EASTER EGG HUNTS AND THE EASTER BUNNY

Di inggris pada hari paskah, mereka merayakan tradisi perburuan telur paskah. Di mana mereka menyembunyikan telur telur itu di sekitar kebun atau di rumah agar anak anak bisa mencarinya dan menemukan nya. Anak anak di tuntun agar percaya bahwa telur telur ini di sembunyikan oleh kelinci paskah di kebun. Anak anak biasanya mengumpulkan telur telur yang mereka temui ke dalam sebuah keranjang. Telur telur ini di rebus lalu di hias dengan sedemikian rupa dan di warnai. Dan telur buatan yang penuh dengan cokelat dan permen di dalamnya.

Tradisi ini pertama muncul dari abad 17. Pada saat sekitar hari paskah, tepatnya di musim semi, saat itu ada kelinci kelinci berlompat lompat dan berkelahi di sebuah kebun. Dan di waktu bersamaan di temukannya telur telur oleh petani. Dan mereka orang desa mempercayai bahwa telur telur itu di letakan oleh kelinci kelinci tadi. Dari sinilah kemungkinan kelinci paskah itu berasal. Bersamaan dengan itu, telur mempunyai makna kristen, yang artinya penciptaan kehidupan baru yaitu kebangkitan yesus.

Sumber : www.indobritpedia.com

Ojung, ritual meminta hujan

Takaiters pernah mendengar Ojung? Ya, itu adalah kesenian adat khas Tengger. Kalau Takaiters melihat langsung dari dekat, Ojung lebih mirip dengan duel satu lawan satu. Masing-masing peserta membawa rotan untuk dicambukkan pada lawannya. Siapa tercepat dan mengenai sasaran beberapa kali, itulah pemenangnya.

Tapi, Takaiters, Ojung sebenarnya bukan hanya kesenian semata. Itu adalah ritual suku Tengger untuk meminta hujan kepada Sang Maha Kuasa. Biasanya dilakukan saat musim kemarau panjang.

Tradisi Ojung dibuka dengan pagelaran dua tarian. Yaitu tari Topeng Kuna dan tarian Rontek Singo Wulung. Tarian itu mengisahkan seorang tokoh desa yang dianggap pahlawan pada masa lalu, yakni Ju Seng, karena kegigihannya dalam mengusir penjajah. Ju Seng pada masa itu adalah seorang demang yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh pengikut setianya bernama Jasiman dan murid-muridnya.

Konon pada masa itu, untuk membiayai perjuangannya melawan penjajah, Juk Seng kerap mengamen dengan menggelar pertunjukan dua tarian tersebut. Setelah pagelaran tarian selesai dilanjutkan dengan  pertandingan dua lelaki yang berusia rata-rata antara 17 hingga 50 tahun. Mereka saling memukul dengan menggunakan rotan. Budaya ritual Ojung ini menggambarkan kekuatan dan kekebalan fisik pesertanya.

Sumber : takaitu.com

Dansa de la Mort

Pada Kamis Putih, di kota abad pertengahan Verges, Spanyol, “la dansa de la mort” atau “tarian kematian” tradisional dilakukan. Tarian kematian ini dimulai di awal abad kelimabelasan. Semua orang berpakaian dalam kostum kerangka, dan berpawai di jalan-jalan. Dengan membawa salib

dalam pawainya dan menabuh drum serta cymbal. Prosesi berakhir dengan kerangka menakutkan yang membawa kotak abu. Tarian mengerikan dimulai pada tengah malam dan berlanjut selama tiga jam hingga pagi hari.

Sumber : www.cheria-travel.com

Ritual Manten Sapi, Syiar Memeriahkan Idul Adha

Banyak tradisi yang dijalankan umat muslim menjelang Hari Raya Idul Adha. Di Desa Watestani Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan misalnya, warga melaksanakan ritual Manten Sapi sehari menjelang salat Ied.

Ritual Manten Sapi dilakukan sore hari menjelang malam takbiran. Setiap warga yang akan berkurban mengumpulkan hewan kurban ke sebuah lapangan.

Prosesi Manten Sapi dimulai dengan memandikan semua hewan milik warga yang akan dikurbankan. Setelah dimandikan, sapi-sapi dipasangi rangkaian kembang di kepalanya. Rangkaian kembang tersebut sama seperti yang dipakai dalam acara resepsi pernikahan.

Setelah dipasangi kembang, hewan kurban kemudian dipakaikan kain berwarna putih. Kain tersebut dipasang melingkar di tubuh hewan kurban.

