Rencana Serang Situs Budaya Iran, Dibatalkan Trump

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan rencana mengebom pusat budaya Iran. Trump mengatakan akan mematuhi hukum internasional.

Dikutip dari detik.com, Rabu (8/1/2020), Trump menuturkan akan mengikuti hukum internasional setelah rencananya menyerang situs-situs warisan budaya Iran dikecam. Namun dia mengeluh adanya pembatasan yang tidak adil.

Diberitakan sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menegaskan kembali ancaman serangan terhadap situs-situs budaya Iran jika ada serangan terhadap AS. Penegasan disampaikan Trump setelah dia diperingatkan bahwa serangan ke pusat budaya berpotensi mengarah pada kejahatan perang.

Sumber : www.news.detik.com

Pemerintah Belanda Mengembalikan 1.500 Benda Budaya ke Indonesia

Sumber Foto : www.jateng.sindonews.com

Pemerintah Belanda mengembalikan sebanyak 1.500 benda budaya Indonesia ke Tanah Air. Benda-benda budaya ini selanjutnya disimpan di Museum Nasional dan akan diperkenalkan ke publik pada Juni nanti.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid mengatakan, ke-1.500 benda koleksi ini sebelumnya menjadi koleksi Museum Nusantara yang berada di Kota Delft, Belanda. Koleksi budaya ini kembali ke Indonesia karena terjadi krisis di museum itu, sehingga pihak museum menghadapi tiga opsi.

“Apakah koleksinya dijual, diberikan ke museum lain atau dikembalikan ke pemerintah Indonesia. Kita adalah salah satu opsi itu. Prosesnya dimulai sejak 2015. Kita pun menyambut baik tawaran itu. Kita secara aktif memilih koleksi, untuk memilih barang yang tepat,” tandas Hilmar saat konferensi pers di Museum Nasional, Jakarta.

Sumber : www.jateng.sindonews.com

UNS Resmikan Pusat Penelitian Budaya Jawa-Sichuan di Tiongkok

Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS), Jamal Wiwoho dan Bian Huimin, Sekretaris Partai di Universitas Xihua, Tiongkok meresmikan Pusat Penelitian Budaya Jawa-Sichuan di Universitas Xihua. Peresmian ini menyusul didirikannya Institut Konfusius di UNS sebagai pusat pengembangan bahasa Mandarin di Indonesia beberapa waktu lalu.
 
Dari Xihua University juga hadir Wakil Rektor bidang Kerja sama Internasional, Fei Ling, Dekan Fakultas Literatur dan Jurnalistik Xie Yingguang, Direktur Tiongkok Pusat Bahasa Mandarin di UNS, Lu Yu, Dekan Fakultas Pendidikan Internasional, Zhao Qi, dan Kepala Pusat Kerja sama Internasional, Luo Bo.

Sedangkan Jamal didampingi Wakil Rektor bidang Perencanaan dan Kerja sama, Sajidan, Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Warto, Kepala Kantor Internasional, Irwan Trinugroho,Direktur Indonesia Pusat Bahasa Mandarin di UNS, Stephanie Phanata, dan Kepala prodi D3 bahasa Mandarin, Kristina Indah Setyo Rahayu.

Dengan diresmikannya Pusat Penelitian Budaya Jawa-Sichuan tersebut, maka antara UNS dengan Xihua University semakin meningkatkan kerja samanya. Tidak hanya pada pertukaran para dosen, penelitian bersama, pengiriman mahasiswa, dan kerja sama publikasi internasional yang selama ini sudah berjalan.

Sumber : www.medcom.id

Budayawan Krayan untuk Budaya Dayak

Sumber Foto : www.detik.com

Suku Dayak Lundayah merupakan suku asli yang menghuni wilayah Krayan, Kalimantan Utara. Mereka di sana masih menggunakan adat dalam mengatur masyarakat.

Tak dimungkiri, perkembangan zaman dan teknologi juga berdampak kepada kawasan di Dataran Tinggi Borneo ini. Mau tidak mau mereka harus berjuang dan bertahan memperkenalkan adat dan budaya mereka ke generasi muda supaya tidak hilang.

Salah satunya adalah dengan membangun Rumah Budaya Krayan. Sebuah rumah tradisional ala Dayak Lundayah yang berfungsi sebagai tempat memperkenalkan budaya dan adat Dayak kepada generasi muda. Termasuk di dalamnya kepada wisatawan.

