lomba dayung

LOMBA DAYUNG, BANJARMASIN

lomba dayung

Sumber : www.jalansanasini.com

Bagi masyarakat Banjarmasin, Kalimantan Selatan, merayakan kemerdekaan belum terasa lengkap kalau belum ada lomba dayung. Lomba yang selalu diadakan bertepatan dengan HUT RI ini diikuti ratusan peserta yang datang dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan. Lomba dayung biasa diselenggarakan di Sungai Marta Pura. Cara perlombaannya, peserta harus menempuh jarak 500 meter dimana satu perahu diisi oleh 10 orang. Selain memperebutkan hadiah uang tunai, peserta yang menang juga akan memperoleh piala bergilir dari gubernur Kalimantan Selatan.

Sumber : www.jalansanasini.com

 

panjat pinang

Panjat Pinang

panjat pinang

Sumber : indowarta.com

Dalam perlombaan ini, sebuah pohon pinang yang tingg dengan dilumuri dengan pelumas, tentu tidak mudah bagi seseorang untuk memanjatnya. Beberapa kali seseorang mencoba untuk memanjatnya namun gagal dan merosot. Hal ini yang membuat gelak tawa para penonton dan beberapa orang yang mengikutinya.

Arti dari panjat pinang itu sendiri adalah perlombaan memanjat pohon pinang yang sudah melalui proses mulai dari dikuliti dan diberikan pelican, dengan tujuan untuk merebutkan beberapa barang yang sudah digantung diatasnya. Dan biasanya diadakan oleh masyarakat pada saat perayaan Hari Kemerdekaan RI.

Sumber : indowarta.com

obor

Lari Obor Estafet, Semarang

obor

Sumber : www.jalansanasini.com

Lari obor estafet merupakan tradisi yang selalu dilakukan oleh warga Semarang untuk merayakan hari kemerdekaan. Lomba lari ini sudah dilakukan selama 32 tahun dan tetap rutin diselenggarakan sebagai tradisi tujuh belasan. Tradisi ini dilakukan dengan didasari oleh filosofi, bahwa obor merupakan simbol semangat para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Lari obor estafet bisa kamu saksikan pada malam hari di tanggal 17 Agustus.

Sumber : www.jalansanasini.com

lomba

Budaya Menghias Gapura Untuk Lomba 17 Agustusan

lomba

Sumber : rula.co.id

Tiap gang atau komplek di kampung-kampung, di seluruh penjuru tanah air pasti selalu melakukan hal ini, dan bahkan pernah dilakukan perlombaan nasional menghias gapura, lho. Biasanya dikerjakan beberapa minggu sebelum tanggal 17. Ada pula yang sudah mencuri start satu bulan sebelumnya. Ketika membangun dan menghias gapura gang atau komplek mereka, terasa sekali bagaimana kita semua bersatu dengan antusiasme menyambut perayaan yang dirayakan oleh seluruh rakyat Indonesia ini. Tidak mengenal jabatan tinggi di kantor, atau pendidikan tinggi yang setiap warganya ambil, semua kepala keluarga akan turun bergotong royong membangun gapura ini, menghiasnya menjadi indah dan seunik mungkin. Lalu para ibu-ibunya juga turut membantu dengan menyiapkan makan siang dan minuman dan camilan-camilan kampung yang enak.

Sumber : rula.co.id

komodo

Festival Komodo

komodo

Sumber : www.wovgo.com

Festival Komodo merupakan sebuah festival yang bertujuan untuk memperkenalkan semua hal tentang Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. Festival ini akan diramaikan dengan karnaval, pawai budaya, pameran, dan atraksi kesenian.

Salah satu yang paling menarik dari tradisi ini adalah atraksi Tari Caci yang merupakan kesenian khas daerah setempat. Tari Caci merupakan tari perang antara sepasang penari laki-laki yang bertarung dengan cambuk dan perisai.

Sumber : www.wovgo.com

 

lembah baliem

Festival Lembah Baliem

lembah baliem

Sumber : www.wovgo.com

Buat Wovger yang hobi sama hal-hal berbau perang, bisa banget lho nonton festival ini.

Festival lembah Baliem ini awalnya digelar tahun 1989. Dulu Festival Lembah Baliem merupakan acara perang antarsuku Dani, Lani, dan Suku Yali sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan. Festival ini menjadi ajang adu kekuatan antarsuku dan telah berlangsung turun temurun.

Sumber : www.wovgo.com

 

budaya

Berjalan di atas api dengan bertelanjang kaki

budaya

Sumber : www.tahupedia.com

Berjalan di atas api dalam festival Hindu yang berasal dari Tamil Nadu, India Selatan. Mungkin Anda pernah melihatnya di Indonesia, baik itu di film ataupun secara nyata karena memang ritual ini juga ada di Indonesia.

Ritual ini juga secara nyata masih dilakukan dalam festival Nine Emperor Gods yang dirayakan di Penang, Malaysia. Salah satu ritual penyucian mencakup berjalan di atas api dengan bertelanjang kaki. Mereka percaya bahwa api akan membersihkan kenajisan dan melawan kejahatan dari tubuh mereka. Jadi, berjalan di atas api menyimbolkan kekuatan pria dan seberapa kuat keinginannya untuk membebaskan diri mereka dari kejahatan.