Sapi-sapi yang berjumlah empat ekor itu kemudian diarak dari lapangan menuju masjid. Di Masjid, sapi-sapi tersebut diserahkan para pemiliknya kepada ketua panitia kurban yang juga ketua takmir masjid.

Arak-arakan ini juga melibatkan para perempuan yang membawa berbagai alat rumah tangga dan bumbu masak.

Sumber : news.detik.com

Nepalese – Berbagi Istri

Ada sebuah kasus di kawasan Himalaya, di mana hanya ada sedikit lahan yang tersedia untuk pertanian. Keluarga dengan lebih dari satu anak dihadapkan dengan pembagian tanah mereka untuk setiap anak yang akan berkeluarga.

Lalu bagaimana solusinya? Akhirnya mereka mencari satu saja istri untuk anak-anak mereka agar hidup bersama tanpa membagi tanah keluarga. Sulit untuk dibayangkan.

Sumber : www.travellink-indonesia.com

Mansorandak (Tradisi Injak Piring)

Mansorandak adalah sebuah tradisi turun temurun suku Biak di Teluk Doreri, Manokwari, Papua Barat untuk menyambut anggota keluarga yang baru kembali dari tanah rantau dalam kurun waktu yang cukup lama. Lewat tradisi ini, masyarakat Doreri mengungkapkan rasa syukur dan gembira mereka atas kepulangan anggota keluarga mereka dan untuk membersihkannya dari roh-roh jahat yang mungkin didapatnya di tanah rantau.

Tradisi mansorandak ini dimulai dengan prosesi mandi kembang berbagai rupa di atas piring adat. Selanjutnya, sang perantau akan masuk ke sebuah ruangan khusus di dalam rumah bersama dengan keluarga besarnya dan harus mengitari sembilan piring adat sebanyak sembilan kali putaran. Angka sembilan melambangkan sembilan marga suku Doreri di Manokwari. Prosesi ini diakhiri dengan penginjakan replika buaya sebagai lambang tantangan, penderitaan dan cobaan hidup yang akan menyertai jalan hidup sang perantau. Prosesi mansorandak ini berakhir dengan kegiatan makan bersama.

Uniknya, pada prosesi ini seluruh makanan utama seperti daging, ikan, hingga sirih dan pinang akan digantung di bagian atas rumah dan baru boleh disantap setelah mendapat aba-aba dari para sesepuh adat Doreri. Seiring berjalannya waktu, tradisi Mansorandak di Manokwari sekarang hanya dilakukan dengan menyiramkan air pada sang perantau sebelum masuk kerumah tanpa pengitaran piring adat dan makan bersama. Pada acara penting seperti penyambutan tamu negara yang datang ke Manokwari, tradisi injak piring ini tetap dilakukan secara simbolis dengan meminta para tamu untuk menginjak piring adat sebagai tanda syukur masyarakat Manokwari atas kunjungan para tamu.

Sumber : www.pegipegi.com

Mengucapkan “wawawa”

Ternyata suku Dani dari Papua menjadi salah satu yang memiliki tradisi menyapa yang aneh.

Mereka akan berjabat tangan layaknya salaman sambil mengucapkan “wa wa wa”. Sepertinya kata itu hanya simbolik saja yang diartikan selamat datang dan terima kasih.

Uniknya mereka akan mengajarkan orang asing untuk belajar menyapa ala mereka. Bagus ya? Selain untuk sopan santun, untuk ilmu juga.

Sumber : www.ragamseni.com

Sejarah Candi Arjuna

Candi Arjuna sendiri merupakan salah satu candi peninggalan agama hindu yang beraliran Syiwa. Candi ini juga diperkirakan merupakan candi Hindu pertama di Jawa, yang dibanguna pada sekitar Abad ke-7 pada masa pemerintahan kerajaan Mataram Kuno. Selain candi Arjuna banyak sekali peninggalan agama Hindu di Indonesia seperti Candi Prambanan, Sejarah Candi PenataranSejarah Candi Cetho, Candi Jago, Candi Cangkuang, Candi Kidal dan masih banyak lagi candi-candi agama Hindu.

Candi Arjuna berada di paling ujung dari kompleks candi Arjuna, tepatnya di sebelah utara dan di depanya terdapat candi Semar yang diperkirakan sebagai candi pelengkap atau candi perwara dari Candi Arjuna. Hingga saat ini Candi Arjuna juga masih digunakan sebagai tempat peribadatan bagi masyarakat Dieng. Bahkan di kompleks candi dieng juga diadakan upacara potong rambut anak-anak gimbal yang dipercaya sebagai anak-anak spesial di dataran tinggi dieng. Dimana ruwatan dari upacara ini berada di depan candi Arjuna.