“Rumah ini dibangun tahun 2010 dan diresmikan 2011 lalu. Adapun fungsi rumah ini adalah sebagai pusat untuk generasi muda melestarikan tradisi dan budaya khususnya Dayak Lundayah dan langsung dikelola oleh forum adat” ungkap Eliyas Yesaya, Ketua Komisi Seni Budaya, Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi Borneo (FORMADAT) kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Perkembangan dan pembangunan Rumah Budaya Krayan ini tidak lepas dari peran WWF Indonesia. Juga untuk memperknal Dayak Lundayah, mereka juga diikutkan dalam beberapa acara lokal dan internasional.

Sumber : www.travel.detik.com

Festival Robo-Robo Kembali Digelar di Sungai Kakap

Festival budaya Robo-Robo kembali digelar di Kecamatan Sungai Kakap, Kubu Raya, Rabu (23/10/2019).

Festival ini digelar guna melestarikan budaya setempat yang dipercaya sebagai tolak bala agar terhindar dari bencana.

Acara di mulai dengan pembacaan syair tentang robo’-robo’. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan tarian multi etnis Kubu Raya.

Perhelatan festival ini, dibuka secara langsung oleh Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan serta dihadiri dari berbagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Organisasi Perangkat Daerah (OPD)di Kubu Raya.

Sumber : www.pontianak.tribunnews.com

Indonesia punya Desa Pemajuan Kebudayaan

Pameran imajinasi desa pemajuan kebudayaan: sinkronisasi Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) dengan perencanaan desa. Manuskrip, tradisi lisan, adat istiadat, ritus, pengetahuan dan teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, olah raga tradisional dan cagar budaya adalah aset kekayaan budaya yang masih berakar di desa-desa hingga hari ini. Bagi warga, mempertahankan warisan leluhur tersebut adalah upaya untuk menghadirkan kembali suatu peristiwa yang pernah terjadi dahulu, dan menemukan keterkaitannya dengan kejadian sekarang.

Meski kini kian tergusur, namun pengakuan terhadap keunggulan dari pengetahuan maupun teknologi tradisional diakui oleh ilmu pengetahuan modern. Belum lagi berbagai seni pertunjukan yang di dalam setiap bunyi dan gerak mengekspresikan filosofi atas kehidupan.
Memberikan makna pada seluruh kekayaan yang selama ini berperan sebagai perantara antara manusia dan daya-daya kekuatan alam, bagi 8 desa: Desa Alue le Mirah, Aceh Utara; Desa Bumiayu, Pali; Desa Salawu, Tasikmalaya; Desa Penggarit, Pemalang; Desa Panggungharjo, Bantul; Desa Tapan, Tulungagung; Desa Kutuh, Bali; dan Desa Poto, Sumbawa; dan,tidaklah mudah.

Selain perubahan lingkungan yang masif, pola kehidupan masyarakat juga turut berubah sehingga peralatan yang sebelumnya menjadi ”jalan masuk” warga untuk mengenal sifat alami dari bahan baku yang mereka gunakan sehari-hari untuk memasak, makan, bertani, berpakaian, bertempat tinggal dan lainnya, tergerus digantikan oleh bahan-bahan yang terbuat dari industri besar.
Desa Perintis Pemajuan Kebudayaan merupakan kawasan pedesaan yang ingin mempertahankan kebudayaannya dan sedang berusaha memberikan makna baru atas keberlangsungan hubungan-hubungan warga dengan alam hari ini. Memanfaatkan ranah kewenangan yang diamanatkan oleh Undang Undang no 6 tahun 2014, desa-desa ini merintis Rencana Pembangunan Desa yang berhulu Kebudayaan. Kedelapan desa ini dalam menerjemahkan gagasan Undang Undang Kebudayaan no 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, mereka mencari celah agar pembangunan setidaknya tidak mengganggu keseimbangan dari ekosistem, dan memikirkan cara dan upaya untuk membina ekosistem yang lebih beragam.
Melalui Desa Perintis Pemajuan Kebudayaan, kita akan melihat bagaimana Desa Kutuh, Kabupaten Badung memikirkan budidaya pohon kelapa, karena janur adalah bagian yang tak terpisahkan dari upacara. Sama halnya dengan pengembangan rancang ekosistem kebudayaan di Desa Tapan, Kabupaten Tulung Agung. Begitu juga Desa Salawu, Kabupaten Tasikmalaya yang mengandalkan tanaman bambu sebagai cadangan potensial bahan baku utama untuk berbagai produk seni kriya, musik hingga rumah adat.
Pameran Percontohan Pemajuan Kebudayaan Desa ini adalah upaya untuk mendorong daerah lainnya melakukan upaya yang sama, terlebih khusus bagi 340 Kabupaten/Kota dan 34 Provinsi yang telah membuat Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD). Ini barulah langkah awal dari pencarian yang harus berlangsung terus menerus untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan kerangka acuan pembangunan dari berbagai proyeksi Pemajuan Kebudayaan dari ragam budaya yang tersebar dan masih hidup, bertahan dan terus berjuang di pedesaan-pedesaan di seluruh negeri.