Sumber : www.tahupedia.com

 

tatung

Tatung

tatung

Sumber : blog.rumahdewi.com

Salah satu budaya tradisi masyarakat Singkawang adalah kesenian Tatung, yang dalam bahasa Hakka artinya orang yang dirasuki roh, dewa, leluhur atau kekuatan supranatural yang disajikan pada perayaan Cap Go Meh setiap tahunnya.

Seorang Pendeta memimpin ritual pemanggilan tatung yang dilakukan dengan memanggil roh orang yang sudah meninggal dan diyakini merupakan roh-roh baik yang mampu menangkal roh jahat yang akan mengganggu keharmonisan hidup masyarakat, seperti panglima perang, hakim, sastrawan, pangeran, pelacur yang sudah bertobat dan orang suci lainnya, untuk merasuki tatung. Roh – roh baik yang dipanggil itu dapat merasuki siapa saja yang memenuhi syarat dalam tahapan yang ditentukan pendeta di mana para tatung tersebut diharuskan berpuasa selama tiga hari sebelum perayaan Cap Goh Mei.

Arak-arakan Tatung diawali dari Altar vihara setelah para pendeta menyajikan persembahan kepada dewa To Pe Kong dan minta berkah keselamatan. Dengan iringan gendering, para peserta pawai mengenakan konstum gemerlap pakaian kebesaran suku Dayak dan negeri Tiongkok di masa lampau dan melakukan atraksi kekebalan mereka di mana, sesekali mereka harus minum arak bahkan menghisap darah ayam yang secara khusus disiapkan sebagai ritual. Ada yang berdiri tegak di atas tandu, yang dipanggul oleh 4 orang, sambil menginjakkan kaki di sebilah pedang atau pisau layaknya pembesar dari negeri Tionghoa, ada yang menancapkan kawat-kawat baja runcing ke pipi kanan hingga menembus pipi kiri.

Sumber : blog.rumahdewi.com

 

budaya

Ngerebong

budaya

Sumber : panbelog.wordpress.com

Ngerebong sendiri berasal dari kata ngerebong yang artinya berkumpul. Masyarakat setempat percaya bahwa pada hari ngerebong adalah hari dimana para dewa berkumpul. Pusat dari tradisi ini dilakukan di Pura Petilan yang terletak di daerah Kesiman – Denpasar. Biasanya jalan-jalan akan ditutup penuh, mengingat tradisi ini dianggap sakral dan memenuhi jalan serta areal upacara.

Sebelum acara puncak dimulai biasanya masyarakat sudah memenuhi area acara dengan adanya beberapa suguhan seperti alunan musik tradisional, bunga-bungaan dalam tempayan cantik, bebantenan serta penjor-penjor berjejer rapi sepanjang jalan. Masyarakat mengawali upacara ini dengan sembahyang di Pura Petilan tersebut. Suasana semakin riuh ditambah dengan adanya acara adu ayam di wantilan (bangunan menyerupai bale-bale).

Puncak acara dari tradisi Ngerebong ini ditandai dengan penyisiran jalan oleh pecalang (polisi adat setempat). Kemudian para pemedek keluar dari pura untuk melanjutkan ritualnya dengan mengelilingi wantilan tempat adu ayam tadi sebanyak 3 kali putaran. Pada saat mengitari wantilan beberapa pemedek akan mengalami kesurupan/kerasukan dengan berteriak, menggeram, menangis sambil menari diiringi alunan musik tradisional.

Sumber : panbelog.wordpress.com

 

perang pandan

Perang Pandan, Ritual Menghormati Dewa Perang

perang pandan

Sumber : www.benarnews.org

Perang pandan memang bukan mencari siapa kalah atau menang. Ritual ini juga tak boleh dilakukan di luar perayaan Sasih Sembah.

Mekare-kare adalah bentuk penghormatan warga Tenganan terhadap Dewa Indra,” kata I Nyoman Sadra, tetua Tenganan yang juga mantan anggota DPRD Karangasem.

Menurutnya, Tenganan memang berbeda dengan desa-desa lain di Bali. Begitu pula dengan kepercayaan dan ritualnya.

Umumnya, umat Hindu di Bali memuja tiga dewa sebagai manifestasi Sang Hyang Widhi atau Tri Murti yaitu Shiwa, Wisnu, dan Brahma. Namun, bagi umat Hindu di Tenganan, Dewa Indra atau Dewa Perang dianggap dewa tertinggi.

Karena Dewa Indra adalah dewa perang, ritual upacara di Tenganan banyak berupa ritual menyerupai perang. Selain mekare-kare juga ada ritual tanggung-tanggungan, perang saling lempar hasil bumi sebagai bentuk rasa syukur.

Sebagai desa tua atau Bali Aga, Tenganan tidak melaksanakan ritual layaknya umat Hindu umumnya, seperti Hari Raya Galungan, Kuningan, dan Nyepi.

Bali Aga sudah ada sebelum masuknya orang-orang Jawa pada masa Majapahit yang kemudian dikenal sebagai orang Bali saat ini.  Selain Tenganan, Bali Aga lain adalah Trunyan di Kintamani, Bangli dan Sembiran di Tejakula, Buleleng.

Sumber : www.benarnews.org