Candi Arjuna diyakini didirikan sekitar Abad ke-7 Masehi hingga abad ke-9 Masehi. Dimana pembangunan candi Arjuna dilaksanakan pada pemerintahan dinasti Sanjaya dari kerajaan Mataram Kuno, atau bahkan dari kerajaan Kalingga. Dan juga, Candi Arjuna diperkirakan sebagai candi tertua di Jawa. Hal ini ditunjukkan dengan penemuan salah satu prasati di sekitar Candi Arjuna. Dimana dalam prasasti tersebut tertulis tahun 731 Caka atau sekitar tahun 808 Masehi dengan menggunakan aksara Jawa Kuno. Prasasti ini sekarang di simpan di Jakarta, yaitu di Galeri Museum Nasional Jakarta.

Sumber : sejarahlengkap.com

Ini Rangkaian Tradisi Unik di Festival Budaya Kota Tua Buton

Kabupaten Buton akan kembali panas bergelora. Bukan karena produksi aspal hitam terbakar yang meletup letup, tapi karena ada Festival Budaya Tua Buton yang akan membuat puluhan ribu peserta dan wisatawan bergelora menyatu bersama dalam Parade seni dan budaya.

Festival Budaya Tua Buton akan dilaksanakan pada 19-25 Agustus 2017 dan akan dipusatkan di Takawa Desa Dongkala, Pasarwajo. Takawa sendiri merupakan pusat pemerintahan kabupaten Buton.

“Ini even tahunan dan dengan festival ini kita harapkan terjadi peningkatan jumlah kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara yang datang ke Buton Sulawesi Tenggara, apalagi Buton akan jadi salah satu tempat singgah kapal-kapal dari berbagai negara yang berlayar dalam rangkaian acara Sail Tomini 2017” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kabupaten Buton La Ode Zainudin Napa.

Ada beberapa event unik dan menarik yang disajikan dalam festival ini yang juga ditujukan untuk menyambut Sail Tomini 2017 “Festival ini ada lima rangkaian. Pertama Festival Dole dole, festival posuo (pingitan), Ritual Tandaki, Festival Pekande Kandea dan ditutup dengan Tarian kolosal yang melibatkan 10ribu orang,” ujarnya.

Festival Dole Dole merupakan tradisi tua berupa imunisasi alamiah masyarakat Buton yang diwariskan secara turun temurun. Prosesi ini dilaksanakan untuk anak yang berumur di bawah lima tahun. Biasanya, dilengkapi pemberian nama bagi anak. Tahun ini, sebanyak 200 anak balita akan disertakan dalam Festival Dole Dole.

Kegiatan yang tak kalah menariknya adalah Festival Posuo (Pingitan). Festival yang satu ini merupakan tradisi pingitan bagi gadis remaja sebelum memasuki usia dewasa. Pada masa lampau, kegiatan pingitan dilaksanakan selama 40 hari, setelah itu menjadi tujuh hari dan saat ini dapat dilaksanakan hanya empat hari lamanya. Festival Posuo diikuti 200 gadis remaja.

Sumber : halallifestyle.id

FIKA, Tradisi asal Swedia yang Mendunia

Fika, suatu kebiasaan dari negara Swedia dimana orang-orang berkumpul untuk makan, minum, dan mengobrol adalah suatu tradisi kerja yang diperbolehkan di negara ini.

Di Swedia, memakan sepotong kue dan minum kopi adalah suatu kewajiban. Ada banyak perusahaan di Malmo hingga Stockholm yang mewajibkan para pegawainya untuk melakukan tradisi Fika yang dilakukan pada siang hari.

Fika, berasal dari bahasa Swedia yang berarti minum kopi, mengunyah makanan manis dan mengobrol, adalah beberapa bagian dari pekerjaan dalam satu hari di Swedia sama seperti mengirim email dan memperbaikki printer.

“Hal semacam ini sudah tertanam dalam budaya kita.” Kata Matts Johansson, pendiri Da Matteo, sebuah cafe kopi yang berada di Gothenburg. “Banyak masyarakat Swedia memiliki tradisi Fika lebih dari satu kali dalam sehari, baik pada akhir pekan atau selama satu minggu. Hal ini tentang bagaimana kita menghabiskan waktu dengan orang-orang, memakan kue buatan rumah yang lezat dan meminum kopi yang luar biasa.”

Sumber : http://nationalgeographic.grid.id