Sumber : Aldin – Dirjen Budaya Kemendikbud

Kemendikbud Tetapkan 267 Warisan Budaya Takbenda

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menetapkan 267 Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Sertifikat WBTb diserahkan langsung oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo didampingi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy dalam malam Apresiasi Penetapan Warisan Budaya Takbenda 2019 sebagai rangkaian Pekan Kebudayaan Nasional.

Dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, maka komitmen pelestarian, pengembangan, pembinaan, dan pemanfaatan kebudayaan nasional, menurut Mendikbud, juga harus dimiliki oleh Pemerintah Daerah.

Pemberian status Budaya Takbenda menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia diberikan berdasarkan rekomendasi tim ahli yang meliputi 5 domain sesuai dengan Konvensi UNESCO tahun 2003 tentang Safeguarding of Intangible Cultural Heritage yang sudah diratifikasi oleh Indonesia pada tahun 2007 melalui Peraturan Presiden Nomor 78 tahun 2007 tentang Pengesahan Convention for the Safeguarding of Intangible Cultural Heritage.

Di antaranya, 1) tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda; 2) seni pertunjukan; 3) adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan; 4) pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta; dan 5) kemahiran kerajinan tradisional.

Sebelumnya, tim sekretariat menerima usulan WBTb dari Pemerintah Daerah sebanyak 698 budaya takbenda. Kemudian, pada tanggal 13-16 Agustus 2019 pada Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang turut dihadiri oleh Dinas bidang kebudayaan dari 31 Provinsi menyepakati 267 karya budaya ditetapkan sebagai WBTb Tahun 2019.

Sumber : www.suara.com

Bamus Betawi Mengadakan Pengajian Untuk Pererat Silaturahmi Antar Warga Betawi

Keluarga Besar Badan Musyawarah Masyarakat (Bamus) Betawi, menggelar kegiatan pengajian yang digelar Aula Yayasan Al Huda, Cengkareng, Jakarta Barat, Jumat (4/10/2019).
Kegiatan pengajian ini mengambil tema, “Meningkatkan Silaturahim dan Ketaqwaan Kepada Allah SWT”.

Acara ini dihadiri oleh Ketua Umum Bamus Betawi, H Abraham Lunggana atau yang dikenal dengan sebutan H Lulung, dan didampingi para pengurusnya seperti Sekjen, H Syarief Hidayatullah, KH Yus Fadhilah, H.Hermansyah Muhasyim, dan para pelajar SMA Yayasan Al Huda di Cengkareng, Jakarta Barat.
“Acara ini merupakan pengajian rutin yang digelar pengurus Bamus Betawi di wilayahnya masing masing, yang sekarang ini kita adakan di sekolahan ”, ujar Taufik Hidayat selaku Ketua Panitia Pelaksana.
Pengajian ini rutin digelar ,sedangkan yang diselenggarakan hari ini merupakan kegiatan yang ke 9 kalinya dari agenda yg di recanakan sebanyak 14 kali, kegiatan ini merupakan agenda tetap yang diadakan Bamus Betawi , sekaligus menjadi ajang silaturahmi antar warga’, tambah Taufik.
Dalam sambutannya Ketua Bamus Betawi Haji Lulung mengajak para pelajar untuk membuka mata untuk tidak mengikuti berbagai aksi yang bersifat anarkis, seperti terjadi dalam aksi unjukrasa kemarin yang berakhir ricuh.
“Pelajar yang baik dan berakhlak mulia tidak akan melakukan aksi yang merugikan orang lain, sebagai pelajar yang punya akhlak yang baik, tentunya tidak mungkin akan melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain” ujar Haji Lulung , Ketua Umum Bamus Betawi kepada para pelajar yang hadir dalam pengajian ini.

Program pengajian ini merupakan kegiatan dwi mingguan dari pengurus Bamus Betawi yang di adakan disetiap daerah kecamatan yang puncak acara nya pada tgl 28 November 2019.

