 

Ajakan untuk Berkebaya Tiap Hari

Sumber Foto:www.cnnindonesia.com

Kebaya identik dengan pakaian untuk acara-acara tertentu seperti menghadiri pernikahan, wisuda, atau peringatan hari kebangsaan. Meski begitu, bukan berarti kebaya tak bisa digunakan untuk kegiatan sehari-hari.

Untuk menggaungkan kebaya sebagai busana harian, Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia (KPB Indonesia) dan Universitas Pelita Harapan mencanangkan gerakan Indonesia Berkebaya. Gerakan ini mengajak masyarakat Indonesia memakai kebaya untuk beraktivitas sehari-hari, mulai dari ke pasar, bekerja, hingga nongkrong bersama kawan-kawan.

Kebaya dipilih karena merupakan pakaian nasional yang dikenal di seluruh Indonesia. Komunitas Perempuan Berkebaya ingin menjadikan kebaya melekat sebagai identitas bangsa Indonesia, layaknya pakaian sari di India.

Indonesia Berkebaya dimulai dengan gerakan Selasa Berkebaya. Gerakan ini mengajak setiap orang untuk berkebaya pada hari Selasa, apapun kegiatannya.
Desainer Musa Widiatmodjo menjelaskan memakai kebaya setiap hari dan berinovasi dengan kebaya tidak menyalahi aturan atau pakem. Menurutnya, pakem berkebaya mesti diikuti pada momen yang tepat.

Selain gerakan berkebaya, KPB Indonesia berencana untuk mengajukan kebaya sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO seperti Batik. Mereka juga meminta pemerintah untuk menetapkan salah satu tanggal sebagai Hari Kebaya Nasional.

Sumber : www.cnnindonesia.com