Sumber : BAMUS – Kim

DPRK Diminta Lahirkan Qanun Cagar Budaya

Sumber Foto : www.aceh.tribunnews.com

Pegiat sejarah yang juga Kolektor Naskah Kuno, Tarmizi A Hamid mendorong DPRK Banda Aceh untuk melahirkan Qanun Cagar Budaya. Qanun itu penting mengingat Banda Aceh banyak menyimpan situs cagar budaya, seperti batu nisan, situs bangunan, situs benda dan tidak benda.

Kegiatan yang dilaksanakan Sekretariat DPRK Banda Aceh dan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh diikuti 30 anggota DPRK Banda Acehterpilih pada Pemilu 2019.

Pentingnya qanun itu, menurut Tarmizi, agar semua khazanah budaya bisa teridentifikasi dengan baik.

Menurut Cek Midi–panggilan akrabTarmizi, Banda Aceh dikenal dengan daerah yang banyak peninggalan pusaka budaya baik dalam bentuk benda maupun warisan budaya tak benda. Kekayaan ini sebagai titipan leluhur Aceh masa lalu yang belum sempat tergali semuanya.

Atas dasar itu, Tarmizi mendorong DPRK melahirkan qanun cagar budaya. Sebab, apabila membengkalaikan dan menyia-nyiakan bainah (harta warisan), kehidupan akan carut marut karena identitas kedaerahannya kabur.

Sumber : www.aceh.tribunnews.com

Mengenal Jakarta, Mengenal Fatahillah

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta mengadakan Pergelaran Nilai Tradisi Sejarah Fatahillah. Acara yang diselenggarakan pada Minggu, 8 September 2019 ini berlokasi di Kawasan Kota Tua “Plaza Fatahillah”, Jakarta Barat.

Acara ini diadakan dalam rangka pelestarian seni budaya daerah serta pengembangan promosi dan informasi tentang nilai-nilai budaya bangsa. Khususnya adat-istiadat, makanan, serta tata cara upacara adat masyarakat Betawi kepada masyarakat luas.

“Pergelaran Nilai Tradisi Sejarah Fatahillah diadakan dalam rangka pelestarian seni budaya daerah serta pengembangan promosi dan informasi tentang nilai-nilai budaya bangsa. Khususnya adat-istiadat, makanan, serta tata cara upacara adat masyarakat Betawi kepada masyarakat luas,” kata Edy Junaedi, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.

Puncak acara Pergelaran Nilai Tradisi Sejarah Fatahillah ini akan diisi dengan pergelaran drama kolosal tradisional tentang sejarah asal mula kedatangan Portugis ke Batavia. Berkisah seputar perjalanan pangeran Fatahillah melawan penjajah di Batavia dan perannya dalam perebutan kemerdekaan Republik Indonesia.

Drama kolosal yang dimainkan oleh lebih dari seratus lima puluh orang ini menghadirkan beberapa aktor dan tokoh spesial. Diantaranya,  Fatahillah diperankan oleh aktor Umar Lubis , Sunan Gunung Jati oleh aktor Oding Siregar, dan S. Trenggono diperankan oleh aktor Alvian. Selain itu akan ada keterlibatan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Edy Junaedi sebagai bintang tamu.

Sepanjang pergelaran di bawah arahan Teguh Harie Santoso ini dikemas dengan campuran Budaya Betawi dan upacara-upacara ritual lainnya sehingga memiliki nilai historis dalam kehidupan sosial masyarakat Betawi. 

“Kegiatan ini dikemas secara unik dan atraktif, serta mengandung unsur edukatif sehingga diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Supaya dapat mengenal lebih jauh tentang sejarah Jakarta dan Fatahillah itu sendiri,” tutur Edy

Selain dibuka untuk umum, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta secara khusus mengundang tamu-tamu dari kedutaan dan komunitas internasional lainnya untuk memperkenalkan Jakarta dengan segala kekayaan budaya dan historinya.

“Perjuangan Fatahillah merupakan bagian dari sejarah bangsa dalam menggapai kemerdekaan. Pergelaran drama kolosal ini dibuat sebagai bahan pustaka literasi kesejarahan lewat pentas seni,” kata Edy

Pada pelaksanaannya, kegiatan ini melibatkan potensi seniman dan tokoh masyarakat Betawi. Selain drama kolosal, acara yang dimulai sejak pukul 9 pagi ini diisi dengan beragam kegiatan mulai dari icip-icip kuliner Betawi, senam massal, pertunjukan musik gambus, lenong Betawi, Betawi street fashion, silat massal, dan penampilan Keroncong Senja di Kota Tua.

Sumber : Azis